Sabtu, 30 Juli 2016

Wajah Sakura di Cermin Dilla

Wajah Sakura di Cermin Dilla

Bab 1


"Dilla, ayo kamu bisa! Hufh ... Berpikir keras ... Ayo berpikir keras!” Teriakku dengan lantang.

Jika olimpiade matematika tingkat nasional saja bisa aku taklukan. Bertahan juara umum di SMA 1 Cimahi dari awal masuk saja sanggup. Masa iya lomba design yang diadakan Sekolah Tinggi Design Bandung bagi siswa-siswi SMA saja tidak bisa aku ikuti? Tapi design apa yang bisa membuat aku menang. Temanya saja design dengan inovasi dan kreatifitas tinggi menembus dunia international berarti bukan perkara mudah. Jika hanya mencari kain lalu menggambar dan menjahitnya menjadi baju itu hal biasa. Tentunya sekolah design tidak akan mengadakan lomba ini. Apalagi pemenang tingkat Nasional akan dipilih 10 orang kuliah dengan beasiswa di Kyoto Seika University.

Hufh!!
Aih, gila lah!!
Pikiran buntunya bukan main. Beasiswa menggiurkan. Bagaimana tidak, kuliah di universitas terbesar yang sangat terkenal dengan design dan manga. Bahkan ada museum manga di universitas itu. Apalagi, univeritas itulah dulu mama kuliah. Aku mau seperti mama dan merasakan indahnya Kyoto.

Huaaa!!
Jangan sampai kali ini harus kalah dari Gatra Sembara juga. Dari sejak masuk SMA aku, Faradilla saingan Gatra untuk mendapatkan juara umum dan menjadi ambisinya untuk menurunkan peringkatku. Aku tahu Gatra ikut dalam lomba design ini karena aku juga ikut. Shit! Karya ilmiahnya lolos juga sama denganku, makanya babak berikutnya Gatra juga mendapatkan kesempatan.

Gatra memang ganteng, idola di sekolah lagi! Mana ada anak perempuan yang tidak suka kecuali matanya picak. Eits! Mataku tidak picak tapi ... Hmmm... Menyukai laki-laki sama dengan membuang waktu masa depanku, itu yang pernah mama katakan. Iya, kalau aku pacaran mungkin akan seperti teman yang lain dengan nilai turun dan sibuk terus mengejar laki-laki. Hah! Akan menari pasti si Gatra saat melihat peringkatku menurun. Uh, usir pikiran ini!

Taman Perumahan Bukit Permata Cimahi ini tidak juga bisa memberikan setitik ide untukku. Hanya aku sendiri, menatap lapangan voli yang sepi dikelilingi pohon mangga dengan alas rumput. Kecuali itu, di lapangan voli menjadi hanya tanah. Rumput disekitarnya tidak dapat tumbuh akibat injakan pemain voli. Posisi rumput yang kurang baik, ia tidak berada di tempat yang menguntungkan. Berbeda dengan rumput di luar lapangan, hijau dan tumbuh subur. Di atas rumput beberapa daun mangga mati berjatuhan dan terlihat mencolok. Coklat di atas hijau.
Aku raih daun mangga mati. Keras. Dulu waktu masih sekolah dasar, daun ini dikeringkan untuk kerajinan tangan. Nanti akan tampak serat-serat daunnya saja. Terlihat indah.
Ya Tuhan!!
Aku ada ide. Daun ini harus aku kumpulkan.
"Dilaaaa!!" Rara dan teman-teman lainnya dari kejauhan menghampiri sekaligus mengagetkan. Aku bergeming, dan tetap memungut daun.
"Aih, sombong loh ... Diam aja! Lagi ngapain?" Tanya Rara ikut membungkuk.
"Lagi mencintai lingkungan!" Jawabku sekenanya.
Suasana berubah tawa ketika Rara cemberut karena penasaran.
"Ayo, kalian bantu aku! Kita kumpulkan semua daun mangga kering ini di satu tempat."
"Tunggu, aku ambil sapu dulu!" Rara setengah berlari mendekati rumahnya tepat di depan lapangan.
"Jangan!" Seruku dengan cepat. Gawat, bisa rusak daunku mana susah dapat idenya.
"Lah, kalau mau mencintai lingkungan ya disapu dong?" Rara tampak masih belum paham.
"Aku mencintai lingkungan makanya mau bersihin nih lapangan, tapi juga butuh daunnya utuh tanpa rusak sama sapu. Ngerti?" Rara hanya tersenyum sekalipun tampak ia masih kurang paham. Tapi memang begitu sifatnya, selalu penurut. Apalagi jika aku yang minta. Sifatnya memang tidak pernah mendominasi bertolak belakang denganku. Sejak kecil aku sudah menjadi pemimpin bagi mereka dan tidak ada yang sanggup protes karena aku satu-satunya yang mengajari mereka belajar. Hanya saja dari teman satu perumahan ini, aku sendiri yang lolos di SMA favorite lainnya di SMA 2 dan 3. SMA 1 tidak mengandalkan Nem untuk masuk tapi melalui ujian saringan kembali, itulah mengapa banyak murid yang menginginkan sekolahku.

Daun yang sudah kering dibersihkan dan dibawa ke rumah untuk direbus dengan campuran soda api yang sebelumnya aku minta Rara untuk membelikan. Rara dan teman-teman sangat menikmati ide yang sedang aku lakukan. "Dilla, ayo kita ambil daun hijaunya juga sekalian biar banyak dan tidak perlu mengumpulkannya lagi selama beberapa hari!" Rara dengan semangat meraih tanganku.
"Jangan! Hijau daun membutuhkan proses lebih lama. Itu tidak akan efektif, lebih baik tunggu besok sore kita kumpulkan lagi."

Saat rebusan daun sudah kecoklatan dan sudah tidak ada yang mengambang ketika direbus, aku diamkan daun dalam panci sampai airnya dingin.

Hari sudah gelap tapi mama masih juga belum pulang.
"Ma, kok belum pulang?" tanyaku di Handphone.
"Mama masih sibuk ya sayang ... Tidak usah ditunggu, tidurlah duluan."
"Tapi ada yang mau Dilla bicarakan, Ma!"
"Nanti jika sudah tidak lembur ya," Telpon dimatikan Mama tanpa peluk cium yang biasa kami lakukan.
Hufh!!

"Dilla, ini sudah dingin mau diapakan lagi?"
"Kalian pulang ya, sudah malam!"
"Yaaa ... Kita masih asik lohhh!"
"Baik, sampai proses pemutihan selesai kita sudahi ya!"
"Siappp!" Serentak bagai paduan suara. Hatiku masih sedih mama masih berkutat dengan pekerjaannya tapi ada teman-teman yang cukup menghibur.

Air rebusan soda api dibuang dan diganti dengan air bersih lalu berganti dengan air rendaman kaporit. Besok pagi baru bisa dibuang dan dibersihkan daun dari kaporit.

***

"Dillaaaa!!" Teriak mama menghancurkan mimpi indahku. Gatra mendadak berubah menjadi pangeran kerajaan inggris. Zzzz... Mama mengagetkanku!
"Sekalian pakai toak, Ma!"
"Sopan sama mama!"
"Maaf, Mama mengagetkan Dilla. Tumben belum berangkat kerja?" kelopak mataku masih menempel atas bawah, gosok-gosok biar jelas kalau pagi ini aku memang melihat mama.
"Ini gara-gara kamu, Mama jadi belum berangkat. Kekacauan apa yang kamu buat di dapur? Bagaimana mau masak?" Tanya mama dengan setengah melotot.
"Dilla mau cerita sama Mama, makanya kemarin telpon!" Aku dengan gemas coba menjelaskan.
"Ah, sudah. Mama sudah kesiangan, kamu makan di sekolah saja trus pulangnya beli lauk di warteg ya! Mama berangkat ...." Dengan cepat mama menuju motor matic menembus dinginnya waktu subuh di Kota Cimahi.

Mama benar-benar tidak memberiku kesempatan untuk bicara. Rasa geram memenuhi hatiku. Tanpa sadar kaki kanan menendang kursi makan dari besi minimalis. Aku muak dengan mama! Apa mama akan mencari jika aku tenggelam ke dasar bumi ini? Sungguh menggelikan jika pekerjaan itu adalah seorang anak maka aku adalah anak tiri mama. Andai aku masih punya papa, maka aku tak akan merasa kehilangan mama. Untuk apa mama harus bekerja seperti itu jika waktu denganku tak ada? Apa aku butuh uang sebanyak itu?

Hari libur. Anak kelas 12 try out pertama, pemanasan menghadapi ujian bulan Mei nanti. Masih lama sih, tapi sekolahku sangat ketat dalam hal ujian. Itulah sebabnya lulusan sekolahku mencetak murid-murid berprestasi sekota Bandung-Cimahi. Kesempatan untuk mengumpulkan daun mangga lagi dan membersihkan daun yang sudah direndam kaporit untuk diganti dengan rendaman hypoclorit agar hasil daun terlihat lebih putih bersih tak hanya daun tapi tulang tengah daun dan lebih lemas.

Aku berlari ke arah lapangan untuk mencari daun mangga kering. Terdengar sms, "Eh sipit! Udah selesai belum tugas designnya? Jangan buat karung goni ya? Kan nggak seru kalau aku menang tanpa kompetisi!"
Rrrggghh!!
Gatra menyebalkan! Dengan cepat reply kusentuh.
"Karung goni Mbahmu! Sekalian aku bikinin koteka buatmu!" Balasannya hanya emo ngejek dan muntah. Hmm ... Ganteng-ganteng tengil.

Coba pikir, siapa yang berani berurusan dengan Faradilla? Cantik, pintar, prestasi saja segudang, semua orang menyukaiku! Cuma orang tengil itu saja, Gatra tukang gara-gara!
"Dilla, kamu nggak sekolah?" Reiny menghampiri dengan sekotak daun mangga kering.
"Ada Try Out di sekolah, eh itu dari mana?" Aku bingung, di lapangan belum ada yang bersihkan.
"Kamu lupa ya? Di rumahku kan ada pohon mangga juga, jadi pas ibu mau nyapu halaman aku menawarkan diri membantunya!" Reiny tertawa saat menceritakan ibunya lebih kaget melihat Reiny mau membantu menyapu.
"Keren kamu! Ayo sekarang bantu yang ini?"
"Aku sekolah, kan kita beda sekolahannya? Bye ...." Reiny berlalu tanpa menghiraukanku dengan wajah tak berdaya.
Yah, sendiri lagi deh!

***

Mama masih tetap sama dan aku ingin menangis sekencang-kencangnya! Aku butuh mama. Tugas design ini menyulitkanku, kalau saja mama ada di sini membantuku pasti semua ini akan terasa mudah sekalipun hanya melihat dan menemani. Justru teman-temanlah yang melakukan semua ini bersamaku. Rumah sengaja aku buat berantakan pun sekarang jadi no coment. Tiap telepon pasti sedang rapat dan kalau telpon balik aku sedang tidur atau handphone sedang jauh dari jangkauan.

"Eh, sipit! Kalau mau menyerah kasih tahu ya? Jadi aku bisa pamer hasil karyaku sebelum dilihat juri! Keren kan? Aku mah gitu!" Sms Gatra mengagetkanku. Hampir saja saat menjahit furing baju aku tetap waspada walaupun ada sms dari Gatra, kalau tidak jari pasti sudah tertusuk jarum mesin!

"Ngarep! Dari awal sampai akhir jangan harap bisa mengalahkanku!" Aku lempar handphone. Mengganggu saja! Besok pagi hasil karya sudah harus dikumpulkan dan malam ini masih juga aku kerjakan.

Mamaaaaa! Pulanggggg!
Ingin menangis, tapi pekerjaanku tidak selesai.
Hufh!
Aku mencoba pemanasan, berlari kecil, menyanyi, berdiri di depan kaca. Aku pintar, cantik.
Aku memiliki rambut panjang hitam mengkilat. Langsing dengan kulit kuning langsat. Siapa yang tidak suka? Ada gingsul yang membuatku terlihat manis saat tersenyum. Dan tahi lalat di dagu kiri. Perpaduan yang ciamikkk!
Ayo! Semangat!

Menjahit di malam hari bukanlah hal yang mudah apalagi jika mata sudah mengantuk. Sesekali tidur lalu bangun dan mencuci muka. Menjahit kembali sampai tak terasa adzan subuh terdengar. Mama belum pulang? Aku cari handphone, ingat-ingat dimana terakhir kali aku menggunakannya.

Oh, kulempar saat sms Gatra tadi malam. Kemana ya? Keranjang daun kering! Di sana mahluk dingin yang bisa berbunyi itu berada. Ternyata, baterai dan handphone sudah terpisah akibat lemparan itu. Saat menyala, sudah banyak laporan yang isinya "Sayang, mama tidak bisa pulang karena lembur dan terlalu larut untuk memaksakan diri. Maafkan mama ya sayang?"

Horeee!!
Mama sukses buat moodku kacau!
Iya, sekalian nggak usah pulang-pulang lagi biar yang sampai uang. Aku nggak butuh mama. Benci mama! Aku menangis sejadinya. Takut gagal.

Uring-uringan. Menendang sampah sampai berterbangan. Tidak selesai! Matahari mulai bersinar. Apa yang harus aku lakukan!
Tidakkk!!
Teriakku sekenyang-kencangnya. Masuk kamar mandi, aku pukul-pukul air di bak mandi dengan gayung kosong.
Seharusnya ada mama! Mama tahu bagaimana menyelesaikannya! Mama lebih ahli!
Lelah membuatku terduduk menyandar di dinding bak mandi, menangis memanggil papa.

Diam mengatur emosi. Aku tidak boleh lemah. Tidak boleh kalah sebelum berperang. Biarlah hasil menjadi urusan nanti. Sekarang selesaikan semampuku. Mencoba menyelesaikan apa yang sudah aku kerjakan, jika memang tidak sebagus yang diharapkan biarlah! Yang penting aku sudah berusaha. Sebelum berangkat sekolah aku mencoba membereskan sisa-sisa sampah kotoran dari daun yang tidak terpakai.

Apa itu?
Di kotak sampah kenapa ada tisu berdarah? Aku tidak kena jarum. Apa teman-teman ada yang terluka ya? Tapi tidak ada yang mengatakannya semalam. Tisu itu sudah kering darahnya, apa mama mimisan seperti dulu? Ah, tidak mungkin. Mama sudah sembuh.

Smsku sukses, hari ini aku di antar orang tua Rara ke sekolah memakai mobil agar tidak sulit membawa hasil karyaku.
"Makasi ya, Om! Jadi ngerepotin," kataku sungkan. Aku sadar selalu merepotkan mereka dan ini bukan pertama kalinya.
"Kamu sudah seperti anak Om dan Tante juga, apalagi Rara selalu diajari banyak pelajaran. Sudah jangan bilang gitu lagi ya?" Mama Rara menyaut sambil membantu meletakan baju di pangkuanku.
"Iya, Tante." Kami berlalu tanpa Rara karena beda sekolah.

Ruang penjurian sudah penuh. Tak hanya kelima juri yang di antaranya dosen Fakultas Design Kyoto Seika University, dosen dan dekan Sekolah Tinggi Design Bandung. Serta dua designer dari Indonesia dan Jepang. Guru-guru ikut menjadi penonton beserta siswa-siswi lainnya. Ada juga guru-guru yang mengantar perwakilan dari sekolahnya masing-masing karena penjurian ini tidak hanya untukku dan Gatra tapi juga murid lain yang karya tulisnya lolos dari beberapa SMA seJawa Barat.

Design milik siswa SMA lain bagus-bagus. Gatra juga sempat membuatku mengalami serangan jantung. Ia membuat baju pesta malam dari bungkus kopi bahan plastik dan tampak berkilau. Cukup membuatku berdebar-debar.

"Kepada saudari Faradilla dari SMA 1 Cimahi silahkan demo hasil karya."

"Perkenalkan nama saya Faradilla siswi kelas 11. Bersyukur bisa sampai babak ini setelah karya tulis saya masuk nominasi. Babak ini mengambil tema design dengan inovasi dan kreatifitas tinggi menembus dunia international. Sempat membuat saya bingung dan berpikir keras. Butuh design apa yang bisa mendunia? Awalnya saya hanya seorang siswi pencinta lingkungan yang berharap dari daur ulang tanaman tidak hanya menjadi kompos tapi juga memiliki nilai seni tinggi dan daya jual mahal. Maha karya yang tak sembarangan. Dengan waktu yang terlalu singkat karena baru menemukan ide justru beberapa hari kebelakang...."

Ada perasaan bahagia saat baju milikku dengan tema "putih itu bersih dan indah" sanggup memukau para juri. Bahkan juri designer dari Jepang membuka mulutnya membentuk huruf "O" cukup lama. Aku tidak tahan ingin tertawa.

Juri dosen dari Kyoto Seika University mendekati temanku yang memakai baju daun mangga.
"Ini bukan kain yang dibentuk daun? Lembut!" Dengan aksen Jepang yang sangat kental.
"Bukan, ini daun dari pohon buah mangga."

Aku menunjukan meja demo. Daun kering buah mangga. Panci isi daun rebusan soda api. Panci isi daun rendaman air bersih. Panci isi daun rendaman kaporit. Panci isi daun rendaman air bersih. Panci isi daun dengan hypoclorit. Panci isi daun rendaman air bersih dan terakhir daun yang sudah berwarna putih yang sudah dikeringkan.

Demoku berhasil membuat para juri bertepuk tangan dan berjabat tangan. "Tunggu, daun ini kamu jahit dan disatukan dengan furing?" Tanya designer dari Indonesia.
"Iya, hypoclorit membuat daun menjadi putih dan lemas. Jadi tidak sulit untuk menjahitnya tapi harus pelan-pelan dan memberi jarak jahitan lebih lebar dari biasanya kain agar tidak mudah rusak."
"Ini butuh kesabaran yang tinggi, menyusun tiap helai daun menjadi barisan yang rapi dan menumpuk tersusun dari atas ke bawah. Hebat!" Dosen Sekolah Tinggi Design Bandung memujiku saat menghampiri baju dari daun mangga.
"Ini bisa dijadikan pakaian pengantin ya? Tinggal mempercantik dengan bunga," designer dari Jepang menambahkan dengan antusias.
"Kalau design ini lolos sekarang dan ditampilkan di acara peragaan busana pada malam penobatan, harus kamu percantik dengan accesories yang lebih keren ya?" Dekan dari Sekolah Tinggi Design Bandung menimpali seraya mendekat untuk berjabat tangan.

Tak adakah yang menyadari, kebahagiaan ini membuat tubuhku bergetar!

Mama!! Aku bahagiaaaa....

Tidak ada komentar: