WAJAH SAKURA DI CERMIN DILLA
Bab 2
NADIA
Semenjak memegang dua perusahaan waktuku
memang lebih banyak tersita untuk pekerjaan. Jam 3.00 Wib aku sudah bangun
untuk memasak agar Dilla tidak perlu jajan di luar. Beres-beres rumah baru
terakhir mandi dan bersiap-siap untuk berangkat jam 5.10 Wib dengan motor matic
perjuangan. Dilla bangun aku pergi, melawan dinginnya malam. Kantor utamaku di
perusahaan milik Wina, masuk jam 8.00 Wib. Perjalanan rumah ke kantor 45 menit.
Jam 5.55 Wib aku tidak berada di kantor Bersama Wina, tapi di sebuah butik
milik Christine seorang keturunan China. Waktuku dua jam untuk bekerja di sana.
Tempatnya bukan pabrik besar di depan
jalan raya tapi di sebuah komplek Villa Kembarmas. Ada dua rumah berdampingan
yang dijadikan satu. Rumah untuk tempat tinggal, di sebelahnya untuk tempat
produksi. Butik satu persatu mulai dibuka di beberapa mall wilayah kota
Bandung.
"Wina! Kemarin kamu cek tidak baju
yang di kirim ke butik saya yang di jalan Trunojoyo?" Christine masuk ruangan dengan suara
tinggi.
"Kenapa gitu, Bu?" Aku bingung
melihat Christine masuk membawa
mood buruk. Kami seumuran tapi karena ia bosku maka panggilan formal yang harus
diucapkan.
"Orang yang pesan mencak-mencak
sama saya di telpon! Katanya kita jorok, masa pakaian untuk acara ulang tahun
Gubernur Bandung kotor?" Marah-marahnya tidak akan berkesudahan jika
seperti ini pikirku.
"Saya yakin sudah cek beberapa kali
kalau gaun itu tidak ada cacat jahit apalagi sampai kotor! Kalau memang ibu
tidak percaya silahkan ditanya karyawannya satu persatu, karena malam sabtu
tidak saya tinggalkan bahkan
jam sudah menunjukan pukul 23.30 Wib," kataku dengan tegas. Aku tidak akan
setegas ini jika tidak yakin.
Christine diam, kemudian duduk di
sampingku. "Apa orang itu coba-coba menipu kita ya? Dia pikir saya bodoh,
akan saya bicarakan sama teman yang mengenalkan orang itu," buru-buru
Christine pergi berusaha menghindariku, tapi kemudian berbalik kembali.
"Win, saya mau baju kebaya yang
bisa dipakai untuk bekerja dan batik untuk acara pesta. Ada kolega yang memesan,"
Christine tersenyum mencoba berdamai dan mendekati meja design. Ia tahu waktuku
dipagi hari hanya sebentar jadi ia lebih banyak memberikan arahan kemudian aku
menggambar. Sore pulang jam 4.30 Wib baru aku kembali lagi ke butik untuk
memulai membuat patern maker, pola pakaian yang gambarnya sudah disetujui
sampai jam 21.30 Wib.
Gajiku dibayar sama seperti bekerja
dengan Wina. Hitungannya gaji bulanan staf hanya saja waktu menyesuaikan dan
itu sudah ada dalam perjanjian.
"Gambarnya ini saya buatkan
beberapa pilihan. Untuk kebaya akan terlihat feminim tapi tidak terlalu formal
dengan tangan tiga perempat dan kerah sunda."
"Win!!" Christine setengah
berteriak lari ke arah meja tamu membawa tisu. Hidung mimisan dan aku tidak
menyadarinya. "Kamu sakit?" Christine ketakutan mirip orang yang
phobia jika melihat darah.
"Panas dalam sedikit, nanti juga
sembuh." Aku tidak ingin melihatnya uring-uringan. Jujur memang
akhir-akhir ini badan mulai sering demam. Semoga sakit itu tidak kambuh lagi.
Gemetar tubuh christine melihat darah,
ia pamit ke rumah karena takut. Tidak lama pembantu keluar dari rumahnya,
membawakan susu dan bubur ayam. "Ini ibu tadi suruh saya belikan bubur
ayam dan buatkan susu, sarapan dulu mbak!" Wanita paruh baya yang cukup
ramah tersenyum dan mengelus-elus punggungku. Mengingatkanku pada simbok.
"Saya sudah sarapan tadi di rumah,
Bik, makasi...." Aku menatap cukup lama. Bagai sebuah cermin dari bola
mata miliknya tampak memantulkan sebuah kerinduan yang mulai terusik. Ah ... Andai
bisa kupeluk tubuh wanita
paruh baya ini. Kepalaku mulai sakit.
"Bik, punya paracetamol?"
Tanyaku sedikit berbisik karena mulai berdatangan karyawan di butik ini, tanda
jam 8.00 Wib sebentar lagi. Bibik mengangguk pergi dan kembali bersama satu
setrip paracetamol. Aku hanya membutuhkan satu. "Makasi Bik," aku
balik mengelus punggung tuanya.
Cepat-cepat aku membereskan apa yang
diinginkan Christine baru kemudian pergi ke arah jalan Sukarno-Hatta
tempat perusahaan Wina berada. Motor ini membantuku banyak bahkan ketika
Bandung mengalami kemacetan tingkat tinggi. Hanya membutuhkan waktu sekitar
lima menit saja aku sudah ada di depan gerbang depan. Pas jam absensi
menunjukan waktu berada di 8.00 Wib. Kecuali macet yang sampai tak bergerak.
Wina sudah duduk di ruanganku dengan
sekotak Tokyo Banana, kue khas Jepang dengan aroma pisang yang sangat terasa
dan berisi krim manis. Varian rasa di antaranya original, karamel, stroberi dan
coklat. Kue yang biasa dijual daerah Stasiun Tokyo, tapi untuk rasa cokelat hanya dijual
di Tokyo Sky Tree. Aku menyebutnya sebagai kue kenangan.
"Nad! Kue itu bukan pajangan tapi dimakan,
masa oleh-olehku dari Jepang cuma jadi tontonan saja?" Wina teman waktu
kuliah di Jepang mengagetkan. Seraya tertawa melihat kebodohanku. Ia tahu, aku
masih belum melupakan masa lalu.
"Tidak perlu repot bawa oleh-oleh,
Win! Aku jadi tidak enak."
"Nggaklah, Mana ada repot buat
teman terbaikku? Apalagi itu cuma Tokyo Banana, ada lagi kabar gembira lain
yang mau aku katakan!" Wina dengan antusias mendekatiku lebih dekat.
Bibirnya tepat di kuping.
"Tidak ada orang, kenapa harus
bisik-bisik?" Tanyaku sambil menjauhkan telinga, geli.
"Papa mengusulkan padaku kalau kamu
akan dapat bonus untuk dua orang tiket pp Jepang dan biaya liburan selama di
sana! Tapi setelah pekerjaan sudah mulai sedikit lebih ringan jika ditinggalkan." Wina
tertawa dan memeluk erat. Aku pura-pura bahagia mendengar berita ini.
Pekerjaan ini jauh lebih penting daripada jalan-jalan.
Sudah bukan waktunya lagi hanya memikirkan kesenangan, sementara kini Dilla
sudah mulai beranjak dewasa. Aku harus benar-benar memikirkan biaya kuliahnya
dengan cermat. Rasanya tidak adil jika anak satu-satunya tidak memiliki masa
depan. Apalagi ia anak yang pintar dan cukup berbakat.
Ada rasa bersalah saat Dilla kecewa aku
tidak bisa menjadi mama yang baik seperti yang diharapkannya. Memiliki waktu
luang yang cukup banyak dan intensitas komunikasi yang lebih sering.
Kemampuannya membuat sebuah design saat lomba antar SMA yang diselenggarakan
sebuah sekolah design membuatku bangga. Tanpa arahan dan bimbinganku ia dapat
melakukannya sendiri. Walapun harus berakhir dengan pertengkaran, jujur ...
Jauh di lubuk hati paling dalam, mama bangga padamu sayang!
"Nad, bahan meeting dengan buyer
kita dari Amerika sudah siap kan?" Tanya Wina memecahkan lamunanku.
"M-mm ... Sudah, ayo kita siap-siap
ke ruangan!" Cepat-cepat kertas yang tadi sempat terpisah aku kumpulkan
dalam satu map. Aku tidak ingin Wina marah karena berpikir aku masih belum
melupakan laki-laki itu.
Ruangan sudah ada Tan Wijaya, papa Wina
dan buyer Amerika, Miss Angela Higgins. Proyektor sudah menyala. Di sebelahnya
sudah ada Bu Laily
manager marketing perusahaan. Aku menyalami Miss Angela yang sudah kukenal dari 11 tahun yang
lalu sebagai buyer tetap. Ia seorang blasteran American Indian dengan China Daratan. Tampak
aneh memang, tidak 100 persen bule. Matanya sipit tapi bola mata kebiruan.
Hidungnya tidak terlalu mancung. Postur tubuh pendek tapi lainnya terlihat
bule. Terutama itu, masih ada ciri rambut pirang keemasan bergelombang berpadu
dengan kulit pucat bintik-bintik coklat. Tidak lama Arlin, asisten designerku
datang bersama beberapa puluh sample baju yang akan dipamerkan.
"Ini koleksi design perusahaan
untuk musim semi, warna-warna soft dengan
aceccories bunga-bunga dan payet
mendominasi untuk gaun anak-anak." Aku mengganti beberapa gambar di atas
proyektor bersamaan dengan Arlin menunjukan koleksi aslinya yang sudah menjadi
sample baju.
"Tolong diulang gaun anak yang
memiliki renda hias di bawahnya!" Tunjuk Miss Angela ke arah Arlin.
"Ini?" Arlin dengan cepat
menggantung kembali model yang diinginkan buyer.
"Ya... M-mm ... Entahlah, saya
melihat model ini seperti ada sesuatu yang tidak begitu menarik. Tapi
apa?" Tampak ragu-ragu kemudian bolak-balik melirik baju yang lain.
"Bagaimana kalau aceccoriesnya
diganti? Bentuk aceccoriesnya
mematikan bentuk baju yang terlihat seksi dan feminim," aku dengan cepat
menghampiri aceccories tambahan yang
sengaja disediakan jika Miss Angela datang. Memang kebiasaannya atau mungkin
disebut ciri khas buyer.
"Ah, betul! Saya suka bagian di
bahu itu diganti aceccoriesnya dengan
bunga yang lebih kecil-kecil atau cukup payet saja," Miss Angela
tersenyum.
Aku mencoba mengganti dan menjahit aceccories lain yang sengaja dipilih
dengan meminta persetujuannya terlebih dahulu. Arlin tampak cemberut, ia sadar Miss Angela
termasuk yang paling rewel di antara buyer lain tapi juga termasuk buyer yang
setia. Hal yang lebih membuat Arlin uring-uringan, ia akan bolak-balik membongkar
pasang baju jika meeting dengan Miss Angela. Dan, meeting bersamanya seperti
hidup tanpa makan dan minum. Hahaha ... Bagaimana tidak? Gonta-ganti aceccories saja kadang bisa sampai malam
dan ia termasuk buyer yang terlampau teliti. Kelelahan akan terbayar dengan
konfirmasi order yang sampai lima puluh lebih sample hanya untuk gaun, belum
lagi untuk casual. Bisa tiga hari meeting dari pagi pulang malam. Orderannya
tidak sedikit, minimum order bisa tiga puluh ribu pieces per model sample baju.
Hati atasan senang gembira, sebagai bawahan siap-siap bonus menempel di jajaran
gaji.
"Miss Angela, sekarang saya siapkan
berkas konfirmasi ordernya ya? Biar sekalian di tanda tangani ...." Dengan
cepat Laily menimpali sebelum kehilangan kesempatan mendapatkan order yang
sudah ditanda tangani. Telat sedikit, besok ia akan berkejar-kejaran dengan
buyer yang jalannya selalu super cepat.
"Oke!" Dengan jari telunjuk
dan jempol disatukan Miss Angela menyetujui
keinginan Laily.
***
Aku mencium kening Dilla sebelum berangkat
ke Jakarta dini hari ini. Maafkan mama ya sayang ... Love you.
"Ma, haruskah hari ini pergi
juga?" Dilla mengagetkan seraya menarik tanganku.
"Mama ada pekerjaan ke luar kota
hari ini sayang ... Besok ya?" Jawabku dengan lembut. Aku sadar apa yang sebenarnya Dilla
inginkan.
"Ada yang mau Dilla ceritakan,
tidakkah mama bisa seperti ibu orang lain yang walaupun bekerja tetap
berangkatnya jam tujuh pagi.
Bukan sekarang, adzan subuh saja belum terdengar!" Tiba-tiba Dilla
mengeraskan suaranya dengan sorot mata tajam.
"Ini karena mama harus ke Jakarta,
sayang ...." Aku memeluk Dilla sebentar.
"Jangan pergi!" Dilla merajuk
plus tambahannya disebut membentak.
"Dilla! Siapa yang mengajarimu
untuk tidak sopan seperti itu?" Jawabku dengan lebih keras lagi.
"Mama tidak suka kamu menjadi anak yang tidak diajar sopan santun! Apa
mama pernah mengajarkanmu untuk bersikap seperti itu?" Hatiku mulai
memanas.
"Tidak! Mama tidak mengajarkan aku
apapun, mama hanya sibuk bekerja! Mana ada waktu untukku?" Dilla mulai
meneteskan cairan bening di sudut matanya. "Mama pergi saja! Gantikan
dengan papa, kembalikan papa padaku, ma! Aku mau papa!" Dilla menangis
histeris.
Plakk!!
Mata Dilla terbelalak dan aku masih
kaget dengan apa yang baru kulakukan. Kesadaranku hilang, tanpa terasa telapak
tanganku menghentikan emosi Dilla. Aku coba meraih Dilla tapi terlambat ... Ia
sudah berlari mengunci diri di kamar mandi. Sia-sia juga saat kupanggil-panggil
dan berusaha minta maaf. Dilla sudah tidak akan bisa dibujuk saat itu juga.
Aku meninggalkan Dilla sendiri di rumah
bersama secarik kertas permintaan maaf yang ditempel di atas meja belajarnya.
Ojek yang sudah menunggu di depan rumah dengan cepat membawaku ke Patung Kuda, Perumahan Permata Cimahi. Patung
depan perumahan tepat di pinggir jalan raya Cimahi-Cimareme, Wina sudah
menunggu di dalam mobil Camry miliknya.
"Maaf Win, lama menungguku ya?
Dilla susah dibangunkan. Tadinya mau kukunci dari luar dan kuncinya aku
selipkan di tempat biasa, tapi semalam aku menemukannya sudah tidur."
"Nggaklah ... Aku ngerti kok, baru
juga sampai. Kasihan juga Dilla, semoga pulang dari Jakarta pekerjaanmu sedikit
berkurang ya?" Wina mencoba menenangkanku.
"Mungkin karena sekarang Dilla
sudah remaja dan memang masanya untuk memberontak dan sulit untuk diberi
pengertian."
"Aku rasa tidak begitu, Nad! Dilla
itu anak yang cerdas. Mungkin ia hanya membutuhkan waktumu lebih banyak dari
biasanya," Wina tersenyum dengan tanpa melepaskan pandangannya dari
kemudi. Wina memang lebih suka menyetir sendiri dibanding memakai supir. Kadang
kami bergantian jika perjalanan jauh.
"Mungkin karena sejak kecil Dilla
selalu memiliki sekolah yang dekat dengan kantor, pulang sekolah ke kantor,
main di kantor, tidur siang di kantor. Di kantorlah rumah sekaligus mamanya.
Rasa memiliki waktu mama lebih banyak. Hanya saja semenjak SMA aku ingin ia mandiri
dan memiliki sekolah yang bagus dalam hal prestasi dan pendidikan moral
anak."
"Itulah! Makanya sekarang Dilla
seperti tidak terima," Wina menimpali sambil menjulurkan kepalanya ke
mesin pengambilan tiket tol. Ia kejauhan menghentikan mobil dan malas untuk
mundur.
"Tapi waktu mengawali di kelas
sepuluh sampai naik ke kelas sebelas Dilla tak pernah mengeluh, Win! Makanya
aku kaget juga tadi saat melihat wajahnya yang penuh amarah itu," mulutku
bergetar mengatakan apa yang telah terjadi tadi.
"Kalian bertengkar?" Wina
serasa tak percaya saat aku mengangguk sebagai tanda 'ya'.
"Wahhh ... Padahal dari kecil
sampai terakhir kulihat, ia anak penurut ya, Nad?" Wina menggelengkan
kepala tanda tak percaya.
Aku memang salah, tak seharusnya
melakukan kekerasan padanya dan tidak meninggalkan dalam keadaan belum
berdamai. Ingatanku terbang
mengingatnya. Seandainya kamu masih ada, mungkin Dilla tidak akan
seperti ini. Sakit rasanya hatiku mengingatmu. Begitu sulitnya menghadapi semua
ini sendiri.
Kadang aku ingin ke Yogyakarta setiap kali
masalah menghimpit. Hanya untuk sekedar menangis dipangkuannya. Merindukan
untuk hanya sekadar memeluk dan memandangi wajah teduh itu. Ibu maafkan aku yang telah
membuatmu kecewa, kini, inilah balasan yang harus aku tanggung sendiri. Tanpa
sadar, air mata mengalir pelan. Aku membuang muka ke arah jendela samping,
menyembunyikan kerinduan yang sudah tak terbendung.
Wina menyelipkan tisu di tangan kananku.
Dug!!
Wina tahu aku sudah mulai meleleh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar