Siapa yang sudah hapal kota tua, stasiun kota, halte busway kota? Aku baru tau ... hehe ... jadi memang harus dengan modal tanya sana sini justru sama pedagang pinggir jalan atau pedagang asongan dari pada sama petugas atau satpam, dll. Ada hal yang buatku tersenyum. Aku tanya "bang, mau ke halte busway jalan lewat mana ya?"
"Itu nyebrang, masuk samping stasiun ada tangga!"
Aku pikir, itu dipagar putih besi keras kayaknya, masa iya lompat? "Muter ya pak? Masuk stasiun?"
"Nyebrang aja, tuh deket ojek ada pagar bolong, masuk situ!" Jidatku tambah berlipat. Waduh? Malunya itu loh. Tapi bapak itu meyakinkan kalau semua orang lewat situ. Karna faktor sangat pagi jadi aku doang yang masuk situ, tapi kalau jam kerja cuma untuk masuk situ harus antri. Padahal gak jauh lah kalaupun harus muter dulu ke depan stasiun, tapi itulah, kita lebih suka melanggar agar nyaman walau harus menyisihkan rasa malu. Selama 3 hari di sini aku menyadari betapa sudah nyamannya keluar maju lewat jalan pintas.
"Itu nyebrang, masuk samping stasiun ada tangga!"
Aku pikir, itu dipagar putih besi keras kayaknya, masa iya lompat? "Muter ya pak? Masuk stasiun?"
"Nyebrang aja, tuh deket ojek ada pagar bolong, masuk situ!" Jidatku tambah berlipat. Waduh? Malunya itu loh. Tapi bapak itu meyakinkan kalau semua orang lewat situ. Karna faktor sangat pagi jadi aku doang yang masuk situ, tapi kalau jam kerja cuma untuk masuk situ harus antri. Padahal gak jauh lah kalaupun harus muter dulu ke depan stasiun, tapi itulah, kita lebih suka melanggar agar nyaman walau harus menyisihkan rasa malu. Selama 3 hari di sini aku menyadari betapa sudah nyamannya keluar maju lewat jalan pintas.
Pagi ini aku tidak mengalami banyak antrian, dari jauh terlihat cukup sepi. Ada bule lewat depan ojek, semua abang-abang ojek itu menggunakan bahasa tarzan menyarankan bule untuk masuk lewat pagar jebolan itu. Bule itu menolak dengan bahasa tarzan dan bahasa inggrisnya. Dia mengatakan, "tidak, terima kasih. Saya mau lewat jalan depan saja." Tapi disorakin ojek pada saat dia akan melanjutkan jalan. Saat melanjutkan jalan itu matanya bersitubruk dengan mataku yang sedang berwajah tawa. Bule itu mengikuti jalanku dengan tertawa senang dan membuat tawa renyah abang-abang ojek dan pedagang pinggiran.
Bule ke kanan masuk ke stasiun, aku ke kiri masuk terowongan halte busway.
Apa yang harus aku renungkan? Pada kenyataannya orang indonesia lebih suka jalan pintas walaupun itu melanggar dengan tanpa hukuman ataupun dengan hukuman. Dan semua menjadi terbiasa saat seluruh masyarakat membiasakan diri melakukannya, dengan alasan, lebih cepat, lebih mudah dan seperti asik melakukan yang tidak biasa awalnya. Jika kita berusaha tertib dan disiplin sulit didukung oleh orang lain bahkan menertawakan dengan anggapan menyulitkan diri sendiri.
Apa yang harus aku renungkan? Pada kenyataannya orang indonesia lebih suka jalan pintas walaupun itu melanggar dengan tanpa hukuman ataupun dengan hukuman. Dan semua menjadi terbiasa saat seluruh masyarakat membiasakan diri melakukannya, dengan alasan, lebih cepat, lebih mudah dan seperti asik melakukan yang tidak biasa awalnya. Jika kita berusaha tertib dan disiplin sulit didukung oleh orang lain bahkan menertawakan dengan anggapan menyulitkan diri sendiri.
Orang bule saja sebenarnya lebih suka tertib tapi mau tidak mau mencoba mengikuti penduduk lokal saat keadaan dalam posisi di negara orang lain.
Seperti halnya KKN, semua terjadi karena sesuatu yang tidak biasa dijadikan kebiasaan dengan alasan cepat dan mudah, tentu nyaman menurut versi dirinya sendiri. Pendatang yang akan datang dan hidup di negara yang memiliki pengguna KKN terbesar pun mau tidak mau akan mengikuti ritme sesuai dengan aturan yang ada. Seperti misal, soal izin, dll.
Ini hanya opiniku sambil merenung saat jalan ke dalam halte busway.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar