Cilok
Makanan satu ini diyakini oleh orang sunda sebagai pembuat dan penemu pertama, karena apa? Cilok berasal dari singkatan aci dicolok kalau secara bahasa indonesia yang benar bisa diartikan makanan ditusuk. Kok masakan ditusuk? Makanan ini memang seperti bola-bola kecil, dari sebesar kelereng sampai bola tenis meja. Disatukan dengan bumbu kacang yang lengket. Maka dari itu agar mudah memakannya harus ditusuk dengan tusukan sate. Harap dimakan satu-satu dan pelan-pelan!
Berkat zaman semakin maju makanan sederhana nan memikat ini pun dikenal di beberapa daerah sampai pulau Jawa-Sumatra, mungkin juga beberapa pulau lain.
"Rin, di Lampung juga ada cimol, cilok, batagor bandung dan beberapa makanan khas Kota Kembang." Seorang teman yang sudah menjadi staff salah satu bank negara di wilayah Bandar Lampung menjelaskan.
"Benarkah?"
"Iya, jadi kalau kangen jajanan Bandung sekarang tidak susah!" Pembicaraan melalui BBM itu membuat pikiranku terbuka. Tidak hanya itu! Teman facebook yang besar dan menetap di salah satu kota di jawa tengah juga jualan cilok. Menurut testimoni, enak! Hehehe ... Hebat ya? kayak testimoni buku aja ....
Zaman sudah sangat canggih dan segala sesuatu mudah diakses termasuk cara membuat makanan murah meriah lezat aduhaiii! Dan makanan ini bisa dijumpai di tiap sekolah yang mengizinkan pedagang menjual dagangannya.
Dulu, waktu memiliki kesempatan antar jemput keponakan di sekolah taman kanak-kanak selalu banyak cerita seru. Bagi orang tua yang diharapkan adalah kesehatan dan makanan bergizi bagi anak, betul tidak? Tak terkecuali kakak saya. Kadang harus tega tidak memberi uang jajan dan hanya membekali makanan buatan rumah daripada jajanan yang tidak jelas kebersihan dan kesehatannya. Sebagai ahli gizi di sebuah puskesmas, kesehatan dan kebersihan makanan adalah nomor satu dan dimulai dari keluarga.
Hal yang justru membuat saya miris, ini bocah kalau tahu ada keluarga yang jemput pasti minta jajan dan selalu berakhir tidak tega. Satu waktu saya coba hanya antar jemput tidak ditunggu. Ketika mau menjemput itu yang buat hati tidak karuan. Wajah polos anak kecil mengikuti temannya yang jajan membeli apapun sesuai dengan uang di tangannya.
"Itu apa?"Bocah mengikuti temannya yang mulai risih diikuti.
"Cilokk!! Tau!!" Sedikit berteriak dan gemas bocah tambun memelotot agar tidak diikuti.
"E-enak?" Bocah masih penasaran seraya membasahi bibirnya.
"Ih ... Kamu ngikutin aja! Beli biar tahu enak nggak!?" Tambah kesal.
Bocah celingak-celinguk mencari ada yang datang, tepatnya sedang bersembunyi. Matanya kembali mengikuti bocah tambun itu.
"Nih! Cobain aja ya!" Bocah tambun menusukan cilok sisa satu biji didekatkan ke bocah sampai mendarat di lidah. Hanya menempel sedikit bumbunya, ditarik kembali oleh si bocah tambun lalu masuk ke mulut besarnya, "besok-besok bilang sama mamah kamu kasih uang buat jajan biar nggak minta-minta!"
Dada kok rasanya bergemuruh seperti suara gempa bumi. Antara kesal dan jengkel pada bocah tambun itu dan kakak. Kejadian itu membuat panas kepala.
Jadi untuk para ibu di seluruh nusantara baiknya menjadi ibu cerdik; cerdas, terdidik dan ngulik! Apa maksudnya? Anak sehat harus! Anak mengetahui kebersihan, wajib! Tapi melarang tanpa tahu memberikan edukasi yang tepat guna sesuai sasaran itu tidak bisa dikatakan good mom! Why? Anak-anak itu cenderung sangat besar rasa ingin tahu tentang apapun dan masih sulit membedakan baik buruk, bersih kotor.
Cara menanganinya bagaimana? Walaupun seorang ibu adalah wanita karier super sibuk, ibu rumah tangga gaul dengan segudang kegiatan, ibu di rumah dengan sederet pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda. Tetap, sesekali ikut merasakan antar jemput anak sekolah harus dilakukan. Untuk apa? Untuk mengenal lingkungan anak. Kalau sayang dan perduli dengan asupan gizi dan kebersihan anak, mulailah dari hal kecil. Lihat ada pedagang apa saja. Berikan pembicaraan ringan jenis jajanan apa saja yang baik dan tidak. Kenapa harus makan dari bekal yang dibawa? Dan jika ada jajanan ringan, coba searching! Minta mbah google mengeluarkan kesaktiannya! "Resep masakan cilok" itu akan berderet beberapa blog atau web yang memuat tentang makanan ini. Dari bahan sampai cara membuat juga foto cantik untuk memudahkan. Ah susah! Buka versi youtube-nya! Pelajari step by step. Begitupun untuk jajanan lain seperti cimol, baso, gorengan dan sebagainya. Jangan beralasan untuk mengatakan sibuk, tidak bisa masak, ribet, tapi berharap anak sehat!
Biasakanlah untuk berbincang dengan anak tentang bahaya jajan. Minyak goreng yang sudah pekat, bahan kimia yang berbahaya, bahan pengawet dan sebagainya. Tentunya dengan memakai bahasa anak!
"Jangan jajan baso!"
"Kenapa?"
"Itu mengandung borax!"
"Apa borax?"
"(O-:;'!?)"
Bingung sendiri menjelaskan dengan kata-kata yang mudah dimengerti anak-anak.
Makanan cilok ini terhitung mudah dibuat, murah bahannya, dan tidak lama. Makanan sederhana, enak dan mengenyangkan.
"Cilok ini juga ada sejarah lucunya loh?"
"Kata siapa?"
"Saya! Hehehe ...."
Zaman dahulu kala ... Terlalu klise ya? Di masa lalu cilok bukan makanan untuk dijual bahkan diciptakan secara tidak sengaja. Semua ini terjadi karena sepasang suami istri di sebuah desa. Saat musim seharusnya memanen hasil padi. Hanya karena hama merajalela dan tikus berpesta pora, penduduk berduka cita. Tidak bagi sepasang suami istri ini. Walau tahu lumbung kosong, gentong nasi cuma beras sebiji mereka tetap bahagia dengan senda gurau. Walau tetap ada kerikil-kerikil panas menghampiri. Terutama panas karena sang suami sangat humoris bikin gemas.
Si abah tidak pernah menuntut makanan enak, selalu menghibur istri yang sudah kawatir tidak ada beras. Kekurangannya hanya satu ganjen mulut. Apa ya bahasa tepatnya? Mulutnya nyinyir/tengil/halah naon deui atuh nya? Tepatnya begini. Kenapa ganjen mulut?
Bagi si abah mungkin ini hanya lelucon menutupi kesedihan tak berhasil panen.
"Nyaiii! Kadieu!?"
"Apa atuh Abah, manggil-manggil?"
"Itu lihat gadis bahenol epok cendol genyal-genyol! Euh ... Jadi hilang lapar, datang haus ... Cig atuh caina nu tiis!"
"Euh ... Mata teh! Cabean geura yeuh!"
Maksud hati minta tolong dibawakan air minum tapi istrinya sudah gemas dengan mulut suaminya. Setiap saat jika ada wanita bertubuh sintal lewat selalu ada yang dibahas.
"Eh, Nyai! Tetangga baru janda kembang, awakna siga boncengan vespa! Gual geol gual geol mun liwat di hareup imah ... Deuh! Hanjakal ...."
"Naon nu hanjakal? Hanjakal teu boga duit jeung boga pamajikan deui!?"
Nyakikik seuseurian si Abah ku sewotna si Nyai. Tahu kalau si Nyai sangat pencemburu dan pemarah tapi itu hanya di mulut saja. Si Abah senang menutupi kesedihannya dengan menggoda si Nyai.
Si Nyai tahu kelakuan ganjen mulut si Abah dan bukan terjadi sekali dua kali. Sudah mendarah daging sejak muda. Saat itu karna si Nyai merasa masih yang paling cantik dan bahenol jadi hanya angin lalu saja kebiasaan si Abah. Tidak sekarang, saat kemiskinan pelan-pelan menjerat.
Di dapur hati dan pikiran si Nyai terasa dalam badai. Berkecamuk segala kekesalan. Melihat isi dapur tidak ada beras. Simpanan di dalam wadah hanya ada aci/tapioka dan terigu. Sisa membuat makanan. Selagi pikirannya pada wanita-wanita bertubuh sintal, si Nyai asal saja membuat makanan dan dia tidak perduli akan dipuji atau tidak oleh suaminya. Di dalam hatinya hanya memaki, "yeuh tah genyal genyol gual geol!"
tepung aci/tapioka, terigu disatukan dengan air panas mendidih serta gula pasir setengah sendok, merica dan garam secukupnya. Dua siung bawang putih yang sudah dihaluskan ikut masuk dalam adonan dengan dua batang daun bawang diiris tipis. Adonan sudah jadi satu dimasukan ke dalam air mendidih dalam panci, tunggu sampai adonan bulat-bulat itu naik ke permukaan air. Angkat lalu tiriskan. Si Nyai sudah tidak ingin mencoba masakannya akan enak atau tidak, bahkan ia berharap suaminya akan kapok untuk bermulut ganjen!
Biar tambah insyaf berkali-kali, kini si Nyai membuatkan bumbu sekaligus sambal. Ia berpikir bagaimana cara hematnya agar tidak perlu membuat sambal lagi. Dilihatnya ada kacang tanah hasil di belakang rumah yang cuma sepetak lalu digoreng. Kacang yang sudah matang dihaluskan bersama dengan cabe rawit merah sebanyak yang ada di dapur, gula merah, bawang putih, garam dan asam jawa. Bumbu sudah jadi satu ditumis lalu ditambahkan air biar mirip kuah sayur tapi juga sambel. Multi fungsi biar efisien dan efektif kalau kata anak zaman sekarang. Hehehe ....
Makanan sudah matang, bumbu juga sudah jadi. Tepat saat si Abah ke dapur dengan wajah memelas minta makan seraya mengusap perut buncitnya.
"Ini perut kayak perempuan hamil yang lagi mandi di kali, bikin mata turun naik kagak kukuuu! Laparrr ... Masak naon Nyai?"
"Itu beas sa biji, rek diaron tah?"
"Ih, Nyai geulis mantan kabogoh Abah meuni kitu? Eta weh nu seungit hayu? Lapar ...."
Si Abah bahagia melihat kepandaian si Nyai yang selalu memiliki ide untuk membuat makanan biar tidak kelaparan. Walau bukan nasi pulen dengan wangi pandan, makanan baru ini sanggup membuat Abah merem melek. Gimana engga? Makanan ini dibuat sebesar telor ayam begitu masuk kemulut, "hap!!" Tidak bisa balik lagi. Enak ... Tapi, panas, penuh di mulut, pedas! Dikeluarkan gengsi. Ada Nyai lagi melotot. Sambil, "uh ... Ah ... Uh ... Ah ..." Si Abah tak sanggup berkata-kata cuma bisa rimbay cai mata. Menangis kepedasan.
"Naon ieu?"
"Sok habiskan biar kenyang! Enak tidak?"
"E-eny-nyak!" Seraya meniup makanan yang ada di mulut dengan harapan panasnya menghilang.
"Tah eta! Makanan sintal genyal genyol siga janda kembang, gual geol mirip boncengan vespa! Ngeunah??"
Hahahaha ... Si Abah bahagia, ternyata makanan enak ini hasil kecemburuan istrinya. Makanan enak apalagi saat lapar melanda. Makanan itu juga hanya ditempatkan di atas daun pisang dengan lidi sebagai penusuknya.
"Apa yang kenyal-kenyal ini?"
"Aci!" Nyai masih sewot melotot.
"Hmm ... Kalau gitu namanya harus aci dicolok jadi cilok! Hahahaha ...." Abah tertawa terbahak-bahak dengan tangan kiri menghapus air mata karena pedas.
Abah tidak berhenti mengunyah cilok sekalipun pedas dan bentuknya besar karena di sengaja. Seraya memeluk Nyai yang sedang ngambek gara-gara semok epok cendol! Semakin lama semakin hari Abah selalu menyukai cilok. Karena cinta Nyai ke Abah cilok dibuat semakin mengecil, biar tidak keselek. Tentunya semakin memahami kalau cinta Abah hanya untuk Nyai sekalipun mulutnya selalu ganjen. Kejadian itu sanggup membuat tetangga dan masyarakat sekitar mengikuti si Nyai. Mereka bahkan meyakini kalau cilok dapat melengketkan hubungan, sesuai dengan adonannya yang lengket. Hehehe ....
"Bener itu cerita, Rin?"
"Entahlah ...."
"Trus itu cerita darimana?"
"Dari keisengan di hatiku!"
Gubrak!! Kluntung ... Kluntung ... Kluntung ....
Hehehe ... Kisah yang panjang ya? Menarik bukan? Tidak selamanya jajanan warung, jajanan pasar, jajanan keliling itu kotor dan berbahaya. Mau tetap sehat? Buatlah bersama buah hati anda! Atau, suami tercinta agar bisa menghangatkan kembali hubungan kalian. Tidak percaya? Coba saja ....
Alhamdulillah sekarang sudah Syawal! Ramadhan sudah kita lewati dan berdoa dengan harapan bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan.
"Kamu! Iya kamu! Jangan tengok kiri-kanan lah kau! Masih dengan pasion selingkuh seperti Ramadhan kemarin? Ah ... Payah!! Selingkuh kok pasion? Nggak zaman selingkuh sekarang! mending melengketkan hubungan dengan pasangan halalmu! Sini, lengketin pake cilok!"
Hehehe ....
Makanan satu ini diyakini oleh orang sunda sebagai pembuat dan penemu pertama, karena apa? Cilok berasal dari singkatan aci dicolok kalau secara bahasa indonesia yang benar bisa diartikan makanan ditusuk. Kok masakan ditusuk? Makanan ini memang seperti bola-bola kecil, dari sebesar kelereng sampai bola tenis meja. Disatukan dengan bumbu kacang yang lengket. Maka dari itu agar mudah memakannya harus ditusuk dengan tusukan sate. Harap dimakan satu-satu dan pelan-pelan!
Berkat zaman semakin maju makanan sederhana nan memikat ini pun dikenal di beberapa daerah sampai pulau Jawa-Sumatra, mungkin juga beberapa pulau lain.
"Rin, di Lampung juga ada cimol, cilok, batagor bandung dan beberapa makanan khas Kota Kembang." Seorang teman yang sudah menjadi staff salah satu bank negara di wilayah Bandar Lampung menjelaskan.
"Benarkah?"
"Iya, jadi kalau kangen jajanan Bandung sekarang tidak susah!" Pembicaraan melalui BBM itu membuat pikiranku terbuka. Tidak hanya itu! Teman facebook yang besar dan menetap di salah satu kota di jawa tengah juga jualan cilok. Menurut testimoni, enak! Hehehe ... Hebat ya? kayak testimoni buku aja ....
Zaman sudah sangat canggih dan segala sesuatu mudah diakses termasuk cara membuat makanan murah meriah lezat aduhaiii! Dan makanan ini bisa dijumpai di tiap sekolah yang mengizinkan pedagang menjual dagangannya.
Dulu, waktu memiliki kesempatan antar jemput keponakan di sekolah taman kanak-kanak selalu banyak cerita seru. Bagi orang tua yang diharapkan adalah kesehatan dan makanan bergizi bagi anak, betul tidak? Tak terkecuali kakak saya. Kadang harus tega tidak memberi uang jajan dan hanya membekali makanan buatan rumah daripada jajanan yang tidak jelas kebersihan dan kesehatannya. Sebagai ahli gizi di sebuah puskesmas, kesehatan dan kebersihan makanan adalah nomor satu dan dimulai dari keluarga.
Hal yang justru membuat saya miris, ini bocah kalau tahu ada keluarga yang jemput pasti minta jajan dan selalu berakhir tidak tega. Satu waktu saya coba hanya antar jemput tidak ditunggu. Ketika mau menjemput itu yang buat hati tidak karuan. Wajah polos anak kecil mengikuti temannya yang jajan membeli apapun sesuai dengan uang di tangannya.
"Itu apa?"Bocah mengikuti temannya yang mulai risih diikuti.
"Cilokk!! Tau!!" Sedikit berteriak dan gemas bocah tambun memelotot agar tidak diikuti.
"E-enak?" Bocah masih penasaran seraya membasahi bibirnya.
"Ih ... Kamu ngikutin aja! Beli biar tahu enak nggak!?" Tambah kesal.
Bocah celingak-celinguk mencari ada yang datang, tepatnya sedang bersembunyi. Matanya kembali mengikuti bocah tambun itu.
"Nih! Cobain aja ya!" Bocah tambun menusukan cilok sisa satu biji didekatkan ke bocah sampai mendarat di lidah. Hanya menempel sedikit bumbunya, ditarik kembali oleh si bocah tambun lalu masuk ke mulut besarnya, "besok-besok bilang sama mamah kamu kasih uang buat jajan biar nggak minta-minta!"
Dada kok rasanya bergemuruh seperti suara gempa bumi. Antara kesal dan jengkel pada bocah tambun itu dan kakak. Kejadian itu membuat panas kepala.
Jadi untuk para ibu di seluruh nusantara baiknya menjadi ibu cerdik; cerdas, terdidik dan ngulik! Apa maksudnya? Anak sehat harus! Anak mengetahui kebersihan, wajib! Tapi melarang tanpa tahu memberikan edukasi yang tepat guna sesuai sasaran itu tidak bisa dikatakan good mom! Why? Anak-anak itu cenderung sangat besar rasa ingin tahu tentang apapun dan masih sulit membedakan baik buruk, bersih kotor.
Cara menanganinya bagaimana? Walaupun seorang ibu adalah wanita karier super sibuk, ibu rumah tangga gaul dengan segudang kegiatan, ibu di rumah dengan sederet pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda. Tetap, sesekali ikut merasakan antar jemput anak sekolah harus dilakukan. Untuk apa? Untuk mengenal lingkungan anak. Kalau sayang dan perduli dengan asupan gizi dan kebersihan anak, mulailah dari hal kecil. Lihat ada pedagang apa saja. Berikan pembicaraan ringan jenis jajanan apa saja yang baik dan tidak. Kenapa harus makan dari bekal yang dibawa? Dan jika ada jajanan ringan, coba searching! Minta mbah google mengeluarkan kesaktiannya! "Resep masakan cilok" itu akan berderet beberapa blog atau web yang memuat tentang makanan ini. Dari bahan sampai cara membuat juga foto cantik untuk memudahkan. Ah susah! Buka versi youtube-nya! Pelajari step by step. Begitupun untuk jajanan lain seperti cimol, baso, gorengan dan sebagainya. Jangan beralasan untuk mengatakan sibuk, tidak bisa masak, ribet, tapi berharap anak sehat!
Biasakanlah untuk berbincang dengan anak tentang bahaya jajan. Minyak goreng yang sudah pekat, bahan kimia yang berbahaya, bahan pengawet dan sebagainya. Tentunya dengan memakai bahasa anak!
"Jangan jajan baso!"
"Kenapa?"
"Itu mengandung borax!"
"Apa borax?"
"(O-:;'!?)"
Bingung sendiri menjelaskan dengan kata-kata yang mudah dimengerti anak-anak.
Makanan cilok ini terhitung mudah dibuat, murah bahannya, dan tidak lama. Makanan sederhana, enak dan mengenyangkan.
"Cilok ini juga ada sejarah lucunya loh?"
"Kata siapa?"
"Saya! Hehehe ...."
Zaman dahulu kala ... Terlalu klise ya? Di masa lalu cilok bukan makanan untuk dijual bahkan diciptakan secara tidak sengaja. Semua ini terjadi karena sepasang suami istri di sebuah desa. Saat musim seharusnya memanen hasil padi. Hanya karena hama merajalela dan tikus berpesta pora, penduduk berduka cita. Tidak bagi sepasang suami istri ini. Walau tahu lumbung kosong, gentong nasi cuma beras sebiji mereka tetap bahagia dengan senda gurau. Walau tetap ada kerikil-kerikil panas menghampiri. Terutama panas karena sang suami sangat humoris bikin gemas.
Si abah tidak pernah menuntut makanan enak, selalu menghibur istri yang sudah kawatir tidak ada beras. Kekurangannya hanya satu ganjen mulut. Apa ya bahasa tepatnya? Mulutnya nyinyir/tengil/halah naon deui atuh nya? Tepatnya begini. Kenapa ganjen mulut?
Bagi si abah mungkin ini hanya lelucon menutupi kesedihan tak berhasil panen.
"Nyaiii! Kadieu!?"
"Apa atuh Abah, manggil-manggil?"
"Itu lihat gadis bahenol epok cendol genyal-genyol! Euh ... Jadi hilang lapar, datang haus ... Cig atuh caina nu tiis!"
"Euh ... Mata teh! Cabean geura yeuh!"
Maksud hati minta tolong dibawakan air minum tapi istrinya sudah gemas dengan mulut suaminya. Setiap saat jika ada wanita bertubuh sintal lewat selalu ada yang dibahas.
"Eh, Nyai! Tetangga baru janda kembang, awakna siga boncengan vespa! Gual geol gual geol mun liwat di hareup imah ... Deuh! Hanjakal ...."
"Naon nu hanjakal? Hanjakal teu boga duit jeung boga pamajikan deui!?"
Nyakikik seuseurian si Abah ku sewotna si Nyai. Tahu kalau si Nyai sangat pencemburu dan pemarah tapi itu hanya di mulut saja. Si Abah senang menutupi kesedihannya dengan menggoda si Nyai.
Si Nyai tahu kelakuan ganjen mulut si Abah dan bukan terjadi sekali dua kali. Sudah mendarah daging sejak muda. Saat itu karna si Nyai merasa masih yang paling cantik dan bahenol jadi hanya angin lalu saja kebiasaan si Abah. Tidak sekarang, saat kemiskinan pelan-pelan menjerat.
Di dapur hati dan pikiran si Nyai terasa dalam badai. Berkecamuk segala kekesalan. Melihat isi dapur tidak ada beras. Simpanan di dalam wadah hanya ada aci/tapioka dan terigu. Sisa membuat makanan. Selagi pikirannya pada wanita-wanita bertubuh sintal, si Nyai asal saja membuat makanan dan dia tidak perduli akan dipuji atau tidak oleh suaminya. Di dalam hatinya hanya memaki, "yeuh tah genyal genyol gual geol!"
tepung aci/tapioka, terigu disatukan dengan air panas mendidih serta gula pasir setengah sendok, merica dan garam secukupnya. Dua siung bawang putih yang sudah dihaluskan ikut masuk dalam adonan dengan dua batang daun bawang diiris tipis. Adonan sudah jadi satu dimasukan ke dalam air mendidih dalam panci, tunggu sampai adonan bulat-bulat itu naik ke permukaan air. Angkat lalu tiriskan. Si Nyai sudah tidak ingin mencoba masakannya akan enak atau tidak, bahkan ia berharap suaminya akan kapok untuk bermulut ganjen!
Biar tambah insyaf berkali-kali, kini si Nyai membuatkan bumbu sekaligus sambal. Ia berpikir bagaimana cara hematnya agar tidak perlu membuat sambal lagi. Dilihatnya ada kacang tanah hasil di belakang rumah yang cuma sepetak lalu digoreng. Kacang yang sudah matang dihaluskan bersama dengan cabe rawit merah sebanyak yang ada di dapur, gula merah, bawang putih, garam dan asam jawa. Bumbu sudah jadi satu ditumis lalu ditambahkan air biar mirip kuah sayur tapi juga sambel. Multi fungsi biar efisien dan efektif kalau kata anak zaman sekarang. Hehehe ....
Makanan sudah matang, bumbu juga sudah jadi. Tepat saat si Abah ke dapur dengan wajah memelas minta makan seraya mengusap perut buncitnya.
"Ini perut kayak perempuan hamil yang lagi mandi di kali, bikin mata turun naik kagak kukuuu! Laparrr ... Masak naon Nyai?"
"Itu beas sa biji, rek diaron tah?"
"Ih, Nyai geulis mantan kabogoh Abah meuni kitu? Eta weh nu seungit hayu? Lapar ...."
Si Abah bahagia melihat kepandaian si Nyai yang selalu memiliki ide untuk membuat makanan biar tidak kelaparan. Walau bukan nasi pulen dengan wangi pandan, makanan baru ini sanggup membuat Abah merem melek. Gimana engga? Makanan ini dibuat sebesar telor ayam begitu masuk kemulut, "hap!!" Tidak bisa balik lagi. Enak ... Tapi, panas, penuh di mulut, pedas! Dikeluarkan gengsi. Ada Nyai lagi melotot. Sambil, "uh ... Ah ... Uh ... Ah ..." Si Abah tak sanggup berkata-kata cuma bisa rimbay cai mata. Menangis kepedasan.
"Naon ieu?"
"Sok habiskan biar kenyang! Enak tidak?"
"E-eny-nyak!" Seraya meniup makanan yang ada di mulut dengan harapan panasnya menghilang.
"Tah eta! Makanan sintal genyal genyol siga janda kembang, gual geol mirip boncengan vespa! Ngeunah??"
Hahahaha ... Si Abah bahagia, ternyata makanan enak ini hasil kecemburuan istrinya. Makanan enak apalagi saat lapar melanda. Makanan itu juga hanya ditempatkan di atas daun pisang dengan lidi sebagai penusuknya.
"Apa yang kenyal-kenyal ini?"
"Aci!" Nyai masih sewot melotot.
"Hmm ... Kalau gitu namanya harus aci dicolok jadi cilok! Hahahaha ...." Abah tertawa terbahak-bahak dengan tangan kiri menghapus air mata karena pedas.
Abah tidak berhenti mengunyah cilok sekalipun pedas dan bentuknya besar karena di sengaja. Seraya memeluk Nyai yang sedang ngambek gara-gara semok epok cendol! Semakin lama semakin hari Abah selalu menyukai cilok. Karena cinta Nyai ke Abah cilok dibuat semakin mengecil, biar tidak keselek. Tentunya semakin memahami kalau cinta Abah hanya untuk Nyai sekalipun mulutnya selalu ganjen. Kejadian itu sanggup membuat tetangga dan masyarakat sekitar mengikuti si Nyai. Mereka bahkan meyakini kalau cilok dapat melengketkan hubungan, sesuai dengan adonannya yang lengket. Hehehe ....
"Bener itu cerita, Rin?"
"Entahlah ...."
"Trus itu cerita darimana?"
"Dari keisengan di hatiku!"
Gubrak!! Kluntung ... Kluntung ... Kluntung ....
Hehehe ... Kisah yang panjang ya? Menarik bukan? Tidak selamanya jajanan warung, jajanan pasar, jajanan keliling itu kotor dan berbahaya. Mau tetap sehat? Buatlah bersama buah hati anda! Atau, suami tercinta agar bisa menghangatkan kembali hubungan kalian. Tidak percaya? Coba saja ....
Alhamdulillah sekarang sudah Syawal! Ramadhan sudah kita lewati dan berdoa dengan harapan bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan.
"Kamu! Iya kamu! Jangan tengok kiri-kanan lah kau! Masih dengan pasion selingkuh seperti Ramadhan kemarin? Ah ... Payah!! Selingkuh kok pasion? Nggak zaman selingkuh sekarang! mending melengketkan hubungan dengan pasangan halalmu! Sini, lengketin pake cilok!"
Hehehe ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar