Sabtu, 07 November 2015

Kisah Masa Kecil 1

Aku Anak Sapi

Hehehe ... Sekilas itu hanya kiasan saja, kalau pun benar pasti aku ngomongnya "Moooooo ...."

Kadang jika ada status lewat trus mengatakan, "Anakku anak Asi" ada sih rasa ngiri tapi mau bagaimana lagi? Keadaan memang mengharuskanku minum susu sapi. Kalau tidak minum susu sapi trus minum apa? Apalagi aku disebut anak segede botol jika waktu kecil aku nakal. Intinya, aku hidup saja sudah bersyukur toh allah tidak menjadikanku memiliki kemampuan berpikir mirip sapi. Sisi kemanusiaanku tetap paling dominan. Trus kemana asi yang seharusnya milikmu? Itu bukan bagianku untuk memusingkan sesuatu yang sudah tidak penting lagi. Saat ini yang harus dipikirkan bagaimana baiknya sekalipun anak susu sapi tapi berpikir dan berhati sebaik-baiknya manusia.

Karena aku anak susu sapi, mungkin. Aku kecil sakit-sakitan. Panas batuk pilek, yeah ... Penyakit anak-anak, mungkin mereka anak Asi tidak pernah panas batuk pilek, ya ... Bersykur saja. Allah menentukan jalan hidup manusia sesuai dengan yang sudah ditakdirkan ....

Saat sakit itu biasanya Emak meminta Bapak membawaku ke mantri, zaman dulu belum banyak dokter. Kebanyakan perawat yang menjadi mantri. Aku pelanggan setia semua mantri di kampungku, hehehe ... Jadi waktu sudah buka pintu karena ada asalamualaikum trus yang di liat Pak Mantri itu aku yang digendong, ia akan tersenyum, saking sudah hapalnya. Satu waktu bosan bolak balik ke mantri, ditest pake bodrexin. Ternyata manjur! Obat enak dan ajaib. Tapi itu khusus untuk panas ya... Sampai lulus sekolah dasar jadi pelanggan Pak Mantri. Salah satu mantri yang aku suka, Mantri Sulaiman. Baik dan menyenangkan. Anak kecil sudah bisa menilai seorang mantri, hehehe ... Tapi ternyata memang beberapa tetangga lebih suka dengan beliau.

Kebetulan Emak dan Bapak PNS, pekerjaannya mengharuskan aku dititip sama pengasuh. Jadi setiap pagi aku dibawa ke rumah pengasuh, pulang kerja diambil. Dari bayi sampai mulai sekolah. Selama itu mengalami dua pengasuh. Satu, saat masih bayi. Waktu itu rumah masih di daerah Ciherang. Aku dititipkan di rumah tetangga kakak, daerah Tenjolaya. Aku tidak ingat jika dengan pengasuh yang ini. Taunya sudah besar saat sering main ke Tenjolaya dikasih tau siapa yang mengasuhku saat bayi.

Rumah pindah ke daerah namanya Kadupandak. Ganti pengasuh karena jauh, namanya ibu Anom. Rumahnya tepat dibelakang rumahku. Kehidupannya cukup memprihatinkan, jadi saat ditanya mau tidak mengasuh, ia langsung mau. Sebenarnya semua tidak ada yang suka aku diasuh sama beliau (alm) bukan karena apa. Rumahnya masih tanah, aku ingat saat itu jika sudah ada di dalam rumah dibiarkan duduk di tanah karena rumahnya belum ada tegel/keramik. Aku biasanya mencari undur-undur. Anak kecil apalagi yang dikerjakannya jika di tanah? Anak-anaknya cukup jahil. Jadi aku pulang sering penuh dengan tanah di rambut. Jadi siapapun yang pertama mengambilku dari pengasuh langsung dibawa ke kamar mandi. Saat itu seperti berada di dalam ruang penyiksaan. Wkwkwk ... Lebay! Aku sangat takut dengan air gara-gara ini. Kamar mandi yang lebih luas dari kamar kost itu cukup buatku lari ke sana kemari demi tidak mandi. Masalahnya kalau mandinya seperti anak zaman sekarang. Duduk dalam baskom atau ember trus main air, lagi lucu2nya anak-anak seru juga kali ya? Bayangin ... Aku mandi diguyur! You know "diguyur"? Air dalam gayung gede langsung mendarat di kepala sampe mengap-mengap tidak bisa napas. My god ... Aku lari ke sana kemari ketakutan sambil nangis. Memang itu cara tercepat untuk mandi dari kebauan yang tidak terhingga. Toh aku juga jijik jika ada anak bau dan jorok. Tetep ... Jika liat mandinya anak-anak sekarang sampe ada bebek-bebekan itu bikin ngiri. Wkwkwk ... (Trus skrg mau mandi di atas baskom trus kasih bebek gitu? Wkkwkwk ... Abaikan!) Jika mengingat ini, aku jadi selalu kangen dengan Emak.

Tidak ada komentar: