Emak atau Bapak
Jika ditanya aku lebih dekat sama siapa ya dua-duanya dekat. Hehe ... Emak suka bercanda jadi setelah dewasa ini kami sering bercanda dan bercerita hal-hal yang lucu atau menjadi pendengar yang baik bagi emak.
Aku kecil justru lebih dekat sama bapak. Kemana-mana aku pasti ikut. Bahkan aku mengalami main di kantor kejaksaan dan beberapa kali main ke rumah teman bapak. Selalu ikut ke Ciamis tiap bulan sama bapak. Waktu itu gajinya harus diambil di sana, di kota kelahiran. Aku mengenal hampir seluruh keluarga bapak dan sejumlah kenangan di kota itu. Aku juga suka ikut memancing ke balong/kolam ikan. Hobi bapak yang tak pernah hilang.
Kalau lihat dari latar belakangnya, di Ciamis itu hampir setiap rumah punya kolam ikan bahkan kedalamannya sanggup menenggelamkan anak kecil. Ada anak kecil tetangga, teman bermain, adiknya meninggal karena tenggelam tidak ketauan. Tau-tau sudah ngambang. Sedih jika ingat itu, tapi main ke Ciamis itu menyenangkan walau sempat buat bapak bete. Pandeglang Ciamis zaman dulu itu seharian. Berangkat pagi datang malam, jika beruntung sore sudah sampai. Jika bapak tidak ketiduran kami tidak harus kebablasan. Hehehe ... Bapak doyan tidur di bus dan itu menular padaku.
Pada saat di ciamis itu, aku akan ikut saudara di sana main ke kolam keluarga, jalan-jalan walau jauh itu cukup menyenangkan. Aku kecil bahkan sudah melihat kecanggihan keluarga bapak menempatkan kandang ternak ayam di atas kolam ikan. Rasa penasaranku di waktu kecil semua terjawab. Sambil menyelam minum air, wkwkwk... Konyol! Maksudnya, sekalian ternak ayam, kotoran plus pakan ayam yang jatuh menjadi pakan ikan. Jangan heran jika ikan di sana bisa segede betis orang dewasa. Masalahnya kolam di sana kebanyakan punya tempat cubluk, apa ya bahasa indonesianya? Toilet zaman dulu buat buang hajat di kolam ikan. Wkwkwk ... Semenjak liat ikan diambil dari kolam yang menampung buang hajat manusia itulah aku tidak suka lagi ikan dari Ciamis. Jadi jika ada oleh-oleh dari sana dalam bentuk ikan otomatis perutku langsung berputar. Banyak keseruan jika main ke sana. Mengalami nyebrang sungai dengan jembatan hanya dua bambu bulat tanpa pegangan tangan. Kami, bapak dan emak, oh tidak, aku dan emak terkesima melihat bapak-bapak memanggul barang depan belakang trus jalan di jembatan tanpa pegangan dengan hanya bertumpu pada kaki di atas jembatan dua awi bulat. Penggambaran yang jlimet, hahaha ... Kalau ingat itu rasanya. Kami tidak mau jalan jika masih ada orang di sekitar jembatan. Apalagi emak. Tau tidak kenapa? Karna emak dan aku jalan merangkak sperti bayi belum bisa jalan. Hahaha .... Bapak yang mau memegangi saja tidak kami hiraukan. Sungainya besar! Batu segede gaban! Batu yang orang tidur di atasnya aja masih bisa nampung. Cuma buat ziarah ke makam keluarga kami harus melewati jembatan itu. Jika posisi sungai sedang surut biasanya kami lewat bawah, cukup membuka sepatu. Tapi sungai sedang meluap, satu-satunya jalan hanya jembatan itu. Kami selamat dengan sukses dan pulang memilih jalan memutar nan jauh melewati jalan raya daripada jantung copot.
Setelah gaji bapak bisa dipindah ke Pandeglang, kami hanya setahun sekali saja ke Ciamis. Bapak juga cukup mengurus kolam ikan yang di kampung Kabayan. Kolam yang dilarang ada toiletnya karna emak juga sama jijikan dengan ikan besar-besar tapi pakannya kotoran manusia. Walaupun kolam lain punya toilet dan airnya mengalir ke kolam kami minimal sudah tersaring dan tidak perlu melihat ada yang mengambang di kolam kami. Hehehe ... Makanya ikan di kolam tidak pernah besar dan kami selalu pulang membawa hasil pancingan, ikan kurus dan kecil. Hehehe ....
Waktu kecil belum paham malu dan gengsi, jadi dibawa mancing sama bapak itu suka cita. Sampai diajari cara mencari cacing lalu memasukannya ke kail. Geli dan jijik tapi memang begitu cara bapak memancing. Bapak tidak pernah membuat pelet seperti orang-orang. Baginya yang penting mancing dan dapat ikan, tidak masalah ikan itu besar atau kecil. Bagiku masalah, setelah dewasa dan kenal kata malu.
Perjalanan ke kolam dari rumah, melewati perkampungan kadu pandak, pesantren, pemandian umum baru kolam ikan milik orang lain, kolam ikan daerah Ciherang trus Cikabayan, di sanalah kolam ikan kecil kami. Kadang-kadang kami ke rumah Cikabayan jika tidak sedang dikontrakan, untuk memeriksa yang rusak atau bocor.
Ada juga modusku ikut bapak, selain mancing aku suka mandi dipancuran pemandian umum. Rata-rata penduduk di sana banyak yang belum punya kamar mandi jadi lebih suka ke pemandian umum, gratis. Aku yang sejak kecil sudah ada kamar mandi justru pengen merasakan mandi di pancuran trus seperti mereka nyuci baju. Bahkan sampai pengen merasakan sabun gosok warna hijau yang ketika kena air jadi hijau muda, karna di rumah selalu pakai deterjen. Merengek demi sabun batangan. Pengen mandi dan nyuci baju ala-ala orang di pemandian. Bawa-bawa baju berat, basah tapi seru. Kadang jika jam waktunya ibu-ibu ke air selalu penuh, jadi aku selalu menunggu jam sepi biar dapat tepat dipancurannya. Kadang saking di air pancuran dan lupa waktu, bapak meninggalkanku pulang. Hehehe ....
Aku kecil tugasnya pagi cuci piring dan menyapu halaman. Pulang sekolah boleh main kalau sudah belanja ke warung. Pekerjaan yang paling tidak aku sukai. Warung selalu ramai, kadang harus menunggu ibu-ibu selesai. Pas giliranku belanja pasti selalu ada ibu-ibu yang nyerobot untuk minta di duluin. Dan alasannya semua pada hebat-hebat, salah satunya. "Itu di rumah kompornya lagi nyala gak ada yang nungguin" hehehe .... Satu waktu pernah kesel karna tidak pernah diladenin. Jadi aku pulang tanpa belanja, padahal pedagangnya sampe manggil-manggil pas sadar aku balik pulang. Sampe rumah dimarahi emak. Jadi emak yang akhirnya ngomong sama pedagangnya. Untungnya emak cukup dituakan sama ibu-ibu di kampung. Sebenarnya belanjaan itu ditulis, aku hanya perlu memberikan catatan itu sama pedagangnya. Lama itu karna pedagangnya diajakin merumpi ngomongin orang. Sampe udah gede aja masih bete kalau disuruh belanja. Kadang diajakin ngerumpi juga karna dipikirnya aku sudah cukup dewasa jadi bisa diajak ngobrol rame-rame. Aku cuma diam, trus senyum. Tidak banyak menanggapi, lama-lama mungkin bosan. Alasan lainnya karna, jalan ke warung harus melewati pangkalan ojek yang selalu ramai orang nongkrong. Aku kecil sering dijahili oleh teman satu kelas yang rumahnya dekat pangkalan ojek. Jadi kalau ada aku yang lewat pasti datang menghampiri untuk mengejek, zaman sekarang mungkin dibully yah? Sayangnya tidak mempan. Hehehe ... Dia ngejek, aku balik ngejek. Keterlaluan ngejek aku kejar trus pukul. Wkwkwk ... Yang sengsara itu uda gede. Udah gak ada yang bully lagi tapi justru orang yang niat nanya dengan menggoda. Maksud hati mungkin pengen aku menjawab dengan malu malu mau atau gimana gitu. Aku dengan cueknya menjawab tanpa ekspresi. Sperti, "bade kamana neng?" Jawabku "kapayun" atau "tos timana neng?" Jawabku "tos ti peungkeur." Mereka akan tertawa ramai-ramai dengan jawaban itu. Jawaban gak niat. Orang tanya dari mana mau kemana, aku jawab sekenanya. "Mau ke depan" dan "dari belakang". Saking tidak mau ditanya nya karna memang bukan niat nanya bener, hanya niat menggoda. Akhirnya jawaban itu menjadi kebiasaan, dimanapun ada pertanyaan yang sama maka itu jawabannya, kadang aku langsung tutup mulut sadar jika yang bertanya ibu-ibu atau sodara.
Aku juga doyan jalan cepat dan menunduk, seperti bapak. Semua hal yang aku lihat dari bapak ya aku ikuti, termasuk makan cepat ala bapak. Kebiasaan jalan menunduk itu jadi bumerang, kadang saat mau belanja atau pulang belanja dari warung ada orang sengaja lewat di depan jadi hampir tubrukan, nanti tertawa rame-rame. Atau, ada yang bertanya "dompetna ilang ya?" Trus aku akan melihat muka orang yang bicara. Orang itu tersenyum lebar seraya berkata "oh udah ketemu," rasanya pengen jitak jika tidak ramai. Dan itu selalu kejadian di beberapa tempat bahkan saat kuliah.
Belanja ke warung itu juga kadang aku harus tunggu emak ngomel-ngomel dulu baru pergi. Kadang aku menawarkan diri leboh baik jauh jalan ke pasar untuk belanja daripada ke warung. Buat emak tidak jadi masalah tapi akhirnya jadi masalah saat hasil belanjaanku di pasar kualitasnya kurang bagus dari warung. Dengan wajah kecewa membayangkan kembali harus belanja di warung. Hiks ....