Bisikan Rindu
Momiji itu mulai datang, di tempat ini mata berbinar. Haru menelisik sanubari. "Indahnya ... Seindah ketika aku bercengkrama dengan Tuhan di sujud malam yang sepi." Daun-daun hijau yang biasa kulihat kini merah maroon dan mereka memulainya dengan hijau daun yang berubah menguning di ujungnya. Jika di tempatku dulu berdiri, merenung di samping kolam, daun hijau yang menguning akan gugur dan mati.
"Warna-warninya indah dan sangat romantis,"
"Keindahan itu datang dari hatimu, Nong!"
"Tidak, Mak! Ini memang momiji dan satu peak season yang selalu ditunggu-tunggu jutaan bahkan triliunan manusia."
"Momiji tidak akan indah jika hatimu sedang tercabik,"
"Keindahan itu datang dari hatimu, Nong!"
"Tidak, Mak! Ini memang momiji dan satu peak season yang selalu ditunggu-tunggu jutaan bahkan triliunan manusia."
"Momiji tidak akan indah jika hatimu sedang tercabik,"
Terdiam cukup lama dan kebisuan itu menyelimuti relung hatiku. "Mak, aku membawamu ke tempat yang belum pernah engkau datangi untuk apa?"
"Nong, mengganti hati yang baru mungkin itu tujuanmu. Atau ... Mengisi seluruh kenanganmu dengan keindahan yang dunia suguhkan, tapi ingat ... Tetap itu tidak bisa melenyapkan masa lalu."
"Nong, mengganti hati yang baru mungkin itu tujuanmu. Atau ... Mengisi seluruh kenanganmu dengan keindahan yang dunia suguhkan, tapi ingat ... Tetap itu tidak bisa melenyapkan masa lalu."
Tubuh dan ingatanku kaku, tak berani menatapmu. Berharap senyum kepalsuan tidak akan mudah terlihat. Suasana ramai penuh dengan orang-orang yang datang ke tempat ini dengan berbagai tujuan. Mungkin setiap manusia tidak akan ada yang sama tapi satu yang seragam. Ada di tempat ini berharap bahagia dengan memanjakan pikiran dan hati.
Ramai terasa oleh canda tawa kanak-kanak dan keluarganya. Berbanding terbalik denganku yang memilih berpetualang sendirian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar