Minggu, 31 Juli 2016

Wajah Sakura di Cermin Dilla

WAJAH SAKURA DI CERMIN DILLA

Bab 2
NADIA


Semenjak memegang dua perusahaan waktuku memang lebih banyak tersita untuk pekerjaan. Jam 3.00 Wib aku sudah bangun untuk memasak agar Dilla tidak perlu jajan di luar. Beres-beres rumah baru terakhir mandi dan bersiap-siap untuk berangkat jam 5.10 Wib dengan motor matic perjuangan. Dilla bangun aku pergi, melawan dinginnya malam. Kantor utamaku di perusahaan milik Wina, masuk jam 8.00 Wib. Perjalanan rumah ke kantor 45 menit. Jam 5.55 Wib aku tidak berada di kantor Bersama Wina, tapi di sebuah butik milik Christine seorang keturunan China. Waktuku dua jam untuk bekerja di sana.

Tempatnya bukan pabrik besar di depan jalan raya tapi di sebuah komplek Villa Kembarmas. Ada dua rumah berdampingan yang dijadikan satu. Rumah untuk tempat tinggal, di sebelahnya untuk tempat produksi. Butik satu persatu mulai dibuka di beberapa mall wilayah kota Bandung.

"Wina! Kemarin kamu cek tidak baju yang di kirim ke butik saya yang di jalan Trunojoyo?" Christine masuk ruangan dengan suara tinggi.

"Kenapa gitu, Bu?" Aku bingung melihat Christine masuk membawa mood buruk. Kami seumuran tapi karena ia bosku maka panggilan formal yang harus diucapkan.

"Orang yang pesan mencak-mencak sama saya di telpon! Katanya kita jorok, masa pakaian untuk acara ulang tahun Gubernur Bandung kotor?" Marah-marahnya tidak akan berkesudahan jika seperti ini pikirku.

"Saya yakin sudah cek beberapa kali kalau gaun itu tidak ada cacat jahit apalagi sampai kotor! Kalau memang ibu tidak percaya silahkan ditanya karyawannya satu persatu, karena malam sabtu tidak saya tinggalkan bahkan jam sudah menunjukan pukul 23.30 Wib," kataku dengan tegas. Aku tidak akan setegas ini jika tidak yakin.

Christine diam, kemudian duduk di sampingku. "Apa orang itu coba-coba menipu kita ya? Dia pikir saya bodoh, akan saya bicarakan sama teman yang mengenalkan orang itu," buru-buru Christine pergi berusaha menghindariku, tapi kemudian berbalik kembali.

"Win, saya mau baju kebaya yang bisa dipakai untuk bekerja dan batik untuk acara pesta. Ada kolega yang memesan," Christine tersenyum mencoba berdamai dan mendekati meja design. Ia tahu waktuku dipagi hari hanya sebentar jadi ia lebih banyak memberikan arahan kemudian aku menggambar. Sore pulang jam 4.30 Wib baru aku kembali lagi ke butik untuk memulai membuat patern maker, pola pakaian yang gambarnya sudah disetujui sampai jam 21.30 Wib.

Gajiku dibayar sama seperti bekerja dengan Wina. Hitungannya gaji bulanan staf hanya saja waktu menyesuaikan dan itu sudah ada dalam perjanjian.

"Gambarnya ini saya buatkan beberapa pilihan. Untuk kebaya akan terlihat feminim tapi tidak terlalu formal dengan tangan tiga perempat dan kerah sunda."

"Win!!" Christine setengah berteriak lari ke arah meja tamu membawa tisu. Hidung mimisan dan aku tidak menyadarinya. "Kamu sakit?" Christine ketakutan mirip orang yang phobia jika melihat darah.

"Panas dalam sedikit, nanti juga sembuh." Aku tidak ingin melihatnya uring-uringan. Jujur memang akhir-akhir ini badan mulai sering demam. Semoga sakit itu tidak kambuh lagi.

Gemetar tubuh christine melihat darah, ia pamit ke rumah karena takut. Tidak lama pembantu keluar dari rumahnya, membawakan susu dan bubur ayam. "Ini ibu tadi suruh saya belikan bubur ayam dan buatkan susu, sarapan dulu mbak!" Wanita paruh baya yang cukup ramah tersenyum dan mengelus-elus punggungku. Mengingatkanku pada simbok.

"Saya sudah sarapan tadi di rumah, Bik, makasi...." Aku menatap cukup lama. Bagai sebuah cermin dari bola mata miliknya tampak memantulkan sebuah kerinduan yang mulai terusik. Ah ... Andai bisa kupeluk tubuh wanita paruh baya ini. Kepalaku mulai sakit.

"Bik, punya paracetamol?" Tanyaku sedikit berbisik karena mulai berdatangan karyawan di butik ini, tanda jam 8.00 Wib sebentar lagi. Bibik mengangguk pergi dan kembali bersama satu setrip paracetamol. Aku hanya membutuhkan satu. "Makasi Bik," aku balik mengelus punggung tuanya.

Cepat-cepat aku membereskan apa yang diinginkan Christine baru kemudian pergi ke arah jalan Sukarno-Hatta tempat perusahaan Wina berada. Motor ini membantuku banyak bahkan ketika Bandung mengalami kemacetan tingkat tinggi. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit saja aku sudah ada di depan gerbang depan. Pas jam absensi menunjukan waktu berada di 8.00 Wib. Kecuali macet yang sampai tak bergerak.

Wina sudah duduk di ruanganku dengan sekotak Tokyo Banana, kue khas Jepang dengan aroma pisang yang sangat terasa dan berisi krim manis. Varian rasa di antaranya original, karamel, stroberi dan coklat. Kue yang biasa dijual daerah Stasiun Tokyo, tapi untuk rasa cokelat hanya dijual di Tokyo Sky Tree. Aku menyebutnya sebagai kue kenangan.

"Nad! Kue itu bukan pajangan tapi dimakan, masa oleh-olehku dari Jepang cuma jadi tontonan saja?" Wina teman waktu kuliah di Jepang mengagetkan. Seraya tertawa melihat kebodohanku. Ia tahu, aku masih belum melupakan masa lalu.
"Tidak perlu repot bawa oleh-oleh, Win! Aku jadi tidak enak."
"Nggaklah, Mana ada repot buat teman terbaikku? Apalagi itu cuma Tokyo Banana, ada lagi kabar gembira lain yang mau aku katakan!" Wina dengan antusias mendekatiku lebih dekat. Bibirnya tepat di kuping.
"Tidak ada orang, kenapa harus bisik-bisik?" Tanyaku sambil menjauhkan telinga, geli.
"Papa mengusulkan padaku kalau kamu akan dapat bonus untuk dua orang tiket pp Jepang dan biaya liburan selama di sana! Tapi setelah pekerjaan sudah mulai sedikit lebih ringan jika ditinggalkan." Wina tertawa dan memeluk erat. Aku pura-pura bahagia mendengar berita ini.

Pekerjaan ini jauh lebih penting daripada jalan-jalan. Sudah bukan waktunya lagi hanya memikirkan kesenangan, sementara kini Dilla sudah mulai beranjak dewasa. Aku harus benar-benar memikirkan biaya kuliahnya dengan cermat. Rasanya tidak adil jika anak satu-satunya tidak memiliki masa depan. Apalagi ia anak yang pintar dan cukup berbakat.

Ada rasa bersalah saat Dilla kecewa aku tidak bisa menjadi mama yang baik seperti yang diharapkannya. Memiliki waktu luang yang cukup banyak dan intensitas komunikasi yang lebih sering. Kemampuannya membuat sebuah design saat lomba antar SMA yang diselenggarakan sebuah sekolah design membuatku bangga. Tanpa arahan dan bimbinganku ia dapat melakukannya sendiri. Walapun harus berakhir dengan pertengkaran, jujur ... Jauh di lubuk hati paling dalam, mama bangga padamu sayang!

"Nad, bahan meeting dengan buyer kita dari Amerika sudah siap kan?" Tanya Wina memecahkan lamunanku.
"M-mm ... Sudah, ayo kita siap-siap ke ruangan!" Cepat-cepat kertas yang tadi sempat terpisah aku kumpulkan dalam satu map. Aku tidak ingin Wina marah karena berpikir aku masih belum melupakan laki-laki itu.

Ruangan sudah ada Tan Wijaya, papa Wina dan buyer Amerika, Miss Angela Higgins. Proyektor sudah menyala. Di sebelahnya sudah ada Bu Laily manager marketing perusahaan. Aku menyalami Miss Angela yang sudah kukenal dari 11 tahun yang lalu sebagai buyer tetap. Ia seorang blasteran American Indian dengan China Daratan. Tampak aneh memang, tidak 100 persen bule. Matanya sipit tapi bola mata kebiruan. Hidungnya tidak terlalu mancung. Postur tubuh pendek tapi lainnya terlihat bule. Terutama itu, masih ada ciri rambut pirang keemasan bergelombang berpadu dengan kulit pucat bintik-bintik coklat. Tidak lama Arlin, asisten designerku datang bersama beberapa puluh sample baju yang akan dipamerkan.

"Ini koleksi design perusahaan untuk musim semi, warna-warna soft dengan aceccories bunga-bunga dan payet mendominasi untuk gaun anak-anak." Aku mengganti beberapa gambar di atas proyektor bersamaan dengan Arlin menunjukan koleksi aslinya yang sudah menjadi sample baju.

"Tolong diulang gaun anak yang memiliki renda hias di bawahnya!" Tunjuk Miss Angela ke arah Arlin.

"Ini?" Arlin dengan cepat menggantung kembali model yang diinginkan buyer.

"Ya... M-mm ... Entahlah, saya melihat model ini seperti ada sesuatu yang tidak begitu menarik. Tapi apa?" Tampak ragu-ragu kemudian bolak-balik melirik baju yang lain.
"Bagaimana kalau aceccoriesnya diganti? Bentuk aceccoriesnya mematikan bentuk baju yang terlihat seksi dan feminim," aku dengan cepat menghampiri aceccories tambahan yang sengaja disediakan jika Miss Angela datang. Memang kebiasaannya atau mungkin disebut ciri khas buyer.
"Ah, betul! Saya suka bagian di bahu itu diganti aceccoriesnya dengan bunga yang lebih kecil-kecil atau cukup payet saja," Miss Angela tersenyum.

Aku mencoba mengganti dan menjahit aceccories lain yang sengaja dipilih dengan meminta persetujuannya terlebih dahulu. Arlin tampak cemberut, ia sadar Miss Angela termasuk yang paling rewel di antara buyer lain tapi juga termasuk buyer yang setia. Hal yang lebih membuat Arlin uring-uringan, ia akan bolak-balik membongkar pasang baju jika meeting dengan Miss Angela. Dan, meeting bersamanya seperti hidup tanpa makan dan minum. Hahaha ... Bagaimana tidak? Gonta-ganti aceccories saja kadang bisa sampai malam dan ia termasuk buyer yang terlampau teliti. Kelelahan akan terbayar dengan konfirmasi order yang sampai lima puluh lebih sample hanya untuk gaun, belum lagi untuk casual. Bisa tiga hari meeting dari pagi pulang malam. Orderannya tidak sedikit, minimum order bisa tiga puluh ribu pieces per model sample baju. Hati atasan senang gembira, sebagai bawahan siap-siap bonus menempel di jajaran gaji.

"Miss Angela, sekarang saya siapkan berkas konfirmasi ordernya ya? Biar sekalian di tanda tangani ...." Dengan cepat Laily menimpali sebelum kehilangan kesempatan mendapatkan order yang sudah ditanda tangani. Telat sedikit, besok ia akan berkejar-kejaran dengan buyer yang jalannya selalu super cepat.

"Oke!" Dengan jari telunjuk dan jempol disatukan Miss Angela menyetujui keinginan Laily.

***

Aku mencium kening Dilla sebelum berangkat ke Jakarta dini hari ini. Maafkan mama ya sayang ... Love you.

"Ma, haruskah hari ini pergi juga?" Dilla mengagetkan seraya menarik tanganku.

"Mama ada pekerjaan ke luar kota hari ini sayang ... Besok ya?" Jawabku dengan lembut. Aku sadar apa yang sebenarnya Dilla inginkan.

"Ada yang mau Dilla ceritakan, tidakkah mama bisa seperti ibu orang lain yang walaupun bekerja tetap berangkatnya jam tujuh pagi. Bukan sekarang, adzan subuh saja belum terdengar!" Tiba-tiba Dilla mengeraskan suaranya dengan sorot mata tajam.

"Ini karena mama harus ke Jakarta, sayang ...." Aku memeluk Dilla sebentar.

"Jangan pergi!" Dilla merajuk plus tambahannya disebut membentak.

"Dilla! Siapa yang mengajarimu untuk tidak sopan seperti itu?" Jawabku dengan lebih keras lagi. "Mama tidak suka kamu menjadi anak yang tidak diajar sopan santun! Apa mama pernah mengajarkanmu untuk bersikap seperti itu?" Hatiku mulai memanas.

"Tidak! Mama tidak mengajarkan aku apapun, mama hanya sibuk bekerja! Mana ada waktu untukku?" Dilla mulai meneteskan cairan bening di sudut matanya. "Mama pergi saja! Gantikan dengan papa, kembalikan papa padaku, ma! Aku mau papa!" Dilla menangis histeris.

Plakk!!
Mata Dilla terbelalak dan aku masih kaget dengan apa yang baru kulakukan. Kesadaranku hilang, tanpa terasa telapak tanganku menghentikan emosi Dilla. Aku coba meraih Dilla tapi terlambat ... Ia sudah berlari mengunci diri di kamar mandi. Sia-sia juga saat kupanggil-panggil dan berusaha minta maaf. Dilla sudah tidak akan bisa dibujuk saat itu juga.

Aku meninggalkan Dilla sendiri di rumah bersama secarik kertas permintaan maaf yang ditempel di atas meja belajarnya. Ojek yang sudah menunggu di depan rumah dengan cepat membawaku ke Patung Kuda, Perumahan Permata Cimahi. Patung depan perumahan tepat di pinggir jalan raya Cimahi-Cimareme, Wina sudah menunggu di dalam mobil Camry miliknya.

"Maaf Win, lama menungguku ya? Dilla susah dibangunkan. Tadinya mau kukunci dari luar dan kuncinya aku selipkan di tempat biasa, tapi semalam aku menemukannya sudah tidur."

"Nggaklah ... Aku ngerti kok, baru juga sampai. Kasihan juga Dilla, semoga pulang dari Jakarta pekerjaanmu sedikit berkurang ya?" Wina mencoba menenangkanku.

"Mungkin karena sekarang Dilla sudah remaja dan memang masanya untuk memberontak dan sulit untuk diberi pengertian."

"Aku rasa tidak begitu, Nad! Dilla itu anak yang cerdas. Mungkin ia hanya membutuhkan waktumu lebih banyak dari biasanya," Wina tersenyum dengan tanpa melepaskan pandangannya dari kemudi. Wina memang lebih suka menyetir sendiri dibanding memakai supir. Kadang kami bergantian jika perjalanan jauh.

"Mungkin karena sejak kecil Dilla selalu memiliki sekolah yang dekat dengan kantor, pulang sekolah ke kantor, main di kantor, tidur siang di kantor. Di kantorlah rumah sekaligus mamanya. Rasa memiliki waktu mama lebih banyak. Hanya saja semenjak SMA aku ingin ia mandiri dan memiliki sekolah yang bagus dalam hal prestasi dan pendidikan moral anak."

"Itulah! Makanya sekarang Dilla seperti tidak terima," Wina menimpali sambil menjulurkan kepalanya ke mesin pengambilan tiket tol. Ia kejauhan menghentikan mobil dan malas untuk mundur.

"Tapi waktu mengawali di kelas sepuluh sampai naik ke kelas sebelas Dilla tak pernah mengeluh, Win! Makanya aku kaget juga tadi saat melihat wajahnya yang penuh amarah itu," mulutku bergetar mengatakan apa yang telah terjadi tadi.

"Kalian bertengkar?" Wina serasa tak percaya saat aku mengangguk sebagai tanda 'ya'.

"Wahhh ... Padahal dari kecil sampai terakhir kulihat, ia anak penurut ya, Nad?" Wina menggelengkan kepala tanda tak percaya.

Aku memang salah, tak seharusnya melakukan kekerasan padanya dan tidak meninggalkan dalam keadaan belum berdamai. Ingatanku terbang mengingatnya. Seandainya kamu masih ada, mungkin Dilla tidak akan seperti ini. Sakit rasanya hatiku mengingatmu. Begitu sulitnya menghadapi semua ini sendiri.

Kadang aku ingin ke Yogyakarta setiap kali masalah menghimpit. Hanya untuk sekedar menangis dipangkuannya. Merindukan untuk hanya sekadar memeluk dan memandangi wajah teduh itu. Ibu maafkan aku yang telah membuatmu kecewa, kini, inilah balasan yang harus aku tanggung sendiri. Tanpa sadar, air mata mengalir pelan. Aku membuang muka ke arah jendela samping, menyembunyikan kerinduan yang sudah tak terbendung.

Wina menyelipkan tisu di tangan kananku.
Dug!!
Wina tahu aku sudah mulai meleleh.

Sabtu, 30 Juli 2016

Wajah Sakura di Cermin Dilla

Wajah Sakura di Cermin Dilla

Bab 1


"Dilla, ayo kamu bisa! Hufh ... Berpikir keras ... Ayo berpikir keras!” Teriakku dengan lantang.

Jika olimpiade matematika tingkat nasional saja bisa aku taklukan. Bertahan juara umum di SMA 1 Cimahi dari awal masuk saja sanggup. Masa iya lomba design yang diadakan Sekolah Tinggi Design Bandung bagi siswa-siswi SMA saja tidak bisa aku ikuti? Tapi design apa yang bisa membuat aku menang. Temanya saja design dengan inovasi dan kreatifitas tinggi menembus dunia international berarti bukan perkara mudah. Jika hanya mencari kain lalu menggambar dan menjahitnya menjadi baju itu hal biasa. Tentunya sekolah design tidak akan mengadakan lomba ini. Apalagi pemenang tingkat Nasional akan dipilih 10 orang kuliah dengan beasiswa di Kyoto Seika University.

Hufh!!
Aih, gila lah!!
Pikiran buntunya bukan main. Beasiswa menggiurkan. Bagaimana tidak, kuliah di universitas terbesar yang sangat terkenal dengan design dan manga. Bahkan ada museum manga di universitas itu. Apalagi, univeritas itulah dulu mama kuliah. Aku mau seperti mama dan merasakan indahnya Kyoto.

Huaaa!!
Jangan sampai kali ini harus kalah dari Gatra Sembara juga. Dari sejak masuk SMA aku, Faradilla saingan Gatra untuk mendapatkan juara umum dan menjadi ambisinya untuk menurunkan peringkatku. Aku tahu Gatra ikut dalam lomba design ini karena aku juga ikut. Shit! Karya ilmiahnya lolos juga sama denganku, makanya babak berikutnya Gatra juga mendapatkan kesempatan.

Gatra memang ganteng, idola di sekolah lagi! Mana ada anak perempuan yang tidak suka kecuali matanya picak. Eits! Mataku tidak picak tapi ... Hmmm... Menyukai laki-laki sama dengan membuang waktu masa depanku, itu yang pernah mama katakan. Iya, kalau aku pacaran mungkin akan seperti teman yang lain dengan nilai turun dan sibuk terus mengejar laki-laki. Hah! Akan menari pasti si Gatra saat melihat peringkatku menurun. Uh, usir pikiran ini!

Taman Perumahan Bukit Permata Cimahi ini tidak juga bisa memberikan setitik ide untukku. Hanya aku sendiri, menatap lapangan voli yang sepi dikelilingi pohon mangga dengan alas rumput. Kecuali itu, di lapangan voli menjadi hanya tanah. Rumput disekitarnya tidak dapat tumbuh akibat injakan pemain voli. Posisi rumput yang kurang baik, ia tidak berada di tempat yang menguntungkan. Berbeda dengan rumput di luar lapangan, hijau dan tumbuh subur. Di atas rumput beberapa daun mangga mati berjatuhan dan terlihat mencolok. Coklat di atas hijau.
Aku raih daun mangga mati. Keras. Dulu waktu masih sekolah dasar, daun ini dikeringkan untuk kerajinan tangan. Nanti akan tampak serat-serat daunnya saja. Terlihat indah.
Ya Tuhan!!
Aku ada ide. Daun ini harus aku kumpulkan.
"Dilaaaa!!" Rara dan teman-teman lainnya dari kejauhan menghampiri sekaligus mengagetkan. Aku bergeming, dan tetap memungut daun.
"Aih, sombong loh ... Diam aja! Lagi ngapain?" Tanya Rara ikut membungkuk.
"Lagi mencintai lingkungan!" Jawabku sekenanya.
Suasana berubah tawa ketika Rara cemberut karena penasaran.
"Ayo, kalian bantu aku! Kita kumpulkan semua daun mangga kering ini di satu tempat."
"Tunggu, aku ambil sapu dulu!" Rara setengah berlari mendekati rumahnya tepat di depan lapangan.
"Jangan!" Seruku dengan cepat. Gawat, bisa rusak daunku mana susah dapat idenya.
"Lah, kalau mau mencintai lingkungan ya disapu dong?" Rara tampak masih belum paham.
"Aku mencintai lingkungan makanya mau bersihin nih lapangan, tapi juga butuh daunnya utuh tanpa rusak sama sapu. Ngerti?" Rara hanya tersenyum sekalipun tampak ia masih kurang paham. Tapi memang begitu sifatnya, selalu penurut. Apalagi jika aku yang minta. Sifatnya memang tidak pernah mendominasi bertolak belakang denganku. Sejak kecil aku sudah menjadi pemimpin bagi mereka dan tidak ada yang sanggup protes karena aku satu-satunya yang mengajari mereka belajar. Hanya saja dari teman satu perumahan ini, aku sendiri yang lolos di SMA favorite lainnya di SMA 2 dan 3. SMA 1 tidak mengandalkan Nem untuk masuk tapi melalui ujian saringan kembali, itulah mengapa banyak murid yang menginginkan sekolahku.

Daun yang sudah kering dibersihkan dan dibawa ke rumah untuk direbus dengan campuran soda api yang sebelumnya aku minta Rara untuk membelikan. Rara dan teman-teman sangat menikmati ide yang sedang aku lakukan. "Dilla, ayo kita ambil daun hijaunya juga sekalian biar banyak dan tidak perlu mengumpulkannya lagi selama beberapa hari!" Rara dengan semangat meraih tanganku.
"Jangan! Hijau daun membutuhkan proses lebih lama. Itu tidak akan efektif, lebih baik tunggu besok sore kita kumpulkan lagi."

Saat rebusan daun sudah kecoklatan dan sudah tidak ada yang mengambang ketika direbus, aku diamkan daun dalam panci sampai airnya dingin.

Hari sudah gelap tapi mama masih juga belum pulang.
"Ma, kok belum pulang?" tanyaku di Handphone.
"Mama masih sibuk ya sayang ... Tidak usah ditunggu, tidurlah duluan."
"Tapi ada yang mau Dilla bicarakan, Ma!"
"Nanti jika sudah tidak lembur ya," Telpon dimatikan Mama tanpa peluk cium yang biasa kami lakukan.
Hufh!!

"Dilla, ini sudah dingin mau diapakan lagi?"
"Kalian pulang ya, sudah malam!"
"Yaaa ... Kita masih asik lohhh!"
"Baik, sampai proses pemutihan selesai kita sudahi ya!"
"Siappp!" Serentak bagai paduan suara. Hatiku masih sedih mama masih berkutat dengan pekerjaannya tapi ada teman-teman yang cukup menghibur.

Air rebusan soda api dibuang dan diganti dengan air bersih lalu berganti dengan air rendaman kaporit. Besok pagi baru bisa dibuang dan dibersihkan daun dari kaporit.

***

"Dillaaaa!!" Teriak mama menghancurkan mimpi indahku. Gatra mendadak berubah menjadi pangeran kerajaan inggris. Zzzz... Mama mengagetkanku!
"Sekalian pakai toak, Ma!"
"Sopan sama mama!"
"Maaf, Mama mengagetkan Dilla. Tumben belum berangkat kerja?" kelopak mataku masih menempel atas bawah, gosok-gosok biar jelas kalau pagi ini aku memang melihat mama.
"Ini gara-gara kamu, Mama jadi belum berangkat. Kekacauan apa yang kamu buat di dapur? Bagaimana mau masak?" Tanya mama dengan setengah melotot.
"Dilla mau cerita sama Mama, makanya kemarin telpon!" Aku dengan gemas coba menjelaskan.
"Ah, sudah. Mama sudah kesiangan, kamu makan di sekolah saja trus pulangnya beli lauk di warteg ya! Mama berangkat ...." Dengan cepat mama menuju motor matic menembus dinginnya waktu subuh di Kota Cimahi.

Mama benar-benar tidak memberiku kesempatan untuk bicara. Rasa geram memenuhi hatiku. Tanpa sadar kaki kanan menendang kursi makan dari besi minimalis. Aku muak dengan mama! Apa mama akan mencari jika aku tenggelam ke dasar bumi ini? Sungguh menggelikan jika pekerjaan itu adalah seorang anak maka aku adalah anak tiri mama. Andai aku masih punya papa, maka aku tak akan merasa kehilangan mama. Untuk apa mama harus bekerja seperti itu jika waktu denganku tak ada? Apa aku butuh uang sebanyak itu?

Hari libur. Anak kelas 12 try out pertama, pemanasan menghadapi ujian bulan Mei nanti. Masih lama sih, tapi sekolahku sangat ketat dalam hal ujian. Itulah sebabnya lulusan sekolahku mencetak murid-murid berprestasi sekota Bandung-Cimahi. Kesempatan untuk mengumpulkan daun mangga lagi dan membersihkan daun yang sudah direndam kaporit untuk diganti dengan rendaman hypoclorit agar hasil daun terlihat lebih putih bersih tak hanya daun tapi tulang tengah daun dan lebih lemas.

Aku berlari ke arah lapangan untuk mencari daun mangga kering. Terdengar sms, "Eh sipit! Udah selesai belum tugas designnya? Jangan buat karung goni ya? Kan nggak seru kalau aku menang tanpa kompetisi!"
Rrrggghh!!
Gatra menyebalkan! Dengan cepat reply kusentuh.
"Karung goni Mbahmu! Sekalian aku bikinin koteka buatmu!" Balasannya hanya emo ngejek dan muntah. Hmm ... Ganteng-ganteng tengil.

Coba pikir, siapa yang berani berurusan dengan Faradilla? Cantik, pintar, prestasi saja segudang, semua orang menyukaiku! Cuma orang tengil itu saja, Gatra tukang gara-gara!
"Dilla, kamu nggak sekolah?" Reiny menghampiri dengan sekotak daun mangga kering.
"Ada Try Out di sekolah, eh itu dari mana?" Aku bingung, di lapangan belum ada yang bersihkan.
"Kamu lupa ya? Di rumahku kan ada pohon mangga juga, jadi pas ibu mau nyapu halaman aku menawarkan diri membantunya!" Reiny tertawa saat menceritakan ibunya lebih kaget melihat Reiny mau membantu menyapu.
"Keren kamu! Ayo sekarang bantu yang ini?"
"Aku sekolah, kan kita beda sekolahannya? Bye ...." Reiny berlalu tanpa menghiraukanku dengan wajah tak berdaya.
Yah, sendiri lagi deh!

***

Mama masih tetap sama dan aku ingin menangis sekencang-kencangnya! Aku butuh mama. Tugas design ini menyulitkanku, kalau saja mama ada di sini membantuku pasti semua ini akan terasa mudah sekalipun hanya melihat dan menemani. Justru teman-temanlah yang melakukan semua ini bersamaku. Rumah sengaja aku buat berantakan pun sekarang jadi no coment. Tiap telepon pasti sedang rapat dan kalau telpon balik aku sedang tidur atau handphone sedang jauh dari jangkauan.

"Eh, sipit! Kalau mau menyerah kasih tahu ya? Jadi aku bisa pamer hasil karyaku sebelum dilihat juri! Keren kan? Aku mah gitu!" Sms Gatra mengagetkanku. Hampir saja saat menjahit furing baju aku tetap waspada walaupun ada sms dari Gatra, kalau tidak jari pasti sudah tertusuk jarum mesin!

"Ngarep! Dari awal sampai akhir jangan harap bisa mengalahkanku!" Aku lempar handphone. Mengganggu saja! Besok pagi hasil karya sudah harus dikumpulkan dan malam ini masih juga aku kerjakan.

Mamaaaaa! Pulanggggg!
Ingin menangis, tapi pekerjaanku tidak selesai.
Hufh!
Aku mencoba pemanasan, berlari kecil, menyanyi, berdiri di depan kaca. Aku pintar, cantik.
Aku memiliki rambut panjang hitam mengkilat. Langsing dengan kulit kuning langsat. Siapa yang tidak suka? Ada gingsul yang membuatku terlihat manis saat tersenyum. Dan tahi lalat di dagu kiri. Perpaduan yang ciamikkk!
Ayo! Semangat!

Menjahit di malam hari bukanlah hal yang mudah apalagi jika mata sudah mengantuk. Sesekali tidur lalu bangun dan mencuci muka. Menjahit kembali sampai tak terasa adzan subuh terdengar. Mama belum pulang? Aku cari handphone, ingat-ingat dimana terakhir kali aku menggunakannya.

Oh, kulempar saat sms Gatra tadi malam. Kemana ya? Keranjang daun kering! Di sana mahluk dingin yang bisa berbunyi itu berada. Ternyata, baterai dan handphone sudah terpisah akibat lemparan itu. Saat menyala, sudah banyak laporan yang isinya "Sayang, mama tidak bisa pulang karena lembur dan terlalu larut untuk memaksakan diri. Maafkan mama ya sayang?"

Horeee!!
Mama sukses buat moodku kacau!
Iya, sekalian nggak usah pulang-pulang lagi biar yang sampai uang. Aku nggak butuh mama. Benci mama! Aku menangis sejadinya. Takut gagal.

Uring-uringan. Menendang sampah sampai berterbangan. Tidak selesai! Matahari mulai bersinar. Apa yang harus aku lakukan!
Tidakkk!!
Teriakku sekenyang-kencangnya. Masuk kamar mandi, aku pukul-pukul air di bak mandi dengan gayung kosong.
Seharusnya ada mama! Mama tahu bagaimana menyelesaikannya! Mama lebih ahli!
Lelah membuatku terduduk menyandar di dinding bak mandi, menangis memanggil papa.

Diam mengatur emosi. Aku tidak boleh lemah. Tidak boleh kalah sebelum berperang. Biarlah hasil menjadi urusan nanti. Sekarang selesaikan semampuku. Mencoba menyelesaikan apa yang sudah aku kerjakan, jika memang tidak sebagus yang diharapkan biarlah! Yang penting aku sudah berusaha. Sebelum berangkat sekolah aku mencoba membereskan sisa-sisa sampah kotoran dari daun yang tidak terpakai.

Apa itu?
Di kotak sampah kenapa ada tisu berdarah? Aku tidak kena jarum. Apa teman-teman ada yang terluka ya? Tapi tidak ada yang mengatakannya semalam. Tisu itu sudah kering darahnya, apa mama mimisan seperti dulu? Ah, tidak mungkin. Mama sudah sembuh.

Smsku sukses, hari ini aku di antar orang tua Rara ke sekolah memakai mobil agar tidak sulit membawa hasil karyaku.
"Makasi ya, Om! Jadi ngerepotin," kataku sungkan. Aku sadar selalu merepotkan mereka dan ini bukan pertama kalinya.
"Kamu sudah seperti anak Om dan Tante juga, apalagi Rara selalu diajari banyak pelajaran. Sudah jangan bilang gitu lagi ya?" Mama Rara menyaut sambil membantu meletakan baju di pangkuanku.
"Iya, Tante." Kami berlalu tanpa Rara karena beda sekolah.

Ruang penjurian sudah penuh. Tak hanya kelima juri yang di antaranya dosen Fakultas Design Kyoto Seika University, dosen dan dekan Sekolah Tinggi Design Bandung. Serta dua designer dari Indonesia dan Jepang. Guru-guru ikut menjadi penonton beserta siswa-siswi lainnya. Ada juga guru-guru yang mengantar perwakilan dari sekolahnya masing-masing karena penjurian ini tidak hanya untukku dan Gatra tapi juga murid lain yang karya tulisnya lolos dari beberapa SMA seJawa Barat.

Design milik siswa SMA lain bagus-bagus. Gatra juga sempat membuatku mengalami serangan jantung. Ia membuat baju pesta malam dari bungkus kopi bahan plastik dan tampak berkilau. Cukup membuatku berdebar-debar.

"Kepada saudari Faradilla dari SMA 1 Cimahi silahkan demo hasil karya."

"Perkenalkan nama saya Faradilla siswi kelas 11. Bersyukur bisa sampai babak ini setelah karya tulis saya masuk nominasi. Babak ini mengambil tema design dengan inovasi dan kreatifitas tinggi menembus dunia international. Sempat membuat saya bingung dan berpikir keras. Butuh design apa yang bisa mendunia? Awalnya saya hanya seorang siswi pencinta lingkungan yang berharap dari daur ulang tanaman tidak hanya menjadi kompos tapi juga memiliki nilai seni tinggi dan daya jual mahal. Maha karya yang tak sembarangan. Dengan waktu yang terlalu singkat karena baru menemukan ide justru beberapa hari kebelakang...."

Ada perasaan bahagia saat baju milikku dengan tema "putih itu bersih dan indah" sanggup memukau para juri. Bahkan juri designer dari Jepang membuka mulutnya membentuk huruf "O" cukup lama. Aku tidak tahan ingin tertawa.

Juri dosen dari Kyoto Seika University mendekati temanku yang memakai baju daun mangga.
"Ini bukan kain yang dibentuk daun? Lembut!" Dengan aksen Jepang yang sangat kental.
"Bukan, ini daun dari pohon buah mangga."

Aku menunjukan meja demo. Daun kering buah mangga. Panci isi daun rebusan soda api. Panci isi daun rendaman air bersih. Panci isi daun rendaman kaporit. Panci isi daun rendaman air bersih. Panci isi daun dengan hypoclorit. Panci isi daun rendaman air bersih dan terakhir daun yang sudah berwarna putih yang sudah dikeringkan.

Demoku berhasil membuat para juri bertepuk tangan dan berjabat tangan. "Tunggu, daun ini kamu jahit dan disatukan dengan furing?" Tanya designer dari Indonesia.
"Iya, hypoclorit membuat daun menjadi putih dan lemas. Jadi tidak sulit untuk menjahitnya tapi harus pelan-pelan dan memberi jarak jahitan lebih lebar dari biasanya kain agar tidak mudah rusak."
"Ini butuh kesabaran yang tinggi, menyusun tiap helai daun menjadi barisan yang rapi dan menumpuk tersusun dari atas ke bawah. Hebat!" Dosen Sekolah Tinggi Design Bandung memujiku saat menghampiri baju dari daun mangga.
"Ini bisa dijadikan pakaian pengantin ya? Tinggal mempercantik dengan bunga," designer dari Jepang menambahkan dengan antusias.
"Kalau design ini lolos sekarang dan ditampilkan di acara peragaan busana pada malam penobatan, harus kamu percantik dengan accesories yang lebih keren ya?" Dekan dari Sekolah Tinggi Design Bandung menimpali seraya mendekat untuk berjabat tangan.

Tak adakah yang menyadari, kebahagiaan ini membuat tubuhku bergetar!

Mama!! Aku bahagiaaaa....

Selasa, 26 Juli 2016

Pempek Dos Tanpa Ikan

Pempek dos tanpa ikan
Bahan
250 ml air
1 sdm garam
125 gr tepung terigu
5 butir telur
200 gr tepung tapioka
1 sdm kaldu bubuk.
Cuka pempek
100 gram gula pasir
200gram gula aren asli
8 siung bawang putih
5 buah cabe rawit
2 sdm ebi kering
2 sdm garam
Asam jawa/kandis
20ml air
1 sdm tepung tapioka
Cara membuat:
250 ml air campur garam dan kaldu dalam satu panci kemudian panaskan. Masukan terigu sedikit demi sedikit sampai kalis dengan memakai spatula, kemudian diamkan sampai agak dingin.
Pindahkan ke wadah adonan tepung dan 2 telor untuk di mixer sampai menyatu. Tambahkan tepung tapioka sampai adonan bisa dibentuk.
Empat telur dikocok dengan sendok. Ambil adonan sesuai yang diinginkan, buat bentuk adonan cekung agar bisa diisi dengan telur kemudian tutup adonan.
Masak air dalam panci untuk merebus adonan pempek sampai mengambang.
Cara membuat cuka pempek:
Udang ebi cuci bersih, bawang putih dibakar, cabe, garam, ulek sampai halus.
Gula putih dibikin karamel (digosongkan di penggorengan, tanpa minyak) sudah hitam tambahkan air secukupnya untuk kuah cuka, masukan bumbu ulek, gula aren dan asam jawa/kandis. Tepung tapioka satu sendok makan campur dengan air 20ml. Sudah tercampur masukan ke dalam kuah cuka.

Senin, 30 Mei 2016

Pindah Faskes Bagi Pengguna BPJS Sangat Mudah

Pindah Faskes dari Puskesmas Pasundan Bandung ke Puskesmas Cipelang Sukabumi ternyata mudah dan cepat. Awal bulan Mei saya coba mendatangi kantor BPJS pusat di Kota Sukabumi demi mendapatkan informasi cara menggunakan kartu BPJS di kota ini. Anak-anak Pkl langsung memberi informasi yang mudah dan cepat. Isi formulir  yang sama dengan pembukaan baru, foto kopi kartu keluarga, foto kopi KTP dan kartu BPJS. karna syarat-syarat yang diperlukan tidak dibawa, saya kembali pulang dan memutuskan  untuk mengurusnya nanti akhir bulan setelah pembayaran iuran bulan terakhir dilunasi.

Akhir bulan setelah membayar di Alfamart saya langsung ikut antrian di kantor BPJS pusat di Kota Sukabumi yang sementara waktu ini pindah kantor ke ruko Ciaul. Saya dilayani staf wanita dengan cepat tidak sampai sepuluh menit dan antrian tidak begitu ramai karna saya datang siang. Saya sangat terbantu dan berterima kasih atas kinerja BPJS Sukabumi yang melayani dengan baik dan cepat.

Segala sesuatu tentang masalah BPJS bisa ditanyakan via web resmi www.bpjs-kesehatan.go.id atau di kota-kota domisili tempat tinggal. Alfamart dan Indomart sekarang sudah bisa melayani pembayaran iuran BPJS dengan cepat dan mudah. Dulu waktu BPJS baru ada saya menggunakan pembayaran iuran BPJS di bank Mandiri tapi karna sekarang pembayaran bisa dilakukan di Alfamart dan Indomart manapun ini tentu langkah cepat yang sudah diusahakan pihak BPJS.

Warga Kota Sukabumi yang merasa membutuhkan pelayanan BPJS silahkan ke ruko Ciaul depan Indomart dekat SMA 3 Sukabumi.

Senin, 08 Februari 2016

Yesterday in Bandung

https://youtu.be/SXkRZb1hzls

Yesterday in Bandung

Yesterday, all my troubles seemed so far away (Yesterday, The Beatles)

Seperti lima nada membentuk satu harmoni lagu, mereka memiliki masalah dan masa lalu yang bersinggungan.

Shaki, gadis Palembang dengan masalah korupsi sang ayah.

Zain, pemuda desa yang gila harta dan terjebak pergaulan hitam.

Tania, gadis riang yang masa lalunya kelam.

Dandi, pemuda tampan yang lari dari bayang-bayang masa lalu.

Aline, pemilik kos yang menyimpan banyak misteri.

Hidup di tempat tinggal yang sama membuat mereka menyadari bahwa semua punya cerita di hari kemarin, untuk dibagi di hari ini.

Sabtu, 30 Januari 2016

Yesterday in Bandung

https://youtu.be/obh8SK-TBj8

Yesterday in Bandung

Yesterday, all my troubles seemed so far away (Yesterday, The Beatles)

Seperti lima nada membentuk satu harmoni lagu, mereka memiliki masalah dan masa lalu yang bersinggungan.

Shaki, gadis Palembang dengan masalah korupsi sang ayah.

Zain, pemuda desa yang gila harta dan terjebak pergaulan hitam.

Tania, gadis riang yang masa lalunya kelam.

Dandi, pemuda tampan yang lari dari bayang-bayang masa lalu.

Aline, pemilik kos yang menyimpan banyak misteri.

Hidup di tempat tinggal yang sama membuat mereka menyadari bahwa semua punya cerita di hari kemarin, untuk dibagi di hari ini.

Minggu, 24 Januari 2016

Review novel elexmedia, Eternal Flame

Eternal Flame

Novel kolaborasi dari grup Bekasi cocok buat siapa pun yang berjiwa muda dan seru. Yeah! Bahkan tetep cocok untuk yang masih mau memelihara jiwa mudanya, misal gw. Hehehe ... Plak!

Baca novel ini berasa kembali ke umur 20an, dimana cinta ditarik dan diulur. Ditangisi dan dibenci tapi dirindui untuk terus dirasakan.

Seorang Edo yang menggemaskan dan gw merasa ditampar keras. Yeah! Gimana engga, berasa sebelas dua belas karna tidak juga move on.

Dimas, cowo satu ini yang mewakili cowo-cowo zaman sekarang. Sayang meninggalkan yang lama dan tergelitik hangat gimana gitu ... Saat liat yang baru. Pengennya ngebandingin, kali aja yang lama bisa nutup kekurangannya dengan yang baru. Kisah cinta yang terhalang ego seorang ibu. Hiks ... Gw banget juga ini. Kok selalu baper ya gw baca novel ini?

Hati gw dibuat gemas baca novel ini nih! Rasanya gw pengen masuk dalam tokoh dan membuat semuanya menjadi semakin rumit, hehehe ....

Tapi, tetap selalu ada yang menyenangkan. Merasakan indahnya dunia fiksi. Butuh kerjaan langsung dapat jadi waitres, keluar kerja trus dapat lagi jadi translator. Duh! Andai dunia ini semudah dunia fiksi, maulah gw. Hehehe ....

Gw sebenernya ribet baca ceritanya, kompleks. Tapi, sayang untuk disudahi.

Satria, yeah! Sepertinya gw merindukan sosok ksatria berkuda mirip Satria. Hehehe ... Laki-laki yang pantas gw tunggu. Harapan seorang Rena penderita lupus. Terus terang, perasaan ingin membaca novel ini setelah tahu ternyata ada cerita tentang lupus.

Pastinya, cerita berakhir happy ending. Gw suka. Kemelut di dalamnya terurai dengan baik. Sayang banget memang jika tidak membaca novel satu ini.

Hmm ... Kolaborasi yang cukup ciamik!