Sabtu, 03 Oktober 2015

Emak

Bulan ramadhan ini, cukup sering bermimpi emak. Salah satunya,
Aku sadar emak sudah tidak ada, beliau juga hanya tersenyum.
Beberapa kali aku tanya, "emak baik-baik saja kan? Tidak ada yang sakit?"
Ia hanya menggeleng. Aku seolah-olah sedang membangunkan kembali jasad emak dan emak seperti sadar kalau aku menginginkan itu. Tidak ada percakapan selain hanya kami pergi ke sana kemari berdua dan ia selalu mengikuti kemana pun aku pergi.
Satu waktu saat bermimpi kembali, ada sebuah perkataan yang aku utarakan. "Ikut," setiap kali bermimpi dan berkata "ikut," aku jadi terbangun dari mimpi. Tidak petnah tau jwaban emak apa, mengatakan boleh atau tidak, mengangguk atau menggeleng.
Kalau kebanyakan keluarga bisa bermimpi dengan emak itu dengan banyak macam dialog, atau petuah. Denganku justru lebih banyak diam dan tersenyum. Mengikuti kemanapun aku mau. Tapi tiap kali aku berkata "ikut" keinginan mengikuti emak, selalu mimpi itu berakhir.
Dulu, waktu emak masih ada. Jika aku mimpi diajak pergi sama pengasuhku sejak kecil, tidak pernah mau. Kadang tiap cerita, emak pasti tanya, "terus kamu bilang apa?" Ya aku bilang "engga mau," emak seperti bersyukur dengan jawabanku. Ia akan mengatakan, "syukurlah kamu tidak mau, kalau mimpi diajak pergi sama orang sudah meninggal jangan mau ya?!" Dulu terasa geli jika emak memberikan nasehat itu. Karna mimpi itu sama dengan ajakan mengikuti orang yang sudah meninggal alias aku akan meninggal.
Waktu emak sering sakit, ia selalu mengatakan bermimpi diajak pulang sama orang tuanya, satu waktu oleh teman-temannya yang juga sudah lebih dulu meninggal, tapi ia selalu mengatakan, "tidak, urusan saya belum selesai masih ada anak-anak yang masih membutuhkan saya," kata-kata itu biasanya akan tersampaikan jika emak melewati masa kritis dulu di rumah sakit, esoknya segar bugar seperti tidak sakit. Kenangan menginjakan kaki di RSCM.
Selalu yang masih aku ingat, tiap kali aku bermimpi pengasuh atau teman sekolah yang sudah meninggal selain jangan mau diajak pergi pasti diakhir ia akan mengatakan, "mereka minta doa, cepat ambil wudhu trus doain."
Kerinduan itu bukan letaknya di sebuah kata besar atau kecil tapi berapa jumlah kenangan itu berkelebat menghampiri.

Tidak ada komentar: