Senin, 09 November 2015

DILEMA MEMBERI HUTANG

Dilema Memberi Hutang

Dulu aku pernah minta pendapat ketika sudah menikah, masalah ngutangin orang. Jika masih single ya kasih-kasih aja. Tapi pertanyaan itu kembali padaku, "terserah, itukan uang hasil kerjamu. Tapi kalau mau minjemin liat orangnya dulu, bisa dipercaya atau tidak? Bisa bayar atau tidak? Jangan lupa, orang yang memberi hutang tidak bisa dikategorikan dermawan justru kebanyakan merusak silaturahim. Kalau orang sudah bersuami, tanya apa suaminya tau? Kalau tidak bekerja, pikirkan bagaimana orang tersebut akan bayar?"

Perkataan itu diperkuat saat emak dulu pernah berkata, "hidup jangan banyak gaya, sesuaikan segala sesuatu tepat porsinya. Jika hanya mampu membeli sedikit ya beli seadanya. Jangan segala sesuatu ingin diraih tanpa kemampuan. Bisa punya ini dan itu tapi utang banyak juga buat apa? Hanya membuat hidup tidak tenang. Jadi jangan coba-coba berhutang kalau kerja saja belum!" Entah siapa waktu itu yang kami bicarakan tapi dari kata-kata itu aku kecil jadi lebih hati-hati dalam berhutang dan lebih takut menggunakan uang orang lain tanpa tahu bagaimana cara membayarnya.

Aku tahu punya kelemahan tidak tega jika melihat orang yang kesusahan, jadi setiap ada orang yang berhutang pasti dikasih. Tentu ada syaratnya. Ditanya, tau tidak suaminya jika berhutang? Kalau tahu baru aku kasih dan itu juga tidak banyak karna tidak membiasakan memberi hutang kelewat sesuai kemampuan orang itu membayar. Klau suaminya tidak tahu dan ia akan memberikan penjelasan sedetail mungkin tentang suaminya, aku akan tersenyum dan cukup memberinya uang lima puluh ribu. Uang ngasih bukan utang dan bilang tidak ada uang, lagi kosong. Dosa ya berbohong? Akan lebih berdosa lagi jika nanti suaminya tahu kalau istrinya suka meminjam ke sana kemari tanpa sepengetahuannya dan tali silaturahim berantakan.

Aku juga kadang meminjamkan uang ke teman kerja, karna mereka berumah tangga dengan banyak pengeluaran dan ada gaji untuk bayar jadi tidak masalah bagiku.

Anehnya, di zaman sekarang kegemaran berhutang seperti penyakit menular yang dibiarkan tanpa diobati. Misal, gemar berhutang tapi tidak gemar membayar. Suka berhutang tapi tidak suka bayar hutang.  Padahal hutang yang belum terbayar itu akan menjadi penghambat saat kita menjadi mayat. Tahukah kamu jika keluarga yang akan ditanya saat mayat mau dikuburkan? "Apa sudah beres urusan hutang piutangnya selama di dunia?"

Hal yang masih aku temukan saat ini, orang pinjam uang sampai nangis, mengeluh ini dan itu. Saat ditagih, maaf belum ada. Bulan depan ditagih lagi, maaf kirain bulan depan. Bulan depan ditagih lagi, kata-katanya berisi keluhan "saya lagi ada masalah di kantor, mana belum bayar cicilan rumah, cicilan mobil, bayar kuliah adikku ...."
"What!?" Kemana keramahan waktu meminjam uang? Kenapa saat meminjam tidak mengatakan soal segala macam cicilan dan tek-tek bengek masalah kemewahannya? Aku tidak merasa ingin meminjamkan uang pada orang yang punya kehidupan lebih baik. Jika sudah begini apa tidak justru merusak tali silaturahim? Tiap dibbm hanya diread.

Biasakan untuk dermawan dan rasa kasihan pada tempatnya. Jangan meminjamkan dengan niat mengambil keuntungan. Lihat kemampuan orang itu untuk membayar. Pinjamkan alakadarnya atau semampu orang itu membayar. Niatkan meminjamkan uang dengan sedekah, agar satu waktu orang itu tidak memiliki kemungkinan untuk membayar maka hutang itu sudah beralih sebagai sedekah agar dalam hati tenang tidak memikirkan soal hutang yang belum juga dibayar-bayar.

Tidak ada komentar: