Tahu tidak, daging kurban itu selalu disebut bau manehna. Jadi mau disembelih dengan cara bagaimanapun tetep bau. Dulu waktu berada dilingkungan masyarakat pesantren. Setiap orang memberi ciri kyai atau ustad yang biasa menyembelih daging kurban. Salah satu ada yang ketika dipotong olehnya, daging kurban tidak bau sekalipun kambing. Nah, masyarakatnya rajin, tidak asal potong bagikan dilantai halaman mesjid. Daging yang sudah dipotong diletakan di atas daun pisang. Dannn ... Daging yang dipotong oleh orang yang sudah diciriin itu dipisah, dibagika untuk mereka yang tidak suka dengan bau daging kambing. Jadi bisa dimasak dengan disemur atau dibumbui selain sate. Aku teramat kagum dengan ustad tersebut sampai masih mengingat cerita ini. Menurut cerita, ada doa tertentu yang membuat tidak bau, dan tehnik memotong yang tidak asal potong.Kalau lihat sekarang. Potong aja, taruh di lantai semen samping masjid, nanti sampe rumah, daging campur dengan kotoran dan pasir yang menempel di lantai. Hufh ... Jadi tidak nafsu bikin sate.
Kapan bisa silaturahim ke kampung itu lagi? Mungkin setelah siap lahir batin. Hehehe ...
Kapan bisa silaturahim ke kampung itu lagi? Mungkin setelah siap lahir batin. Hehehe ...
Bawang merah, bawang putih iris. Digoreng dengan daging yang sudah dipotong-potong sebesar biasa untuk sate, kecil-kecil aja ya! Tidak perlu tusuk sate. Digoreng kasih garam dan gula trus siram air sedikit. Sudah mau habis airnya, masukan kecap. Sudah kering dan wangi angkat. Dijamin enak dan tetap rasa sate.
jangan lupa siram dengan jeruk lemo atau jeruk nipis.
selamat mencoba....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar