Minggu, 31 Juli 2016

Wajah Sakura di Cermin Dilla

WAJAH SAKURA DI CERMIN DILLA

Bab 2
NADIA


Semenjak memegang dua perusahaan waktuku memang lebih banyak tersita untuk pekerjaan. Jam 3.00 Wib aku sudah bangun untuk memasak agar Dilla tidak perlu jajan di luar. Beres-beres rumah baru terakhir mandi dan bersiap-siap untuk berangkat jam 5.10 Wib dengan motor matic perjuangan. Dilla bangun aku pergi, melawan dinginnya malam. Kantor utamaku di perusahaan milik Wina, masuk jam 8.00 Wib. Perjalanan rumah ke kantor 45 menit. Jam 5.55 Wib aku tidak berada di kantor Bersama Wina, tapi di sebuah butik milik Christine seorang keturunan China. Waktuku dua jam untuk bekerja di sana.

Tempatnya bukan pabrik besar di depan jalan raya tapi di sebuah komplek Villa Kembarmas. Ada dua rumah berdampingan yang dijadikan satu. Rumah untuk tempat tinggal, di sebelahnya untuk tempat produksi. Butik satu persatu mulai dibuka di beberapa mall wilayah kota Bandung.

"Wina! Kemarin kamu cek tidak baju yang di kirim ke butik saya yang di jalan Trunojoyo?" Christine masuk ruangan dengan suara tinggi.

"Kenapa gitu, Bu?" Aku bingung melihat Christine masuk membawa mood buruk. Kami seumuran tapi karena ia bosku maka panggilan formal yang harus diucapkan.

"Orang yang pesan mencak-mencak sama saya di telpon! Katanya kita jorok, masa pakaian untuk acara ulang tahun Gubernur Bandung kotor?" Marah-marahnya tidak akan berkesudahan jika seperti ini pikirku.

"Saya yakin sudah cek beberapa kali kalau gaun itu tidak ada cacat jahit apalagi sampai kotor! Kalau memang ibu tidak percaya silahkan ditanya karyawannya satu persatu, karena malam sabtu tidak saya tinggalkan bahkan jam sudah menunjukan pukul 23.30 Wib," kataku dengan tegas. Aku tidak akan setegas ini jika tidak yakin.

Christine diam, kemudian duduk di sampingku. "Apa orang itu coba-coba menipu kita ya? Dia pikir saya bodoh, akan saya bicarakan sama teman yang mengenalkan orang itu," buru-buru Christine pergi berusaha menghindariku, tapi kemudian berbalik kembali.

"Win, saya mau baju kebaya yang bisa dipakai untuk bekerja dan batik untuk acara pesta. Ada kolega yang memesan," Christine tersenyum mencoba berdamai dan mendekati meja design. Ia tahu waktuku dipagi hari hanya sebentar jadi ia lebih banyak memberikan arahan kemudian aku menggambar. Sore pulang jam 4.30 Wib baru aku kembali lagi ke butik untuk memulai membuat patern maker, pola pakaian yang gambarnya sudah disetujui sampai jam 21.30 Wib.

Gajiku dibayar sama seperti bekerja dengan Wina. Hitungannya gaji bulanan staf hanya saja waktu menyesuaikan dan itu sudah ada dalam perjanjian.

"Gambarnya ini saya buatkan beberapa pilihan. Untuk kebaya akan terlihat feminim tapi tidak terlalu formal dengan tangan tiga perempat dan kerah sunda."

"Win!!" Christine setengah berteriak lari ke arah meja tamu membawa tisu. Hidung mimisan dan aku tidak menyadarinya. "Kamu sakit?" Christine ketakutan mirip orang yang phobia jika melihat darah.

"Panas dalam sedikit, nanti juga sembuh." Aku tidak ingin melihatnya uring-uringan. Jujur memang akhir-akhir ini badan mulai sering demam. Semoga sakit itu tidak kambuh lagi.

Gemetar tubuh christine melihat darah, ia pamit ke rumah karena takut. Tidak lama pembantu keluar dari rumahnya, membawakan susu dan bubur ayam. "Ini ibu tadi suruh saya belikan bubur ayam dan buatkan susu, sarapan dulu mbak!" Wanita paruh baya yang cukup ramah tersenyum dan mengelus-elus punggungku. Mengingatkanku pada simbok.

"Saya sudah sarapan tadi di rumah, Bik, makasi...." Aku menatap cukup lama. Bagai sebuah cermin dari bola mata miliknya tampak memantulkan sebuah kerinduan yang mulai terusik. Ah ... Andai bisa kupeluk tubuh wanita paruh baya ini. Kepalaku mulai sakit.

"Bik, punya paracetamol?" Tanyaku sedikit berbisik karena mulai berdatangan karyawan di butik ini, tanda jam 8.00 Wib sebentar lagi. Bibik mengangguk pergi dan kembali bersama satu setrip paracetamol. Aku hanya membutuhkan satu. "Makasi Bik," aku balik mengelus punggung tuanya.

Cepat-cepat aku membereskan apa yang diinginkan Christine baru kemudian pergi ke arah jalan Sukarno-Hatta tempat perusahaan Wina berada. Motor ini membantuku banyak bahkan ketika Bandung mengalami kemacetan tingkat tinggi. Hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit saja aku sudah ada di depan gerbang depan. Pas jam absensi menunjukan waktu berada di 8.00 Wib. Kecuali macet yang sampai tak bergerak.

Wina sudah duduk di ruanganku dengan sekotak Tokyo Banana, kue khas Jepang dengan aroma pisang yang sangat terasa dan berisi krim manis. Varian rasa di antaranya original, karamel, stroberi dan coklat. Kue yang biasa dijual daerah Stasiun Tokyo, tapi untuk rasa cokelat hanya dijual di Tokyo Sky Tree. Aku menyebutnya sebagai kue kenangan.

"Nad! Kue itu bukan pajangan tapi dimakan, masa oleh-olehku dari Jepang cuma jadi tontonan saja?" Wina teman waktu kuliah di Jepang mengagetkan. Seraya tertawa melihat kebodohanku. Ia tahu, aku masih belum melupakan masa lalu.
"Tidak perlu repot bawa oleh-oleh, Win! Aku jadi tidak enak."
"Nggaklah, Mana ada repot buat teman terbaikku? Apalagi itu cuma Tokyo Banana, ada lagi kabar gembira lain yang mau aku katakan!" Wina dengan antusias mendekatiku lebih dekat. Bibirnya tepat di kuping.
"Tidak ada orang, kenapa harus bisik-bisik?" Tanyaku sambil menjauhkan telinga, geli.
"Papa mengusulkan padaku kalau kamu akan dapat bonus untuk dua orang tiket pp Jepang dan biaya liburan selama di sana! Tapi setelah pekerjaan sudah mulai sedikit lebih ringan jika ditinggalkan." Wina tertawa dan memeluk erat. Aku pura-pura bahagia mendengar berita ini.

Pekerjaan ini jauh lebih penting daripada jalan-jalan. Sudah bukan waktunya lagi hanya memikirkan kesenangan, sementara kini Dilla sudah mulai beranjak dewasa. Aku harus benar-benar memikirkan biaya kuliahnya dengan cermat. Rasanya tidak adil jika anak satu-satunya tidak memiliki masa depan. Apalagi ia anak yang pintar dan cukup berbakat.

Ada rasa bersalah saat Dilla kecewa aku tidak bisa menjadi mama yang baik seperti yang diharapkannya. Memiliki waktu luang yang cukup banyak dan intensitas komunikasi yang lebih sering. Kemampuannya membuat sebuah design saat lomba antar SMA yang diselenggarakan sebuah sekolah design membuatku bangga. Tanpa arahan dan bimbinganku ia dapat melakukannya sendiri. Walapun harus berakhir dengan pertengkaran, jujur ... Jauh di lubuk hati paling dalam, mama bangga padamu sayang!

"Nad, bahan meeting dengan buyer kita dari Amerika sudah siap kan?" Tanya Wina memecahkan lamunanku.
"M-mm ... Sudah, ayo kita siap-siap ke ruangan!" Cepat-cepat kertas yang tadi sempat terpisah aku kumpulkan dalam satu map. Aku tidak ingin Wina marah karena berpikir aku masih belum melupakan laki-laki itu.

Ruangan sudah ada Tan Wijaya, papa Wina dan buyer Amerika, Miss Angela Higgins. Proyektor sudah menyala. Di sebelahnya sudah ada Bu Laily manager marketing perusahaan. Aku menyalami Miss Angela yang sudah kukenal dari 11 tahun yang lalu sebagai buyer tetap. Ia seorang blasteran American Indian dengan China Daratan. Tampak aneh memang, tidak 100 persen bule. Matanya sipit tapi bola mata kebiruan. Hidungnya tidak terlalu mancung. Postur tubuh pendek tapi lainnya terlihat bule. Terutama itu, masih ada ciri rambut pirang keemasan bergelombang berpadu dengan kulit pucat bintik-bintik coklat. Tidak lama Arlin, asisten designerku datang bersama beberapa puluh sample baju yang akan dipamerkan.

"Ini koleksi design perusahaan untuk musim semi, warna-warna soft dengan aceccories bunga-bunga dan payet mendominasi untuk gaun anak-anak." Aku mengganti beberapa gambar di atas proyektor bersamaan dengan Arlin menunjukan koleksi aslinya yang sudah menjadi sample baju.

"Tolong diulang gaun anak yang memiliki renda hias di bawahnya!" Tunjuk Miss Angela ke arah Arlin.

"Ini?" Arlin dengan cepat menggantung kembali model yang diinginkan buyer.

"Ya... M-mm ... Entahlah, saya melihat model ini seperti ada sesuatu yang tidak begitu menarik. Tapi apa?" Tampak ragu-ragu kemudian bolak-balik melirik baju yang lain.
"Bagaimana kalau aceccoriesnya diganti? Bentuk aceccoriesnya mematikan bentuk baju yang terlihat seksi dan feminim," aku dengan cepat menghampiri aceccories tambahan yang sengaja disediakan jika Miss Angela datang. Memang kebiasaannya atau mungkin disebut ciri khas buyer.
"Ah, betul! Saya suka bagian di bahu itu diganti aceccoriesnya dengan bunga yang lebih kecil-kecil atau cukup payet saja," Miss Angela tersenyum.

Aku mencoba mengganti dan menjahit aceccories lain yang sengaja dipilih dengan meminta persetujuannya terlebih dahulu. Arlin tampak cemberut, ia sadar Miss Angela termasuk yang paling rewel di antara buyer lain tapi juga termasuk buyer yang setia. Hal yang lebih membuat Arlin uring-uringan, ia akan bolak-balik membongkar pasang baju jika meeting dengan Miss Angela. Dan, meeting bersamanya seperti hidup tanpa makan dan minum. Hahaha ... Bagaimana tidak? Gonta-ganti aceccories saja kadang bisa sampai malam dan ia termasuk buyer yang terlampau teliti. Kelelahan akan terbayar dengan konfirmasi order yang sampai lima puluh lebih sample hanya untuk gaun, belum lagi untuk casual. Bisa tiga hari meeting dari pagi pulang malam. Orderannya tidak sedikit, minimum order bisa tiga puluh ribu pieces per model sample baju. Hati atasan senang gembira, sebagai bawahan siap-siap bonus menempel di jajaran gaji.

"Miss Angela, sekarang saya siapkan berkas konfirmasi ordernya ya? Biar sekalian di tanda tangani ...." Dengan cepat Laily menimpali sebelum kehilangan kesempatan mendapatkan order yang sudah ditanda tangani. Telat sedikit, besok ia akan berkejar-kejaran dengan buyer yang jalannya selalu super cepat.

"Oke!" Dengan jari telunjuk dan jempol disatukan Miss Angela menyetujui keinginan Laily.

***

Aku mencium kening Dilla sebelum berangkat ke Jakarta dini hari ini. Maafkan mama ya sayang ... Love you.

"Ma, haruskah hari ini pergi juga?" Dilla mengagetkan seraya menarik tanganku.

"Mama ada pekerjaan ke luar kota hari ini sayang ... Besok ya?" Jawabku dengan lembut. Aku sadar apa yang sebenarnya Dilla inginkan.

"Ada yang mau Dilla ceritakan, tidakkah mama bisa seperti ibu orang lain yang walaupun bekerja tetap berangkatnya jam tujuh pagi. Bukan sekarang, adzan subuh saja belum terdengar!" Tiba-tiba Dilla mengeraskan suaranya dengan sorot mata tajam.

"Ini karena mama harus ke Jakarta, sayang ...." Aku memeluk Dilla sebentar.

"Jangan pergi!" Dilla merajuk plus tambahannya disebut membentak.

"Dilla! Siapa yang mengajarimu untuk tidak sopan seperti itu?" Jawabku dengan lebih keras lagi. "Mama tidak suka kamu menjadi anak yang tidak diajar sopan santun! Apa mama pernah mengajarkanmu untuk bersikap seperti itu?" Hatiku mulai memanas.

"Tidak! Mama tidak mengajarkan aku apapun, mama hanya sibuk bekerja! Mana ada waktu untukku?" Dilla mulai meneteskan cairan bening di sudut matanya. "Mama pergi saja! Gantikan dengan papa, kembalikan papa padaku, ma! Aku mau papa!" Dilla menangis histeris.

Plakk!!
Mata Dilla terbelalak dan aku masih kaget dengan apa yang baru kulakukan. Kesadaranku hilang, tanpa terasa telapak tanganku menghentikan emosi Dilla. Aku coba meraih Dilla tapi terlambat ... Ia sudah berlari mengunci diri di kamar mandi. Sia-sia juga saat kupanggil-panggil dan berusaha minta maaf. Dilla sudah tidak akan bisa dibujuk saat itu juga.

Aku meninggalkan Dilla sendiri di rumah bersama secarik kertas permintaan maaf yang ditempel di atas meja belajarnya. Ojek yang sudah menunggu di depan rumah dengan cepat membawaku ke Patung Kuda, Perumahan Permata Cimahi. Patung depan perumahan tepat di pinggir jalan raya Cimahi-Cimareme, Wina sudah menunggu di dalam mobil Camry miliknya.

"Maaf Win, lama menungguku ya? Dilla susah dibangunkan. Tadinya mau kukunci dari luar dan kuncinya aku selipkan di tempat biasa, tapi semalam aku menemukannya sudah tidur."

"Nggaklah ... Aku ngerti kok, baru juga sampai. Kasihan juga Dilla, semoga pulang dari Jakarta pekerjaanmu sedikit berkurang ya?" Wina mencoba menenangkanku.

"Mungkin karena sekarang Dilla sudah remaja dan memang masanya untuk memberontak dan sulit untuk diberi pengertian."

"Aku rasa tidak begitu, Nad! Dilla itu anak yang cerdas. Mungkin ia hanya membutuhkan waktumu lebih banyak dari biasanya," Wina tersenyum dengan tanpa melepaskan pandangannya dari kemudi. Wina memang lebih suka menyetir sendiri dibanding memakai supir. Kadang kami bergantian jika perjalanan jauh.

"Mungkin karena sejak kecil Dilla selalu memiliki sekolah yang dekat dengan kantor, pulang sekolah ke kantor, main di kantor, tidur siang di kantor. Di kantorlah rumah sekaligus mamanya. Rasa memiliki waktu mama lebih banyak. Hanya saja semenjak SMA aku ingin ia mandiri dan memiliki sekolah yang bagus dalam hal prestasi dan pendidikan moral anak."

"Itulah! Makanya sekarang Dilla seperti tidak terima," Wina menimpali sambil menjulurkan kepalanya ke mesin pengambilan tiket tol. Ia kejauhan menghentikan mobil dan malas untuk mundur.

"Tapi waktu mengawali di kelas sepuluh sampai naik ke kelas sebelas Dilla tak pernah mengeluh, Win! Makanya aku kaget juga tadi saat melihat wajahnya yang penuh amarah itu," mulutku bergetar mengatakan apa yang telah terjadi tadi.

"Kalian bertengkar?" Wina serasa tak percaya saat aku mengangguk sebagai tanda 'ya'.

"Wahhh ... Padahal dari kecil sampai terakhir kulihat, ia anak penurut ya, Nad?" Wina menggelengkan kepala tanda tak percaya.

Aku memang salah, tak seharusnya melakukan kekerasan padanya dan tidak meninggalkan dalam keadaan belum berdamai. Ingatanku terbang mengingatnya. Seandainya kamu masih ada, mungkin Dilla tidak akan seperti ini. Sakit rasanya hatiku mengingatmu. Begitu sulitnya menghadapi semua ini sendiri.

Kadang aku ingin ke Yogyakarta setiap kali masalah menghimpit. Hanya untuk sekedar menangis dipangkuannya. Merindukan untuk hanya sekadar memeluk dan memandangi wajah teduh itu. Ibu maafkan aku yang telah membuatmu kecewa, kini, inilah balasan yang harus aku tanggung sendiri. Tanpa sadar, air mata mengalir pelan. Aku membuang muka ke arah jendela samping, menyembunyikan kerinduan yang sudah tak terbendung.

Wina menyelipkan tisu di tangan kananku.
Dug!!
Wina tahu aku sudah mulai meleleh.

Tidak ada komentar: