Sabtu, 03 Oktober 2015

Sebuah Cerita di Kereta

Bunda Elisa KoraagMaya Luca IzecsonLathifah EdibLutfi Kurniawan, kita sudah di kereta.
Saat semua orang sibuk dengan tas yang penuh, orang yang lalu lalang dan nomor kursi ada satu hal yang menakjubkan. Kami bertiga cewe-cewe harus berempat dengan laki-laki seram ini. Bunda mau merapikan tas di atas itu dimarah orang dengan wajah tidak manis dan tidak ganteng. Bunda menjelaskan agar tas kita semua lebih rapi dan bisa memberi ruang untuk orang lain. "Jangan pindah-pindah tas orang sembarangan! Kalau mau izin dulu!" Dengan mata menyala masih berlanjut, "kalau situ mau pindahkan saja tas sendiri jangan geser tas saya!" Penjelasan bunda yang bermaksud baik itu tidak didengarnya bahkan nadanya terkesan lebih galak. Darah saya ikut naik, "biasa aja kali, Pak!" Dari sedang duduk di sebrang karena carger di kursi kami tidak menyala. "Neng, jangan ikut campur! Kalau tidak diajak bicara diam." Emosiku naik, bagiku bukan begitu caranya seorang laki-laki bereaksi. Tentunya cara dan bicara yang lebih lembut akan nyaman untuk kami yang notabene dikursi bersama empat orang. "Bawa emas kali di tasnya ya? Atau bangkai mutilasi!" Rutukku dalam hati. Wanita bertiga bisa saja melawan mulut arogan laki-laki itu tapi bunda tau kapan kita harus diam.
Keren deh bapak, ngamuk-ngamuk cuma gara-gara tas di atas itu di geser. 

Tidak ada komentar: