Siang di Perpustakaan Kota Sukabumi
Apa yang ada di dalam pikiran seseorang saat datang ke perpustakaan?
Hari ini aku coba menyempatkan untuk mengembalikan buku yang sudah terlambat lebih dari satu minggu. Tidak bisa keluar rumah sesuka hati itu sama dengan siksaan. Bagai terpenjara dalam sangkar emas, begitulah menurut sebuah lagu lawas.
Kalau dilihat, yang datang beragam tapi kebanyakan perempuan dan di dominasi berkerudung. Apakah sebuah kerudung menentukan sebuah hobi? Yang hobi ke perpustakaan pasti memakai kerudung, entahlah! Yang pasti, ada satu hal yang menarik dari semua pengunjung. Sekarang lagi marak pacaran pindah ke perpustakaan, dalam artian kalau kebanyakan mereka yang ke perpustakaan selalu membawa teman misalnya pacar. Tidakkah mereka membaca peraturan? Aku kok kayak yang sirik tanda tak mampu ya?
Dari kecil hobiku membaca, karena di rumah banyak buku bacaan koleksi kakak aku bisa betah menghabiskan semua bacaan itu. Menginjak sekolah menengah pertama, bacaan di rumah sudah tak ada yang baru dan tidak juga bertambah. Jadi larinya ke perpustakaan. Kalau di perpustakaan sekolah, bully bahasa zaman sekarang itu bakal menempel di jidat. Orang tahunya aku tomboy dan suka main. Kalau sudah di rumah, izin keluarnya ya perpustakaan. Sama siapa? Sendiri! Perpustakaan kota Pandeglang. Bisa betah sampe sore cuma buat baca. Bisa bolak-balik pinjem buku tiap hari kalau bacaan yang menarik belum habis. Menginjak sekolah menengah atas masih kadang-kadang ke perpustakaan di sela kesibukan. Sama siapa? Sendiri! Bagiku ruang privat itu adalah perpustakaan dan kamar. Kalau sudah membaca itu tandanya aku sudah save dari berbagai gangguan. Bagaimana jika sedang ada teman? Ya kembali lagi jadi Rini yang biasa mereka kenal.
Aku juga mengenal dunia kuliah, mengenal namanya kesibukan, aktif di kemahasiswaan walau cuma jadi pemndu sorak, hehe ... Dari semua kesibukan itu, aku pasti selalu memiliki waktu dan ruang privat. Untuk apa? Untuk diri sendiri. Ngapain? Baca!
Ke perpustakaan kampus dengan teman pasti sering apalagi teman satu jurusan tapi betah cukup lama ya tidak pernah. Hanya datang cari buku, pinjam trus keluar lagi. Kalau sendirian, aku menyempatkan satu buku habis. Kebiasaan burukku dari kecil tidak suka baca bab 1 lanjut bab terakhir, selessai! Itu bukan baca bagiku, tapi malas. Kalau gak asikk tulisannya, belum selesai bab 1 pasti sudah ditinggal.
Habis buku di perpustakaan kampus, lari ke gramedia. Diliatin satpam bolak-balik liat aku baca gak selesai-selesai. Tapi jangan salah loh, dulu tahun 2002 gramedia bandar lampung ramai sama orang baca yang bisa habis satu buku. Mereka duduk di lantai-lantai gramedia. Asikk dan cuek. Rata- rata memang laki-laki. Nanti di sanalah saya nyempil cari tempat yang nyaman untuk baca, minimal setengah buku lanjut esok hari setengahnya sampai habis. Hiks ... Derita mahasiswa kere!
Satpam itu kadang bikin hati tidak enak, buatku pindah cari alamat perpustakaan kota bandar lampung, lebih besar dan koleksinya lebih buat mata melotot gak sembuh-sembuh. Sama siapa? Sendiri! Tanya alamat sana -sini sampai. Cari tempat paling pojok dan terhindar dari gangguan. Karena tidak semua peserta atau pengunjung paham kalau di perpustakaan itu di larang ngobrol.
Seperti saat ini. Hilang rasaku untuk membaca sampai habis satu buku. Yang terpikir melihat wajah sepasang manusia, berganti ke pasangan lain. Buku yang dicari cuma di gletakin sembarangan di meja. Disentuh, dibuka-buka trus diacuhkan. Mirip kekasih yang sudah kehilangan rasa. Akhirnya berpindah pada layar handphone dengan mulut tak berhenti berbicara. Sesekali yang laki-laki menyandar ke samping kerudung ingin melihat layar handphone milik kekasihnya. Lima centimeter lagi itu bibir mendarat di pipi perempuan, hahaha ... Pikiranku! Astagfirullah....
Dari handphone pindah ke saling pandang dan obrolan semakin seru. Alhasil suara bertambah dan aktifitas dialog berlanjut. Aku tidak berhenti memperhatikannya, kenapa? Hahaha ... Hatiku masih aja iseng.
Kenapa seseorang butuh ke perpustakaan bersama dengan orang lain? Perpustakaan seperti penjarakah jika datang sendiri? Niat yang tersemat itu apa? Apa benar membaca itu bisa lebih efektif jika ada teman? Bukankah akan beralih fungsi peran perpustakaan menjadi cafe nonstop!
"Ah, kau sirik saja, Rin! Makanya pacaran!"
Plakk!!!
Bukan aku tak pernah muda. Aku juga pernah merasakan dekat dengan lawan jenis.
Plakk!!!
Bukan aku tak pernah muda. Aku juga pernah merasakan dekat dengan lawan jenis.
Ada satu cerita yang masih aku ingat. Waktu zaman ngampus. Satu hari pulang kampung ke Banten, sendirian ya.... Tapi perjalanan siang dan ternyata macet. Jauh dari prediksi. Jadi begitu turun bus bakauheuni menuju kapal cemas sampai keringat dingin. Seberani-beraninya aku hidup mandiri tetap saja ada kalanya rasa takut timbul. Sepanjang perjalanan dicari barangkali ada yang aku kenal yang bisa diajak sama-sama pulang. Allah maha pengasih. Ada teman perempuan sesama anggota kopma dia anak bakauheuni tapi pulang rame-rame dengan anak serang. Aku sapa dan kami berkenalan. Gayaku yah gitu. Baju belel, celana kuceul, sendal jepit, tas ransel lusuh berbanding terbalik dengan teman-temannya yang bahkan berdandan. Ahh... Cuek aje beybeh!
"Rin, bareng mereka aja! Tar nyampe serang tengah malam loh, takut kalau sendiri," Reni meyakinkan.
"Oh," sambil lirik sana lirik sini seolah gak butuh padahal butuh.
Untung teman dekatnya meyakinkan akan menjagaku sampai dapat bus di terminal serang menuju rumah. Hehe ... Tertawa dalam hati itu menyenangkan.
"Rin, bareng mereka aja! Tar nyampe serang tengah malam loh, takut kalau sendiri," Reni meyakinkan.
"Oh," sambil lirik sana lirik sini seolah gak butuh padahal butuh.
Untung teman dekatnya meyakinkan akan menjagaku sampai dapat bus di terminal serang menuju rumah. Hehe ... Tertawa dalam hati itu menyenangkan.
Teman dekatnya Reni dua orang laki-laki. Wehhh... Setomboy-tomboynya aku belum pernah dekat sekali dengan cowo sampai jadi sahabat. Walaupun senang dapat teman dan bete karena teman dekatnya selalu ngajak ngobrol tapi satu masalahku selesai. Di terminal mereka menungguku dapat bus. Bela-belain bus mereka pergi. Ternyata salah satu orang jakarta.
Aku sudah dapat bus, salah satu laki-laki itu sudah pulang ke rumahnya di serang. Nah yang satu orang jakarta itu baru ketahuan di kampus, Reni cerita kalau dia nginap di terminal di rumah gubuk seorang pedagang asongan karena tidak ada bus. Jadi berangkat ke jakarta subuh.
Ada rasa bersalah. Tidak enak iya. Tapi gak mungkin bawa ke rumah juga. Aku bisa di gantung di pohon kelapa!
Beberapa minggu lewat, Reni mencariku.
"Rin, kata temanku boleh tidak main ke kostanmu?"
"Aku gak kost, tinggal di mess!"
"Ya ke messmu kalau gitu,"
"Sama siapa?" Nada curiga.
Reni tertawa,"kenapa gak boleh ya? Tenang aja dia cowo baik-baik kok!"
Pikirannya kemana-mana kayaknya nie orang. Aku masih cuek di bawah pohon beringin sambil menikmati pempek kulit.
"Mau dapat bocoran gak?"
"Apaan?"
"Temenku suka sama kamu,"
"Ha???"
"Ah ... dasar cowo baru juga ketemu sekali uda bilang suka, modus!"
"Hush! Sembarangan kamu,"
Sadar temanku tersinggung aku tersenyum untuk menenangkannya.
"Dia suka cara kamu bicara setiap kali diajak ngobrol, selama di kapal empat jam dia ngerasa nyaman ngobrol sama kamu. Oh ... Iya, ingat gak? Kamu sebenarnya sudah pernah mengenal mereka dan aku yang kenalin!"
Ihhhh ... Getol banget nih teman promosiin teman dekatnya. Kenap darimana coba? Alam mimpi kali ye?
"Baru ketemu kemarin itu, ya kamu itu yang ngenalin!"
"Salah!! Ingat tidak, dulu, cukup lama sih ... Di perpustakaan kota Bandar Lampung kita pernah ketemu dan aku bertiga sama mereka. Kamu asikk aja baca sampe gak sadar ada aku. Kalau gak ditegur kayaknya sampe pulang juga gak sadar! Aku kenalin loh mereka juga... Kamu cuma salaman trus cuek bebek lanjut baca. Diajak ngobrol aja cuma bilang oh, iya, iya tah? Udeh gitu doank, inget gak?"
"Rin, kata temanku boleh tidak main ke kostanmu?"
"Aku gak kost, tinggal di mess!"
"Ya ke messmu kalau gitu,"
"Sama siapa?" Nada curiga.
Reni tertawa,"kenapa gak boleh ya? Tenang aja dia cowo baik-baik kok!"
Pikirannya kemana-mana kayaknya nie orang. Aku masih cuek di bawah pohon beringin sambil menikmati pempek kulit.
"Mau dapat bocoran gak?"
"Apaan?"
"Temenku suka sama kamu,"
"Ha???"
"Ah ... dasar cowo baru juga ketemu sekali uda bilang suka, modus!"
"Hush! Sembarangan kamu,"
Sadar temanku tersinggung aku tersenyum untuk menenangkannya.
"Dia suka cara kamu bicara setiap kali diajak ngobrol, selama di kapal empat jam dia ngerasa nyaman ngobrol sama kamu. Oh ... Iya, ingat gak? Kamu sebenarnya sudah pernah mengenal mereka dan aku yang kenalin!"
Ihhhh ... Getol banget nih teman promosiin teman dekatnya. Kenap darimana coba? Alam mimpi kali ye?
"Baru ketemu kemarin itu, ya kamu itu yang ngenalin!"
"Salah!! Ingat tidak, dulu, cukup lama sih ... Di perpustakaan kota Bandar Lampung kita pernah ketemu dan aku bertiga sama mereka. Kamu asikk aja baca sampe gak sadar ada aku. Kalau gak ditegur kayaknya sampe pulang juga gak sadar! Aku kenalin loh mereka juga... Kamu cuma salaman trus cuek bebek lanjut baca. Diajak ngobrol aja cuma bilang oh, iya, iya tah? Udeh gitu doank, inget gak?"
Tembus waktu masa di perpustakaan kota Bandar lampung. Ah iya, pas aku lagi baca serial Oshin! Cerita paling menarik dan menguras jiwa raga! Jelas aja dicuekin, orang lagi di perpustakaan! Siapa juga mau berpikir hal laib selain membaca? Ternyata seperti itulah aku.
Perlu kamu ketahui, bahwa mampu menempatkan diri di tempat saat itu kita berada adalah hal yang baik.
Dari aku datang lihat sana-sini, memperhatikan tingkah laku pengunjung dan beberapa kegiatannya di atas meja panjang saling hadap-hadapan sampai sekarang menulis di handphone ini sekitar 45menit. Kegiatan sepasang manusia itu masih asikk masyuk dengan gandphone dan pembicaraan biasa. Eh, ada acara foto-foto selfie segala. Hahahaha ... Astaga, gue pengen ngakak. Laki-lakinya sok manis dengan senyuman setengah rela. Bersandar di kerudung. Sadar aku perhatikan dengan senyum dikulum setengah ingin ngakak. Sepasang manusia seperti salah tingkah. Tidak lama sudah bergegas memasukan botol minuman ke jaket laki-laki. Handphone ke tas wanita. Dannn ... Mereka pergi! Maaf ya, aku seperti orang kepo dan tidak memiliki rasa malu dengan tetap melihat ke arah kalian. Pengennya sih, menunduk sambil baca trus di dalam hati berzikir. Tapi ya, sayang dilewatkan. Ini seperti sedang nonton sinetron ala-ala Indonesia. Mau negur juga gak enak, aku cuma pengunjung. Semua kembali pada diri masing-masing.
Ayo, niatkan yang baik saat memasuki gerbang perpustakaan. Jika memang mau seperti itu ada baiknya datang ke kafe. The end.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar