Wajah Sakura di Cermin Dilla
Bab 1
"Dilla, ayo kamu bisa! Hufh ...
Berpikir keras ... Ayo berpikir keras!” Teriakku dengan lantang.
Jika olimpiade matematika tingkat
nasional saja bisa aku taklukan. Bertahan juara umum di SMA 1 Cimahi dari awal
masuk saja sanggup. Masa iya lomba design yang diadakan Sekolah Tinggi Design Bandung
bagi siswa-siswi SMA saja tidak bisa aku ikuti? Tapi design apa yang bisa
membuat aku menang. Temanya saja ‘design dengan inovasi dan kreatifitas tinggi
menembus dunia international’ berarti bukan perkara mudah. Jika hanya mencari kain
lalu menggambar dan menjahitnya menjadi baju itu hal biasa. Tentunya sekolah
design tidak akan mengadakan lomba ini. Apalagi pemenang tingkat Nasional akan
dipilih 10 orang kuliah dengan beasiswa di Kyoto Seika University.
Hufh!!
Aih, gila lah!!
Pikiran buntunya bukan main. Beasiswa
menggiurkan. Bagaimana tidak, kuliah di universitas terbesar yang sangat
terkenal dengan design dan manga. Bahkan ada museum manga di universitas itu.
Apalagi, univeritas itulah dulu mama kuliah. Aku mau seperti mama dan merasakan
indahnya Kyoto.
Huaaa!!
Jangan sampai kali ini harus kalah dari
Gatra Sembara
juga. Dari sejak masuk SMA aku, Faradilla saingan Gatra untuk mendapatkan juara
umum dan menjadi ambisinya untuk menurunkan peringkatku. Aku tahu Gatra ikut
dalam lomba design ini karena aku juga ikut. Shit! Karya ilmiahnya lolos juga
sama denganku, makanya babak berikutnya Gatra juga mendapatkan kesempatan.
Gatra memang ganteng, idola di sekolah
lagi! Mana ada anak perempuan yang tidak suka kecuali matanya picak. Eits!
Mataku tidak picak tapi ... Hmmm... Menyukai laki-laki sama dengan membuang
waktu masa depanku, itu yang pernah mama katakan. Iya, kalau aku pacaran
mungkin akan seperti teman yang lain dengan nilai turun dan sibuk terus
mengejar laki-laki. Hah! Akan menari pasti si Gatra saat melihat peringkatku
menurun. Uh, usir pikiran ini!
Taman Perumahan Bukit Permata Cimahi ini tidak
juga bisa memberikan setitik ide untukku. Hanya aku sendiri, menatap lapangan
voli yang sepi dikelilingi pohon mangga dengan alas rumput. Kecuali itu, di
lapangan voli menjadi hanya tanah. Rumput disekitarnya tidak dapat tumbuh
akibat injakan pemain voli. Posisi rumput yang kurang baik, ia tidak berada di
tempat yang menguntungkan. Berbeda dengan rumput di luar lapangan, hijau dan tumbuh
subur. Di atas rumput beberapa daun mangga mati berjatuhan dan terlihat
mencolok. Coklat di atas hijau.
Aku raih daun mangga mati. Keras. Dulu
waktu masih sekolah dasar, daun ini dikeringkan untuk kerajinan tangan. Nanti
akan tampak serat-serat daunnya saja. Terlihat indah.
Ya Tuhan!!
Aku ada ide. Daun ini harus aku
kumpulkan.
"Dilaaaa!!" Rara dan
teman-teman lainnya dari kejauhan menghampiri sekaligus mengagetkan. Aku
bergeming, dan tetap memungut daun.
"Aih, sombong loh ... Diam aja!
Lagi ngapain?" Tanya Rara ikut membungkuk.
"Lagi mencintai lingkungan!"
Jawabku sekenanya.
Suasana berubah tawa ketika Rara
cemberut karena penasaran.
"Ayo, kalian bantu aku! Kita
kumpulkan semua daun mangga kering ini di satu tempat."
"Tunggu, aku ambil sapu dulu!"
Rara setengah berlari mendekati rumahnya tepat di depan lapangan.
"Jangan!" Seruku dengan cepat.
Gawat, bisa rusak daunku mana susah dapat idenya.
"Lah, kalau mau mencintai
lingkungan ya disapu dong?" Rara tampak masih belum paham.
"Aku mencintai lingkungan makanya
mau bersihin nih lapangan, tapi juga butuh daunnya utuh tanpa rusak sama sapu.
Ngerti?" Rara
hanya tersenyum sekalipun tampak ia masih kurang paham. Tapi memang begitu
sifatnya, selalu penurut. Apalagi jika aku yang minta. Sifatnya memang tidak
pernah mendominasi bertolak belakang denganku. Sejak kecil aku sudah menjadi
pemimpin bagi mereka dan tidak ada yang sanggup protes karena aku satu-satunya
yang mengajari mereka belajar. Hanya saja dari teman satu perumahan ini, aku
sendiri yang lolos di SMA favorite lainnya di SMA 2 dan 3. SMA 1 tidak
mengandalkan Nem untuk masuk tapi melalui ujian saringan kembali, itulah
mengapa banyak murid yang menginginkan sekolahku.
Daun yang sudah kering dibersihkan dan
dibawa ke rumah untuk direbus dengan campuran soda api yang sebelumnya aku
minta Rara untuk membelikan. Rara dan teman-teman sangat menikmati ide yang
sedang aku lakukan. "Dilla, ayo kita ambil daun hijaunya juga sekalian
biar banyak dan tidak perlu mengumpulkannya lagi selama beberapa hari!"
Rara dengan semangat meraih tanganku.
"Jangan! Hijau daun membutuhkan
proses lebih lama. Itu tidak akan efektif, lebih baik tunggu besok sore kita
kumpulkan lagi."
Saat rebusan daun sudah kecoklatan dan
sudah tidak ada yang mengambang ketika direbus, aku diamkan daun dalam panci
sampai airnya dingin.
Hari sudah gelap tapi mama masih juga
belum pulang.
"Ma, kok belum pulang?" tanyaku di Handphone.
"Mama masih sibuk ya sayang ...
Tidak usah ditunggu, tidurlah duluan."
"Tapi ada yang mau Dilla bicarakan,
Ma!"
"Nanti jika sudah tidak lembur ya," Telpon dimatikan
Mama tanpa peluk cium yang biasa kami lakukan.
Hufh!!
"Dilla, ini sudah dingin mau diapakan
lagi?"
"Kalian pulang ya, sudah
malam!"
"Yaaa ... Kita masih asik
lohhh!"
"Baik, sampai proses pemutihan
selesai kita sudahi ya!"
"Siappp!" Serentak bagai
paduan suara. Hatiku masih sedih mama masih berkutat dengan pekerjaannya tapi
ada teman-teman yang cukup menghibur.
Air rebusan soda api dibuang dan diganti
dengan air bersih lalu berganti dengan air rendaman kaporit. Besok pagi baru
bisa dibuang dan dibersihkan daun dari kaporit.
***
"Dillaaaa!!" Teriak mama
menghancurkan mimpi indahku. Gatra mendadak berubah menjadi pangeran kerajaan
inggris. Zzzz... Mama mengagetkanku!
"Sekalian pakai toak, Ma!"
"Sopan sama mama!"
"Maaf, Mama mengagetkan Dilla. Tumben
belum berangkat kerja?" kelopak mataku masih menempel atas bawah, gosok-gosok biar jelas kalau pagi
ini aku memang melihat mama.
"Ini gara-gara kamu, Mama jadi belum
berangkat. Kekacauan apa yang kamu buat di dapur? Bagaimana mau masak?"
Tanya mama dengan setengah melotot.
"Dilla mau cerita sama Mama, makanya
kemarin telpon!" Aku dengan gemas coba menjelaskan.
"Ah, sudah. Mama sudah kesiangan,
kamu makan di sekolah saja trus pulangnya beli lauk di warteg ya! Mama berangkat
...." Dengan cepat mama menuju motor matic menembus dinginnya waktu subuh
di Kota
Cimahi.
Mama benar-benar tidak memberiku
kesempatan untuk bicara. Rasa geram memenuhi hatiku. Tanpa sadar kaki kanan menendang
kursi makan dari besi minimalis. Aku muak dengan mama! Apa mama akan mencari
jika aku tenggelam ke dasar bumi ini? Sungguh menggelikan jika pekerjaan itu
adalah seorang anak maka aku adalah anak tiri mama. Andai aku masih punya papa,
maka aku tak akan merasa kehilangan mama. Untuk apa mama harus bekerja seperti
itu jika waktu denganku tak ada? Apa aku butuh uang sebanyak itu?
Hari libur. Anak kelas 12 try out pertama, pemanasan menghadapi
ujian bulan Mei nanti. Masih lama sih, tapi sekolahku sangat ketat dalam hal
ujian. Itulah sebabnya lulusan sekolahku mencetak murid-murid berprestasi sekota
Bandung-Cimahi. Kesempatan untuk mengumpulkan daun mangga lagi dan membersihkan
daun yang sudah direndam kaporit untuk diganti dengan rendaman hypoclorit agar
hasil daun terlihat lebih putih bersih tak hanya daun tapi tulang tengah daun
dan lebih lemas.
Aku berlari ke arah lapangan untuk
mencari daun mangga kering. Terdengar sms, "Eh sipit!
Udah selesai belum tugas designnya? Jangan buat karung goni ya? Kan nggak seru
kalau aku menang tanpa kompetisi!"
Rrrggghh!!
Gatra menyebalkan! Dengan cepat reply kusentuh.
"Karung goni Mbahmu! Sekalian aku bikinin
koteka buatmu!" Balasannya hanya emo ngejek dan muntah. Hmm ...
Ganteng-ganteng tengil.
Coba pikir, siapa yang berani berurusan
dengan Faradilla? Cantik, pintar, prestasi saja segudang, semua orang
menyukaiku! Cuma orang tengil itu saja, Gatra tukang gara-gara!
"Dilla, kamu nggak sekolah?"
Reiny menghampiri dengan sekotak daun mangga kering.
"Ada Try Out di sekolah, eh itu dari mana?" Aku bingung, di
lapangan belum ada yang bersihkan.
"Kamu lupa ya? Di rumahku kan ada
pohon mangga juga, jadi pas ibu mau nyapu halaman aku menawarkan diri
membantunya!" Reiny tertawa saat menceritakan ibunya lebih kaget melihat
Reiny mau membantu menyapu.
"Keren kamu! Ayo sekarang bantu
yang ini?"
"Aku sekolah, kan kita beda
sekolahannya? Bye ...." Reiny berlalu tanpa menghiraukanku dengan wajah
tak berdaya.
Yah, sendiri lagi deh!
***
Mama masih tetap sama dan aku ingin
menangis sekencang-kencangnya! Aku butuh mama. Tugas design ini menyulitkanku,
kalau saja mama ada di sini membantuku pasti semua ini akan terasa mudah
sekalipun hanya melihat dan menemani. Justru teman-temanlah yang melakukan
semua ini bersamaku. Rumah sengaja aku buat berantakan pun sekarang jadi no coment. Tiap telepon pasti sedang
rapat dan kalau telpon balik aku sedang tidur atau handphone sedang jauh dari
jangkauan.
"Eh, sipit! Kalau mau menyerah
kasih tahu ya? Jadi aku bisa pamer hasil karyaku sebelum dilihat juri! Keren kan?
Aku mah gitu!" Sms Gatra mengagetkanku. Hampir saja saat menjahit furing baju aku tetap waspada walaupun
ada sms dari Gatra, kalau tidak jari pasti sudah tertusuk jarum mesin!
"Ngarep! Dari awal sampai akhir
jangan harap bisa mengalahkanku!" Aku lempar handphone. Mengganggu saja!
Besok pagi hasil karya sudah harus dikumpulkan dan malam ini masih juga aku
kerjakan.
Mamaaaaa! Pulanggggg!
Ingin menangis, tapi pekerjaanku tidak
selesai.
Hufh!
Aku mencoba pemanasan, berlari kecil,
menyanyi, berdiri di depan kaca. Aku pintar, cantik.
Aku memiliki rambut panjang hitam mengkilat. Langsing dengan kulit
kuning langsat. Siapa yang tidak suka? Ada gingsul yang membuatku terlihat
manis saat tersenyum. Dan tahi lalat di dagu kiri. Perpaduan yang ciamikkk!
Ayo! Semangat!
Menjahit di malam hari bukanlah hal yang
mudah apalagi jika mata sudah mengantuk. Sesekali tidur lalu bangun dan mencuci
muka. Menjahit kembali sampai tak terasa adzan subuh terdengar. Mama belum
pulang? Aku cari handphone, ingat-ingat dimana terakhir kali aku menggunakannya.
Oh, kulempar saat sms Gatra tadi malam.
Kemana ya? Keranjang daun kering! Di sana mahluk dingin yang bisa berbunyi itu berada. Ternyata,
baterai dan handphone sudah terpisah akibat lemparan itu. Saat menyala, sudah
banyak laporan yang isinya "Sayang, mama tidak bisa pulang karena lembur
dan terlalu larut untuk memaksakan diri. Maafkan mama ya sayang?"
Horeee!!
Mama sukses buat moodku kacau!
Iya, sekalian nggak usah pulang-pulang
lagi biar yang sampai uang. Aku nggak butuh mama. Benci mama! Aku menangis
sejadinya. Takut gagal.
Uring-uringan. Menendang sampah sampai
berterbangan. Tidak selesai! Matahari mulai bersinar. Apa yang harus aku
lakukan!
Tidakkk!!
Teriakku sekenyang-kencangnya. Masuk
kamar mandi, aku pukul-pukul air di bak mandi dengan gayung kosong.
Seharusnya ada mama! Mama tahu bagaimana
menyelesaikannya! Mama lebih ahli!
Lelah membuatku terduduk menyandar di dinding bak mandi,
menangis memanggil papa.
Diam mengatur emosi. Aku tidak boleh
lemah. Tidak boleh kalah sebelum berperang. Biarlah hasil menjadi urusan nanti.
Sekarang selesaikan semampuku. Mencoba menyelesaikan apa yang sudah aku
kerjakan, jika memang tidak sebagus yang diharapkan biarlah! Yang penting aku
sudah berusaha. Sebelum berangkat sekolah aku mencoba membereskan sisa-sisa
sampah kotoran dari daun yang tidak terpakai.
Apa itu?
Di kotak sampah kenapa ada tisu
berdarah? Aku tidak kena jarum. Apa teman-teman ada yang terluka ya? Tapi tidak
ada yang mengatakannya semalam. Tisu itu sudah kering darahnya, apa mama
mimisan seperti dulu? Ah, tidak mungkin. Mama sudah sembuh.
Smsku sukses, hari ini aku di antar orang tua Rara ke sekolah
memakai mobil agar tidak sulit membawa hasil karyaku.
"Makasi ya, Om! Jadi
ngerepotin," kataku sungkan. Aku sadar selalu merepotkan mereka dan ini
bukan pertama kalinya.
"Kamu sudah seperti anak Om dan Tante juga,
apalagi Rara selalu diajari banyak pelajaran. Sudah jangan bilang gitu lagi
ya?" Mama Rara menyaut sambil membantu meletakan baju di pangkuanku.
"Iya, Tante." Kami
berlalu tanpa Rara karena beda sekolah.
Ruang penjurian sudah penuh. Tak hanya
kelima juri yang di antaranya dosen Fakultas Design Kyoto Seika University, dosen dan dekan
Sekolah Tinggi Design Bandung. Serta dua designer dari Indonesia dan Jepang.
Guru-guru ikut menjadi penonton beserta siswa-siswi lainnya. Ada juga guru-guru
yang mengantar perwakilan dari sekolahnya masing-masing karena penjurian ini
tidak hanya untukku dan Gatra tapi juga murid lain yang karya tulisnya lolos
dari beberapa SMA seJawa Barat.
Design milik siswa SMA lain bagus-bagus. Gatra juga sempat
membuatku mengalami serangan jantung. Ia membuat baju pesta malam dari bungkus
kopi bahan plastik dan tampak berkilau. Cukup membuatku berdebar-debar.
"Kepada saudari Faradilla dari SMA 1 Cimahi silahkan
demo hasil karya."
"Perkenalkan nama saya Faradilla siswi kelas 11.
Bersyukur bisa sampai babak ini setelah karya tulis saya masuk nominasi. Babak
ini mengambil tema design dengan inovasi dan kreatifitas tinggi menembus dunia
international. Sempat membuat saya bingung dan berpikir keras. Butuh design apa
yang bisa mendunia? Awalnya saya hanya seorang siswi pencinta lingkungan yang
berharap dari daur ulang tanaman tidak hanya menjadi kompos tapi juga memiliki
nilai seni tinggi dan daya jual mahal. Maha karya yang tak sembarangan. Dengan
waktu yang terlalu singkat karena baru menemukan ide justru beberapa hari
kebelakang...."
Ada perasaan bahagia saat baju milikku
dengan tema "putih itu bersih dan indah" sanggup memukau para juri.
Bahkan juri designer dari Jepang membuka mulutnya membentuk huruf "O" cukup
lama. Aku tidak tahan ingin tertawa.
Juri dosen dari Kyoto Seika University
mendekati temanku yang memakai baju daun mangga.
"Ini bukan kain yang dibentuk daun?
Lembut!" Dengan aksen Jepang yang sangat kental.
"Bukan, ini daun dari pohon buah
mangga."
Aku menunjukan meja demo. Daun kering
buah mangga. Panci isi daun rebusan soda api. Panci isi daun rendaman air
bersih. Panci isi daun rendaman kaporit. Panci isi daun rendaman air bersih. Panci
isi daun dengan hypoclorit. Panci isi daun rendaman air bersih dan terakhir
daun yang sudah berwarna putih yang sudah dikeringkan.
Demoku berhasil membuat para juri
bertepuk tangan dan berjabat tangan. "Tunggu, daun ini kamu jahit dan disatukan
dengan furing?" Tanya designer dari Indonesia.
"Iya, hypoclorit membuat daun
menjadi putih dan lemas. Jadi tidak sulit untuk menjahitnya tapi harus
pelan-pelan dan memberi jarak jahitan lebih lebar dari biasanya kain agar tidak
mudah rusak."
"Ini butuh kesabaran yang tinggi,
menyusun tiap helai daun menjadi barisan yang rapi dan menumpuk tersusun dari
atas ke bawah. Hebat!" Dosen Sekolah Tinggi Design Bandung memujiku saat
menghampiri baju dari daun mangga.
"Ini bisa dijadikan pakaian
pengantin ya? Tinggal mempercantik dengan bunga," designer dari Jepang
menambahkan dengan antusias.
"Kalau design ini lolos sekarang
dan ditampilkan di acara peragaan busana pada malam penobatan, harus kamu
percantik dengan accesories yang lebih keren ya?" Dekan dari Sekolah
Tinggi Design Bandung menimpali seraya mendekat untuk berjabat tangan.
Tak adakah yang menyadari, kebahagiaan
ini membuat tubuhku bergetar!
Mama!! Aku bahagiaaaa....