Sabtu, 03 Oktober 2015

Terang Rembulan di Kota Paris Van Java

Status, hanya karena status malam-malam sesenggukan di kamar mandi. Seharusnya tidak mandi malam, ini seperti orang mandi junub. Alasannya hanya satu, status teman yang mengatakan kamu sedang ke kotaku bertemu teman-teman. Jauh-jauh, ingat pun tidak apa lagi tiba-tiba datang dan memeluk.
Apalah aku, takdir kita sudah kau cabut kala itu bukan? Aku yang jangan menanam harap apalagi hayal wajahmu terukir di depan mata dengan senyum khas.
Aku hanya harus memeras hati dan pikiran agar tidak mengembang keinginan. Coba membayangkan cermin di hadapanku, lihat diri dan keadaan yang sudah tidak mungkin meraih tanganmu, apalagi hatimu yang sejak awal sudah bercabang.
Takdir memang harus sekian dan terima kasih. Tanganku kini hanya menggenggam butiran putih untuk bertahan dan hati yang ditemani Allah.
(Novel garapan baru, Terang Rembulan di Kota Paris Van Java)

Tidak ada komentar: