Kamis, 26 November 2015

Cara Cepat dan Sehat Membuat Baso di Rumah

BASO IKAN

Bahan:

4 tenggiri ukuran sedang dengan berat sekitar 1kg lebih secara keseluruhan
1 tongkol dengan berat sekitar 1 1/2kg lebih
1/2 kg tepung kanji
1/2 kg tepung sagu
2 telor ayam
3 benggol bawang putih sekitar satu mangkuk
10 sendok makan garam
5 sendok makan Merica
2 bungkus Es batu ukuran plastik setengah kilo

Cara membuat:

Ikan dibelah ambil dagingnya (kepala, tulang, kulit) digiling dengan es batu bisa menggunakan blender. Bawang putih, merica dan garam dihaluskan. Satukan daging ikan yang sudah digiling, bumbu, telor, tepung kanji dan sagu secara bertahap agar menghasilkan adonan yang pas dan bisa dibentuk dengan memakai tangan.

Siapkan panci berisi air yang sudah mendidih untuk merebus baso. Cetak adonan baso memakai tangan seperti gambar, masukan ke dalam air mendidih menggunakan sendok makan. Biarkan baso sampai mengambang, angkat dan tiriskan.

Adonan baso ambil 1/3 bagian bungkus menggunakan lumpia lalu kukus, jika sudah matang siomay siap disajikan bersama baso.

Baso dan siomay menghasilkan kurang lebih sekitar seratus buah, bisa untuk jualan. Jika untuk jualan silahkan tambahkan tepung lebih banyak lagi sesuai kebutuhan dan penyedap sekitar satu sampai dua ons ke dalam adonan baso san bumbu ditambahkan untuk penguat rasa.

Jika untuk dikonsumsi sendiri bersama keluarga, baso dan siomay akan tahan lama disimpan dalam kulkas. Setiap kali mau dikonsumsi langsung di rebus.

Menurut ibu Lilis Kurniasih, ahli gizi di Puskesmas Cipelang Sukabumi baso sehat dan mudah bisa dibuat oleh ibu-ibu di rumah tanpa harus menggunakan borax, bahan kimia pengenyal dan pengawet. Cara mensiasati agar kenyal cukup dengan menggunakan es batu saat menggiling dan gunakan tepung sagu selain tepung kanji. Baso bisa tahan lama selama beberapa hari di dalam kulkas san di frezer untuk jangka waktu cukup lama. Baso ikan yang dibuat sendiri akan tampak sama seperti baso daging dipasaran, tidak terlalu putih bersih karena tanpa zat kimia pemutih. Selain itu baso ikan tidak akan putih bersih karena menggunakan tepung sagu dan ikan tongkol.

Bagi penyuka baso, bahan dasar ikan tidak kalah dalam rasa dengan baso daging. Tapi jika menginginkan baso daging, ikan bisa diganti dengan daging sapi yang sudah digiling di pasar. Giling ulang dengan menambahkan es batu.


KUAH BASO

Bahan: air secukupnya, bumbu yang sudah dihaluskan dan ditumis (merica, garam, dan bawang putih), kaldu balok, penyedap sesuai selera.

Semua bahan direbus lalu disajikan jika sudah matang. Tambahkan sayuran dan mie sesuai selera. Seledri cincang dan bawang goreng sebagai penambah rasa. Baso akan jauh lebih enak dari biasa beli jadi dan lebih sehat.

Cara membuat sambal, cabe cengek direbus lalu dihaluskan dengan sedikit garam. Tambahkan air kuah baso ke dalam sambal.


Cara baso dicetak menggunakan tangan
Adonan baso
Baso isi cabe cengek/rawit
Baso setelah ditebus
Siomay sebelum dikukus
Siomay matang siap disajikan atau siap digoreng jika suka siomay goreng
Kuah baso yang sudah dibumbui
Baso siap disantap

Senin, 09 November 2015

DILEMA MEMBERI HUTANG

Dilema Memberi Hutang

Dulu aku pernah minta pendapat ketika sudah menikah, masalah ngutangin orang. Jika masih single ya kasih-kasih aja. Tapi pertanyaan itu kembali padaku, "terserah, itukan uang hasil kerjamu. Tapi kalau mau minjemin liat orangnya dulu, bisa dipercaya atau tidak? Bisa bayar atau tidak? Jangan lupa, orang yang memberi hutang tidak bisa dikategorikan dermawan justru kebanyakan merusak silaturahim. Kalau orang sudah bersuami, tanya apa suaminya tau? Kalau tidak bekerja, pikirkan bagaimana orang tersebut akan bayar?"

Perkataan itu diperkuat saat emak dulu pernah berkata, "hidup jangan banyak gaya, sesuaikan segala sesuatu tepat porsinya. Jika hanya mampu membeli sedikit ya beli seadanya. Jangan segala sesuatu ingin diraih tanpa kemampuan. Bisa punya ini dan itu tapi utang banyak juga buat apa? Hanya membuat hidup tidak tenang. Jadi jangan coba-coba berhutang kalau kerja saja belum!" Entah siapa waktu itu yang kami bicarakan tapi dari kata-kata itu aku kecil jadi lebih hati-hati dalam berhutang dan lebih takut menggunakan uang orang lain tanpa tahu bagaimana cara membayarnya.

Aku tahu punya kelemahan tidak tega jika melihat orang yang kesusahan, jadi setiap ada orang yang berhutang pasti dikasih. Tentu ada syaratnya. Ditanya, tau tidak suaminya jika berhutang? Kalau tahu baru aku kasih dan itu juga tidak banyak karna tidak membiasakan memberi hutang kelewat sesuai kemampuan orang itu membayar. Klau suaminya tidak tahu dan ia akan memberikan penjelasan sedetail mungkin tentang suaminya, aku akan tersenyum dan cukup memberinya uang lima puluh ribu. Uang ngasih bukan utang dan bilang tidak ada uang, lagi kosong. Dosa ya berbohong? Akan lebih berdosa lagi jika nanti suaminya tahu kalau istrinya suka meminjam ke sana kemari tanpa sepengetahuannya dan tali silaturahim berantakan.

Aku juga kadang meminjamkan uang ke teman kerja, karna mereka berumah tangga dengan banyak pengeluaran dan ada gaji untuk bayar jadi tidak masalah bagiku.

Anehnya, di zaman sekarang kegemaran berhutang seperti penyakit menular yang dibiarkan tanpa diobati. Misal, gemar berhutang tapi tidak gemar membayar. Suka berhutang tapi tidak suka bayar hutang.  Padahal hutang yang belum terbayar itu akan menjadi penghambat saat kita menjadi mayat. Tahukah kamu jika keluarga yang akan ditanya saat mayat mau dikuburkan? "Apa sudah beres urusan hutang piutangnya selama di dunia?"

Hal yang masih aku temukan saat ini, orang pinjam uang sampai nangis, mengeluh ini dan itu. Saat ditagih, maaf belum ada. Bulan depan ditagih lagi, maaf kirain bulan depan. Bulan depan ditagih lagi, kata-katanya berisi keluhan "saya lagi ada masalah di kantor, mana belum bayar cicilan rumah, cicilan mobil, bayar kuliah adikku ...."
"What!?" Kemana keramahan waktu meminjam uang? Kenapa saat meminjam tidak mengatakan soal segala macam cicilan dan tek-tek bengek masalah kemewahannya? Aku tidak merasa ingin meminjamkan uang pada orang yang punya kehidupan lebih baik. Jika sudah begini apa tidak justru merusak tali silaturahim? Tiap dibbm hanya diread.

Biasakan untuk dermawan dan rasa kasihan pada tempatnya. Jangan meminjamkan dengan niat mengambil keuntungan. Lihat kemampuan orang itu untuk membayar. Pinjamkan alakadarnya atau semampu orang itu membayar. Niatkan meminjamkan uang dengan sedekah, agar satu waktu orang itu tidak memiliki kemungkinan untuk membayar maka hutang itu sudah beralih sebagai sedekah agar dalam hati tenang tidak memikirkan soal hutang yang belum juga dibayar-bayar.

Minggu, 08 November 2015

Seblak Picung

Bahan:
1/4 kg picung
1/2 sndk teh garam
1/2 masako/penyedap rasa
5 butir bawang putih
2 butir kencur
8 cabe cengek merah
Minyak kelapa untuk menumis
Air secukupnya

Cara buat:
Cuci bersih daging buah picung, tiriskan. Haluskan bumbu, bawang, kencur dan cabe. Tumis bumbu dengan minyak, masukan garam dan penyedap. Bumbu tercium harum masukan picung sampai menyatu baru masukan air. Tunggu sampai matang dan harum, air sudah kental, angkat dan hidangkan.
Mudah bukan?

Sebelum saya membuat seblak picung, saya sudah kaget, apa ini kok rasanya seperti kacang tanah ditebus? Dan pertanyaan itu berujung ledekan dadi seorang kakak. Picung makanan orang banten dan kami sudah biasa memasaknya. Kok saya tidak tahu? Karna saya hanya ingat dulu picung sering dipakai untuk membalur daging ikan yang sudah lama. Orang-orang di pasar ikan sudah biasa menggunakannya untuk mengawetkan ikan.

Ternyata picung juga enak dimakan sebagai pengganti sayur. Biasanya dimasak dengan cara ditumis. Bumbunya: cabe, bawang merah, bawang putih, kencur, kemiri, tomat, garam dan gula. Semua bumbu dihaluskan kemudian ditumis campur dengan picung.

Picung juga bisa disebut kluwek atau kepayang, kepahiang, panarassan. Bahasa ilmiahnya pangium edule reinw. Ex Blume, suku Achariaceae, dimasukan dalam Flacourtiaceae, pohon yang tumbuh liar atau setengah liar. Biji seting dipakai bumbu dapur tapi beracun jika dikonsumsi mentah karena mengandung asam sianida dalam konsentrasi tinggi. Efek samping bisa membuat pusing, mabuk dan muntah. Beberapa biji dipakai untuk racun anak panah. Biji aman dikonsumsi jika sudah direbus dan ditendam lebih dulu.

Picung adalah kluwek muda sebelum diproses menjadi bumbu dapur. Picung buah kluwek yang masih muda berwarna putih. Buah kluwek akan dibiarkan jatuh dari pohonnya dan membusuk agar menghilang racun asam sianida yang terkandung didalamnya.jika sudah membusuk kulit dan serabutnya akan mudah mengelupas dari biji. Jika dibuka biji akan terlihat putih dan ini disebut picung, agar menjadi kluwek perlu proses lagi menjadi hitam gunanya untuk bumbu seperti sup konro, rawon, dan beberapa sup lain yang kuah sayurnya terlihat hitam dan enak dilidah. 

Cara membuat kluwek menjadi hitam, cuci, rebus, keringkan. Masukan kluwek dalam wadah tutup dengan abu sekam. 15 hari kemudian cuci dan kluwek siap dipakai menjadi bumbu. Atau, kluwek cuci, rebus dan keringkan. Masukan ke dalam tanah tutup dengan daun pisang selama 40 hari. Jika sudah siap, cuci bersih dan bisa langsung digunakan.

Sabtu, 07 November 2015

Kisah Masa Kecil 1

Aku Anak Sapi

Hehehe ... Sekilas itu hanya kiasan saja, kalau pun benar pasti aku ngomongnya "Moooooo ...."

Kadang jika ada status lewat trus mengatakan, "Anakku anak Asi" ada sih rasa ngiri tapi mau bagaimana lagi? Keadaan memang mengharuskanku minum susu sapi. Kalau tidak minum susu sapi trus minum apa? Apalagi aku disebut anak segede botol jika waktu kecil aku nakal. Intinya, aku hidup saja sudah bersyukur toh allah tidak menjadikanku memiliki kemampuan berpikir mirip sapi. Sisi kemanusiaanku tetap paling dominan. Trus kemana asi yang seharusnya milikmu? Itu bukan bagianku untuk memusingkan sesuatu yang sudah tidak penting lagi. Saat ini yang harus dipikirkan bagaimana baiknya sekalipun anak susu sapi tapi berpikir dan berhati sebaik-baiknya manusia.

Karena aku anak susu sapi, mungkin. Aku kecil sakit-sakitan. Panas batuk pilek, yeah ... Penyakit anak-anak, mungkin mereka anak Asi tidak pernah panas batuk pilek, ya ... Bersykur saja. Allah menentukan jalan hidup manusia sesuai dengan yang sudah ditakdirkan ....

Saat sakit itu biasanya Emak meminta Bapak membawaku ke mantri, zaman dulu belum banyak dokter. Kebanyakan perawat yang menjadi mantri. Aku pelanggan setia semua mantri di kampungku, hehehe ... Jadi waktu sudah buka pintu karena ada asalamualaikum trus yang di liat Pak Mantri itu aku yang digendong, ia akan tersenyum, saking sudah hapalnya. Satu waktu bosan bolak balik ke mantri, ditest pake bodrexin. Ternyata manjur! Obat enak dan ajaib. Tapi itu khusus untuk panas ya... Sampai lulus sekolah dasar jadi pelanggan Pak Mantri. Salah satu mantri yang aku suka, Mantri Sulaiman. Baik dan menyenangkan. Anak kecil sudah bisa menilai seorang mantri, hehehe ... Tapi ternyata memang beberapa tetangga lebih suka dengan beliau.

Kebetulan Emak dan Bapak PNS, pekerjaannya mengharuskan aku dititip sama pengasuh. Jadi setiap pagi aku dibawa ke rumah pengasuh, pulang kerja diambil. Dari bayi sampai mulai sekolah. Selama itu mengalami dua pengasuh. Satu, saat masih bayi. Waktu itu rumah masih di daerah Ciherang. Aku dititipkan di rumah tetangga kakak, daerah Tenjolaya. Aku tidak ingat jika dengan pengasuh yang ini. Taunya sudah besar saat sering main ke Tenjolaya dikasih tau siapa yang mengasuhku saat bayi.

Rumah pindah ke daerah namanya Kadupandak. Ganti pengasuh karena jauh, namanya ibu Anom. Rumahnya tepat dibelakang rumahku. Kehidupannya cukup memprihatinkan, jadi saat ditanya mau tidak mengasuh, ia langsung mau. Sebenarnya semua tidak ada yang suka aku diasuh sama beliau (alm) bukan karena apa. Rumahnya masih tanah, aku ingat saat itu jika sudah ada di dalam rumah dibiarkan duduk di tanah karena rumahnya belum ada tegel/keramik. Aku biasanya mencari undur-undur. Anak kecil apalagi yang dikerjakannya jika di tanah? Anak-anaknya cukup jahil. Jadi aku pulang sering penuh dengan tanah di rambut. Jadi siapapun yang pertama mengambilku dari pengasuh langsung dibawa ke kamar mandi. Saat itu seperti berada di dalam ruang penyiksaan. Wkwkwk ... Lebay! Aku sangat takut dengan air gara-gara ini. Kamar mandi yang lebih luas dari kamar kost itu cukup buatku lari ke sana kemari demi tidak mandi. Masalahnya kalau mandinya seperti anak zaman sekarang. Duduk dalam baskom atau ember trus main air, lagi lucu2nya anak-anak seru juga kali ya? Bayangin ... Aku mandi diguyur! You know "diguyur"? Air dalam gayung gede langsung mendarat di kepala sampe mengap-mengap tidak bisa napas. My god ... Aku lari ke sana kemari ketakutan sambil nangis. Memang itu cara tercepat untuk mandi dari kebauan yang tidak terhingga. Toh aku juga jijik jika ada anak bau dan jorok. Tetep ... Jika liat mandinya anak-anak sekarang sampe ada bebek-bebekan itu bikin ngiri. Wkwkwk ... (Trus skrg mau mandi di atas baskom trus kasih bebek gitu? Wkkwkwk ... Abaikan!) Jika mengingat ini, aku jadi selalu kangen dengan Emak.

Kisah Masa Kecil 2

Emak atau Bapak

Jika ditanya aku lebih dekat sama siapa ya dua-duanya dekat. Hehe ... Emak suka bercanda jadi setelah dewasa ini kami sering bercanda dan bercerita hal-hal yang lucu atau menjadi pendengar yang baik bagi emak.

Aku kecil justru lebih dekat sama bapak. Kemana-mana aku pasti ikut. Bahkan aku mengalami main di kantor kejaksaan dan beberapa kali main ke rumah teman bapak. Selalu ikut ke Ciamis tiap bulan sama bapak. Waktu itu gajinya harus diambil di sana, di kota kelahiran. Aku mengenal hampir seluruh keluarga bapak dan sejumlah kenangan di kota itu. Aku juga suka ikut memancing ke balong/kolam ikan. Hobi bapak yang tak pernah hilang.

Kalau lihat dari latar belakangnya, di Ciamis itu hampir setiap rumah punya kolam ikan bahkan kedalamannya sanggup menenggelamkan anak kecil. Ada anak kecil tetangga, teman bermain, adiknya meninggal karena tenggelam tidak ketauan. Tau-tau sudah ngambang. Sedih jika ingat itu, tapi main ke Ciamis itu menyenangkan walau sempat buat bapak bete. Pandeglang Ciamis zaman dulu itu seharian. Berangkat pagi datang malam, jika beruntung sore sudah sampai. Jika bapak tidak ketiduran kami tidak harus kebablasan. Hehehe ... Bapak doyan tidur di bus dan itu menular padaku.

Pada saat di ciamis itu, aku akan ikut saudara di sana main ke kolam keluarga, jalan-jalan walau jauh itu cukup menyenangkan. Aku kecil bahkan sudah melihat kecanggihan keluarga bapak menempatkan kandang ternak ayam di atas kolam ikan. Rasa penasaranku di waktu kecil semua terjawab. Sambil menyelam minum air, wkwkwk... Konyol! Maksudnya, sekalian ternak ayam, kotoran plus pakan ayam yang jatuh menjadi pakan ikan. Jangan heran jika ikan di sana bisa segede betis orang dewasa. Masalahnya kolam di sana kebanyakan punya tempat cubluk, apa ya bahasa indonesianya? Toilet zaman dulu buat buang hajat di kolam ikan. Wkwkwk ... Semenjak liat ikan diambil dari kolam yang menampung buang hajat manusia itulah aku tidak suka lagi ikan dari Ciamis. Jadi jika ada oleh-oleh dari sana dalam bentuk ikan otomatis perutku langsung berputar. Banyak keseruan jika main ke sana. Mengalami nyebrang sungai dengan jembatan hanya dua bambu bulat tanpa pegangan tangan. Kami, bapak dan emak, oh tidak, aku dan emak terkesima melihat bapak-bapak memanggul barang depan belakang trus jalan di jembatan tanpa pegangan dengan hanya bertumpu pada kaki di atas jembatan dua awi bulat. Penggambaran yang jlimet, hahaha ... Kalau ingat itu rasanya. Kami tidak mau jalan jika masih ada orang di sekitar jembatan. Apalagi emak. Tau tidak kenapa? Karna emak dan aku jalan merangkak sperti bayi belum bisa jalan. Hahaha .... Bapak yang mau memegangi saja tidak kami hiraukan. Sungainya besar! Batu segede gaban! Batu yang orang tidur di atasnya aja masih bisa nampung. Cuma buat ziarah ke makam keluarga kami harus melewati jembatan itu. Jika posisi sungai sedang surut biasanya kami lewat bawah, cukup membuka sepatu. Tapi sungai sedang meluap, satu-satunya jalan hanya jembatan itu. Kami selamat dengan sukses dan pulang memilih jalan memutar nan jauh melewati jalan raya daripada jantung copot.

Setelah gaji bapak bisa dipindah ke Pandeglang, kami hanya setahun sekali saja ke Ciamis. Bapak juga cukup mengurus kolam ikan yang di kampung Kabayan. Kolam yang dilarang ada toiletnya karna emak juga sama jijikan dengan ikan besar-besar tapi pakannya kotoran manusia. Walaupun kolam lain punya toilet dan airnya mengalir ke kolam kami minimal sudah tersaring dan tidak perlu melihat ada yang mengambang di kolam kami. Hehehe ... Makanya ikan di kolam tidak pernah besar dan kami selalu pulang membawa hasil pancingan, ikan kurus dan kecil. Hehehe ....

Waktu kecil belum paham malu dan gengsi, jadi dibawa mancing sama bapak itu suka cita. Sampai diajari cara mencari cacing lalu memasukannya ke kail. Geli dan jijik tapi memang begitu cara bapak memancing. Bapak tidak pernah membuat pelet seperti orang-orang. Baginya yang penting mancing dan dapat ikan, tidak masalah ikan itu besar atau kecil. Bagiku masalah, setelah dewasa dan kenal kata malu.

Perjalanan ke kolam dari rumah, melewati perkampungan kadu pandak, pesantren, pemandian umum baru kolam ikan milik orang lain, kolam ikan daerah Ciherang trus Cikabayan, di sanalah kolam ikan kecil kami. Kadang-kadang kami ke rumah Cikabayan jika tidak sedang dikontrakan, untuk memeriksa yang rusak atau bocor.

Ada juga modusku ikut bapak, selain mancing aku suka mandi dipancuran pemandian umum. Rata-rata penduduk di sana banyak yang belum punya kamar mandi jadi lebih suka ke pemandian umum, gratis. Aku yang sejak kecil sudah ada kamar mandi justru pengen merasakan mandi di pancuran trus seperti mereka nyuci baju. Bahkan sampai pengen merasakan sabun gosok warna hijau yang ketika kena air jadi hijau muda, karna di rumah selalu pakai deterjen. Merengek demi sabun batangan. Pengen mandi dan nyuci baju ala-ala orang di pemandian. Bawa-bawa baju berat, basah tapi seru. Kadang jika jam waktunya ibu-ibu ke air selalu penuh, jadi aku selalu menunggu jam sepi biar dapat tepat dipancurannya. Kadang saking di air pancuran dan lupa waktu, bapak meninggalkanku pulang. Hehehe ....

Aku kecil tugasnya pagi cuci piring dan menyapu halaman. Pulang sekolah boleh main kalau sudah belanja ke warung. Pekerjaan yang paling tidak aku sukai. Warung selalu ramai, kadang harus menunggu ibu-ibu selesai. Pas giliranku belanja pasti selalu ada ibu-ibu yang nyerobot untuk minta di duluin. Dan alasannya semua pada hebat-hebat, salah satunya. "Itu di rumah kompornya lagi nyala gak ada yang nungguin" hehehe .... Satu waktu pernah kesel karna tidak pernah diladenin. Jadi aku pulang tanpa belanja, padahal pedagangnya sampe manggil-manggil pas sadar aku balik pulang. Sampe rumah dimarahi emak. Jadi emak yang akhirnya ngomong sama pedagangnya. Untungnya emak cukup dituakan sama ibu-ibu di kampung. Sebenarnya belanjaan itu ditulis, aku hanya perlu memberikan catatan itu sama pedagangnya. Lama itu karna pedagangnya diajakin merumpi ngomongin orang. Sampe udah gede aja masih bete kalau disuruh belanja. Kadang diajakin ngerumpi juga karna dipikirnya aku sudah cukup dewasa jadi bisa diajak ngobrol rame-rame. Aku cuma diam, trus senyum. Tidak banyak menanggapi, lama-lama mungkin bosan. Alasan lainnya karna, jalan ke warung harus melewati pangkalan ojek yang selalu ramai orang nongkrong. Aku kecil sering dijahili oleh teman satu kelas yang rumahnya dekat pangkalan ojek. Jadi kalau ada aku yang lewat pasti datang menghampiri untuk mengejek, zaman sekarang mungkin dibully yah? Sayangnya tidak mempan. Hehehe ... Dia ngejek, aku balik ngejek. Keterlaluan ngejek aku kejar trus pukul. Wkwkwk ... Yang sengsara itu uda gede. Udah gak ada yang bully lagi tapi justru orang yang niat nanya dengan menggoda. Maksud hati mungkin pengen aku menjawab dengan malu malu mau atau gimana gitu. Aku dengan cueknya menjawab tanpa ekspresi. Sperti, "bade kamana neng?" Jawabku "kapayun" atau "tos timana neng?" Jawabku "tos ti peungkeur." Mereka akan tertawa ramai-ramai dengan jawaban itu. Jawaban gak niat. Orang tanya dari mana mau kemana, aku jawab sekenanya. "Mau ke depan" dan "dari belakang". Saking tidak mau ditanya nya karna memang bukan niat nanya bener, hanya niat menggoda. Akhirnya jawaban itu menjadi kebiasaan, dimanapun ada pertanyaan yang sama maka itu jawabannya, kadang aku langsung tutup mulut sadar jika yang bertanya ibu-ibu atau sodara.

Aku juga doyan jalan cepat dan menunduk, seperti bapak. Semua hal yang aku lihat dari bapak ya aku ikuti, termasuk makan cepat ala bapak. Kebiasaan jalan menunduk itu jadi bumerang, kadang saat mau belanja atau pulang belanja dari warung ada orang sengaja lewat di depan jadi hampir tubrukan, nanti tertawa rame-rame. Atau, ada yang bertanya "dompetna ilang ya?" Trus aku akan melihat muka orang yang bicara. Orang itu tersenyum lebar seraya berkata "oh udah ketemu," rasanya pengen jitak jika tidak ramai. Dan itu selalu kejadian di beberapa tempat bahkan saat kuliah.

Belanja ke warung itu juga kadang aku harus tunggu emak ngomel-ngomel dulu baru pergi. Kadang aku menawarkan diri leboh baik jauh jalan ke pasar untuk belanja daripada ke warung. Buat emak tidak jadi masalah tapi akhirnya jadi masalah saat hasil belanjaanku di pasar kualitasnya kurang bagus dari warung. Dengan wajah kecewa membayangkan kembali harus belanja di warung. Hiks ....