Terang Rembulan di Paris Van Java
Kota semakin hari semakin panas walaupun bukan siang hari bahkan tidak di musim panas. Bukan musim yang harus disalahkan. Keperdulian dan empati yang luntur membuat segala sesuatu lebih terasa seperti kota di dalam oven.
"Eh, gublok! Minggir!"
"Siah! Aing geh hayang liwat, nying!"
"Kehed maneh! Stnk make duitnya? Ingkah siah!"
Suara klakson saling bersahutan, motor maju sejengkal. Angkutan umum maju setengah jengkal. Arah berlawanan tidak kalah seru. Apalagi kiri kanan? Jalan perempatan yang cukup besar ini cacat rambu lalu lintasnya. Tak ayal, bocah-bocah riang penuh tawa.
"Buat apa susah buat apa susah ... Susah itu tak ada gunanya ...."
"Indit siah! Ngalilieur aing wae."
"Neang duit, Bah!"
"Gawe siah! Keur macet ngamen, geus mah euweuhan deui." Keringat mengalir bercampur coklat dari daki yang selalu diusap dengan punggung tangan. Sesekali spion dalam jadi sasaran. Hatinya berharap, penumpang bertambah!
"Siah! Aing geh hayang liwat, nying!"
"Kehed maneh! Stnk make duitnya? Ingkah siah!"
Suara klakson saling bersahutan, motor maju sejengkal. Angkutan umum maju setengah jengkal. Arah berlawanan tidak kalah seru. Apalagi kiri kanan? Jalan perempatan yang cukup besar ini cacat rambu lalu lintasnya. Tak ayal, bocah-bocah riang penuh tawa.
"Buat apa susah buat apa susah ... Susah itu tak ada gunanya ...."
"Indit siah! Ngalilieur aing wae."
"Neang duit, Bah!"
"Gawe siah! Keur macet ngamen, geus mah euweuhan deui." Keringat mengalir bercampur coklat dari daki yang selalu diusap dengan punggung tangan. Sesekali spion dalam jadi sasaran. Hatinya berharap, penumpang bertambah!
"Eh, lu liat dong pake mata! Mobil ke garet body sampingnya!"
"Biasa aja kali, Koh!"
"Biasa aja gimana? Emang benerinnya gratis?" Kacamata sesekali naik ke atas melalui ujung jari agar tidak jatuh akibat hidung yang tidak cukup tinggi.
"Jangan lewat sini kalau mau body mulus, buat noh jalan tol dalam kota Bandung!" Jaka membuka kaca helm seraya mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuk hampir dekat ke wajah laki-laki di dalam mobil, "Dasar cina pelit, kayak gue goblok aja! Bayar pake asuransi aja mata udah mau copot."
"Apa lo bilang?"
"Apa?!" Jaka sudah siap memutar kunci kontak motor satria putih. Kaki menjejak ke aspal.
"Biasa aja kali, Koh!"
"Biasa aja gimana? Emang benerinnya gratis?" Kacamata sesekali naik ke atas melalui ujung jari agar tidak jatuh akibat hidung yang tidak cukup tinggi.
"Jangan lewat sini kalau mau body mulus, buat noh jalan tol dalam kota Bandung!" Jaka membuka kaca helm seraya mengangkat tangan dan mengarahkan telunjuk hampir dekat ke wajah laki-laki di dalam mobil, "Dasar cina pelit, kayak gue goblok aja! Bayar pake asuransi aja mata udah mau copot."
"Apa lo bilang?"
"Apa?!" Jaka sudah siap memutar kunci kontak motor satria putih. Kaki menjejak ke aspal.
Bersambung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar