Kamis, 17 April 2014

Novel: Tunanganku Asli Dari Kopi Darat

Judul : Tunanganku Asli Dari Kopi Darat

"Bun, aku di depan kantormu, bisakah motor titip di garasi kantor?" Prasetyo di ujung telepon mengagetkan Nadia.

"Iya, bisa," jawab Nadia pendek.

Termenung. Sesaat seperti mimpi, tiba-tiba Mas Pras menelpon setelah satu bulan menghilang. Apa maksudnya? Handphone tidak aktif, pesan tak ada, jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram bahkan Yahoo Messenger pun tak ada kehidupan mengenai kekasihnya selama satu bulan ini.

Prasetyo, laki-laki hitam manis asal Banyuwangi Jawa Timur, tapi besar di kota Jakarta. Rambutnya pendek berombak, hidung mancung untuk seukuran laki-laki Indonesia. Tinggi, kurus dengan kacamata minus tiga. Gigi putihnya berderet rapi tanpa cela, jika tersenyum seperti pemeran iklan pasta gigi. Penampilannya selalu casual tapi rapi.

Prasetyo adalah seorang dosen Universitas terkenal di kota Jakarta. Pembawaannya kalem, tegas dan tak suka basa basi, dan hanya mau diajak bercanda olehku, tidak jika dengan orang lain. Satu sifat yang mudah ditebak, introvert.

Usai jam kerja lima menit lagi, beberapa kali melihat jam dinding disudut ruangan, kembali kuarahkan pandangan pada ke empat teman yang sibuk beres-beres tas, tanda jam pulang telah tiba.

"Miana, aku minta maaf jalan-jalannya tidak bisa ikut. Kalian aja ya?" kata Nadia memohon.

"Kok gitu?" buru-buru Venti menjawab dengan keheranan.

"Dewa, tadi aku ditelpon Mas Pras dan sekarang ada di depan.

"Aku kaget karena tidak ada sms atau telepon dahulu, tahu-tahu bilang sudah ada di depan," ucap Nadia dengan muka memelas.

Brukkk!!!

Lenia menjatuhkan tas kerjanya yang penuh dengan buku laporan keuangan.

"Bosan! Kedatangan kekasihmu selalu tiba-tiba, tidak juga mau gabung sama kita-kita!" dengan muka memerah Lenia mengeluarkan kekesalannya.

"Ya! Udah gitu gak perduli juga sama kamu. Entah itu kamu punya kesibukan atau rencana yang sudah disepakati bersama orang lain," sahut Miana tak mau kalah.

Nadia bingung mau menjawab siapa? Semua menyerangnya. Mereka benar tapi rasa sayangnya pada laki-laki yang sekarang menjadi kekasih, membuatnya tak berdaya. Duduknya mulai tak nyaman,

Tik!!!

Jari tengah dan jempol Venti mengadu, mengeluarkan suara yang mengagetkannya, lamunan pun buyar.

"Tegas dong Nad! Masa kamu kayak kerbau dicucuk hidungnya, diam saja!" Venti pun ikut menimpali.

"Bukannya dia sudah tak pernah menghubungimu lagi? Tidak curigakah?" Lenia mencoba mencari tahu.

Nadia hanya diam tertunduk tidak bisa mengatakan apa-apa. Jujur, ia berharap tunangannya kali ini adalah penantian terakhirnya.

Teman-temannya mulai gemas dengan sikap dan sifat Nadia yang plin-plan dan mudah disetir sama laki-laki.

"Ya, mau gimana lagi kalau alasannya pangeran sudah di depan pintu gerbang.

"Sudahlah tidak usah mempersulit, Semoga kali ini laki-laki itu tidak membuat hari-harimu murung kembali," kata Dewa dengan tegas.

Nadia tersenyum, melihat keempat sahabat yang mulai melunak dan memeluknya. Saking senangnya hampir memeluk Dewa, tapi buru-buru ia menjauh. Nadia tersenyum, Dewa penyelamatnya setiap saat, laki-laki yang tidak pernah mencuri kesempatan menyentuh wanita sekalipun hanya berjabat tangan, sosok yang berbeda dengan laki-laki lain.

***

Mobil Atoz parkir jauh dari depan kantor Nadia, membuatnya harus berjalan sendiri tanpa sahabatnya. Nadia berharap Prasetyo keluar menyambutnya, tapi ia tidak melakukan itu. Sebelum naik Nadia berdiri di depan pintu menunggunya keluar, tapi hanya kaca mobil yang turun.

"Ayo," ajak Prasetyo.

"Kita mau pergi kemana?" ucap Nadia menahan kesal.

"Naiklah, kita bicara dijalan."

Nadia menurutinya. Setelah berada di dalam, mobil melaju keluar dari lingkungan perkantoran Ruko Kembar Mas. Sunyi senyap tak ada satu pun yang ingin memulai pembicaraan.

Nadia sungguh tak tahan diam terus menerus, sementara Prasetyo dengan tenang seolah-olah tak ada masalah di antara mereka.

"Yah, sadarkah? Sebulan tanpa kabar, terakhir kita bertemu biasa saja tidak ada masalah apapun, tapi tahu-tahu Ayah menghilang," rajuk Nadia yang sudah mulai berkaca-kaca.


Kekesalan yang telah lama disimpan keluar lewat air matanya yang mulai mengalir.

Berasa ditinggalkan tanpa alasan, batin Nadia.

"Apakah pertemuan kita ini harus diwarnai dengan pertengkaran? Aku ke sini karena kangen," kata Mas Pras berusaha menenangkan.

"Aku bukan mau bertengkar, Yah, cuma butuh penjelasan!

"Butuh kabar ketika kamu menghilang, jika aku bertanya pada bude Rum atau kepada orang tuamu di Jakarta pasti ayah tak senang."

"Hmm ..., Apa kita pulang saja dulu? tunggu emosimu reda," ucap prasetyo datar.

Nadia menangis sesenggukan, sikap Prasetyo yang acuh membuat kesal.

Aku menyayangi seorang yang begitu dingin, jerit hatinya.

Melihat Nadia menangis, Pras menghentikan mobilnya dengan mendadak, sontak Nadia kaget. Nadia terdiam seperti ketakutan saking kagetnya. Pras diam beberapa saat, terasa kekakuan di antara mereka. Tiba-tiba Pras melihat wajah Nadia, dan mengatakan "Maaf".

Sebenarnya Nadia tidak puas dengan hanya kata maaf saja, sangat butuh penjelasan. Entah mengapa ia hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecil. Pras pun tersenyum, kemudian mobil kembali menyala. Seperti tidak pernah ada luka yang tersakiti, Nadia mencoba selalu memaafkan.

"Makan apa?" kata Mas Pras lembut.

"Aku sebenarnya tidak lapar," kata Nadia seraya tertunduk, ingat tadi siang Ia makan banyak.

"Temani aku makan sesuatu, misal seperti mie ayam atau bakso."

"Kalau mie rasanya masih muat," Nadia tersenyum malu.

Kopi darat kedua ini terasa langit merajuk mendung, seperti akan turun hujan. Penunjuk jalan dengan lihai membawa pemilik mobil kearah jalan Laswi menuju daerah Gazebo kemudian meluncur ke arah Dago. Saat lampu merah pasar Simpang menjadi hijau, Nadia mulai memberi aba-aba untuk lurus melewati lampu merah, kemudian 100 meter putar arah balik belok kiri sebelum pasar simpang menuju jalan Tubagus Ismail.

Di tempat inilah muda-mudi Bandung, mahasiswa-mahasiswi yang rajin menjajal kuliner akan menyempatkan makan siangnya. Murah meriah nikmat, sesuai dengan kantong dan enak di perut. Es durian di sini enak dan terkenal, begitu juga mie ayam baksonya.

Daerahnya dekat bundaran pertigaan jalan ada rumah yang dijadikan tempat jualan ramai didatangi. Nadia selalu ke sini bersama teman-teman sekantornya, untuk melepas kangen dengan durian atau hanya sekedar ngobrol menghabiskan waktu.

"Enak Bun, di sini?" tanya Mas Pras dengan penasaran.

Dua jempolnya dikeluarkan demi membuat tunangannya bahagia. Nadia segera mendekati gerobak mie bakso untuk memesan dua mangkuk dan gerobak es durian dua mangkuk.

Prasetyo dan Nadia dengan lahap menyantap mie bakso yang disediakan, tapi Nadia harus menyerah untuk tidak menghabiskan es duriannya karena kenyang.

Dua sejoli yang sudah tidak muda dan mudi lagi, tetap bahagia menceritakan banyak hal di mana selama satu bulan mereka tidak saling mencurahkan isi hatinya. Sesekali canda tawa mengiringi cerita Prasetyo. Tawa pelan berubah dengan tenang kemudian diam, tiba-tiba jadi kaku.

"Aku hendak melamarmu besok," Pras memecah kebisuan di antara mereka.

Nadia hanya diam kebingungan. Pikirnya, apa ini candaan tadi yang ikut bersambung.

Disadarkan lagi oleh Mas Pras dengan mengulang kembali kata-katanya.

"Maukah bunda bertunangan dengan Ayah besok?"

Mas Pras tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Dipandang dengan lekat wajah Nadia, menunggu jawaban.

"Ini bukan lelucon? Real? Besok? Harus besok kah?" Nadia tergagap antara percaya dengan tidak.

Hmm ...,

Prasetyo menghela nafas.

"Aku tidak pernah meminta berulang kali, cukup bilang 'iya'.

"Kalau tidak besok, maka tidak akan ada hari lain pun. sanggupkah?" Pras mencoba memantapkan Nadia agar memiliki keteguhan yang sama.

Nadia mengangguk malu.

Betapa bahagianya bersama mengarungi indahnya kehidupan dengan seseorang yang yakin dengan keputusannya, tanpa merasa ragu sedikit pun.

Mas Pras mengizinkan saat itu juga Nadia memberitahukan orangtua, keluarga besar dan teman-temannya atas kabar bahagia itu.

Yes!! Besok di hari minggu Mas Pras akan melamar bersama keluarga, jeritnya dalam hati.

Selamat tinggal kabut hitam berarak yang selama ini mengiringi dan menutup hatiku, dan aku yakin masih ada kehidupan indah yang Tuhan berikan, doanya.

Satu bab dari novel yang tak rampung rampung.. Mohon krisannya.. Sudah edit.

****************

Awal belum di edit.

Judul : Tunanganku asli dari Kopi Darat

"Bun, aku di depan kantormu. Bisakah motor titip digarasi kantor?" Pras di ujung telpon mengagetkan Nadia.

"Iya, bisa." Jawab Nadia pendek.

Termenung. Sesaat seperti mimpi, tiba-tiba Mas Pras menelpon setelah satu bulan menghilang. Apa maksudnya? Handphone tidak aktif, pesan tak ada, jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram bahkan Yahoo Massagner pun tak ada kehidupan mengenai Tunangannya selama satu bulan ini.

Prasetyo, laki-laki hitam manis asal Banyuwangi Jawa Timur tapi besar di kota Jakarta. Rambutnya pendek berombak, hidung mancung untuk seukuran laki-laki Indonesia. Tinggi, kurus dengan kacamata minus tiga. Gigi putihnya berderet rapi tanpa cela, jika tersenyum seperti pemeran iklan pasta gigi. Penampilannya selalu casual tapi rapi.

Prasetyo yang aku kenal adalah seorang dosen di Universitas terkenal di kota Jakarta. Pembawaannya kalem, tegas dan tanpa basa basi. Dan hanya mau diajak bercanda olehku, tidak jika dengan orang lain. Satu sifat yang mudah ditebak, introvert.

"Miana, aku minta maaf jalan-jalannya tidak bisa ikut. Kalian aja ya?" Kata Nadia memohon.

"Kok gitu?" Buru-buru Venti menjawab dengan keheranan.

"Dewa, Maaf tadi aku ditelpon Mas Pras.

"Dia ada di depan, aku aja kaget karena tidak ada sms atau telpon dahulu, tahu-tahu bilang sudah ada di depan." Nadia dengan muka memelas.

Brukkk ...,

Lenia menjatuhkan tas kerjanya yang penuh dengan buku laporan keuangan.

"Bosan! Kedatangan tunanganmu selalu tiba-tiba, tidak juga mau gabung sama kita-kita!" dengan muka memerah Lenia mengeluarkan kekesalannya.

"Ya! udah gitu gak perduli juga sama kamu. Entah itu kamu punya kesibukan atau rencana yang sudah disepakati bersama orang lain," Sahut Miana tak mau kalah.

"Tegas dong Nad! Masa kamu kayak kerbau dicucuk hidungnya, jika sama Tunanganmu itu!" Venti pun ikut menimpali.

"Bukannya kamu bilang Dia sudah tak pernah menghubungimu lagi? Tidak curigakah?" Lenia mencoba mencari tahu.

Nadia hanya diam tertunduk tidak bisa mengatakan apa-apa. Jujur, Nadia berharap tunangannya kali ini adalah penantian terakhirnya.

Teman-temannya mulai gemas dengan sikap dan sifat Nadia yang plin-plan dan mudah disetir sama cowok.

"Ya, mau gimana lagi kalau alasannya pangeran sudah di depan pintu gerbang.

"Sudahlah tidak usah mempersulit, Semoga kali ini laki-laki itu tidak membuat hari-harimu murung kembali" kata Dewa dengan tegas.

Nadia tersenyum, melihat ke empat sahabat yang mulai melunak dan memeluknya. Saking senangnya hampir memeluk Dewa, tapi buru-buru Ia menjauh. Nadia tersenyum, Dewa penyelamatnya setiap saat, laki-laki yang tidak pernah mencuri kesempatan menyentuh wanita sekalipun hanya berjabat tangan, Sosok yang berbeda dengan laki-laki lain.

***

"Kita mau pergi kemana?"

"Yah, sadarkah? Sebulan tanpa kabar, terakhir kita bertemu biasa saja tidak ada masalah apapun, tapi tahu-tahu Ayah menghilang tanpa kabar" Rajuk Nadia yang sudah mulai berkaca kaca.

Kekesalan yang telah lama disimpan keluar lewat air matanya yang mulai mengalir.

Berasa ditinggalkan tanpa alasan, batin Nadia.

"Apakah pertemuan kita ini harus diwarnai dengan pertengkaran? Aku ke sini karena kangen," kata Mas Pras berusaha menenangkan.

"Aku bukan mau bertengkar Mas, cuma butuh penjelasan!

"Butuh kabar ketika kamu menghilang, Jika aku bertanya pada bude Rum atau kepada orang tua mu di Jakarta pasti ayah tak senang."

"Hmm ..., Apa kita pulang saja dulu? tunggu emosimu reda."

Nadia menangis sesenggukan, sikap Prasetyo yang acuh membuat kesal.

Aku menyayangi Seorang yang begitu dingin, jerit hatinya.

Melihat Nadia menangis, Pras menghentikan mobilnya dengan mendadak, sontak Nadia kaget. Nadia terdiam seperti ketakutan saking kagetnya. Pras diam beberapa saat, terasa kekakuan diantara mereka. Tiba-tiba Pras melihat wajah Nadia, dan mengatakan "Maaf".

Sebenarnya Nadia tidak puas dengan hanya kata maaf saja, sangat butuh penjelasan. Entah mengapa Ia hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecil. Pras pun tersenyum, kemudian mobil kembali menyala. Seperti tidak pernah ada luka yang tersakiti, Nadia mencoba selalu memaafkan.

"Makan apa?" Kata Mas Pras lembut.

"Aku sebenarnya tidak lapar," Kata Nadia seraya tertunduk, ingat tadi siang Ia makan banyak.

"Temani aku makan sesuatu, misal seperti mie ayam atau baso."

"Kalau mie rasanya masih muat," Nadia tersenyum malu.

Kopi darat kedua ini terasa langit merajuk mendung, seperti akan turun hujan. Penunjuk jalan dengan lihai membawa pemilik mobil kearah jalan Laswi menuju daerah Gazebo kemudian meluncur ke arah Dago. Saat lampu merah pasar Simpang menjadi hijau, Nadia mulai memberi aba-aba untuk lurus melewati lampu merah, kemudian 100 meter putar arah balik belok kiri sebelum pasar simpang menuju jalan Tubagus Ismail.

Di tempat inilah muda-mudi Bandung, mahasiswa-mahasiswi yang rajin menjajal kuliner akan menyempatkan makan siangnya. Murah meriah nikmat, sesuai dengan kantong dan enak di perut. Es durian di sini enak dan terkenal, begitu juga mie ayam basonya.

Daerahnya dekat bundaran pertigaan jalan ada rumah yang dijadikan tempat jualan ramai didatangi. Nadia selalu kesini bersama teman-teman sekantornya, untuk melepas kangen dengan durian atau hanya sekedar ngobrol menghabiskan waktu.

"Enak Bun, disini?" Tanya Mas Pras dengan penasaran.

Dua jempolnya dikeluarkan demi membuat tunangannya bahagia. Nadia segera mendekati gerobak mie untuk memesan dua mangkuk dan gerobak es durian dua mangkuk.

Prasetyo dan Nadia dengan lahap menyantap mie baso yang disediakan, tapi Nadia harus menyerah untuk tidak menghabiskan es Duriannya karena kenyang.

Dua sejoli yang sudah tidak muda dan mudi lagi, tetap bahagia menceritakan banyak hal dimana selama satu bulan diantara mereka tidak saling mencurahkan isi hatinya. Sesekali canda tawa mengiringi cerita yang Prasetyo. Tawa pelan berubah dengan tenang kemudian diam, tiba-tiba jadi kaku.

"Aku hendak melamarmu besok," Pras memecah kebisuan diantara mereka.

Nadia hanya diam kebingungan. Pikirnya, apa ini candaan tadi yang ikut bersambung.

Disadarkan lagi oleh Mas Pras dengan mengulang kembali kata-katanya.

"Maukah bunda bertunangan dengan Ayah besok?"

Mas Pras tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Dipandang dengan lekat wajah Nadia, menunggu jawaban.

"Ini bukan lelucon? Real? Besok? Harus besok kah?" Nadia tergagap antara percaya dengan tidak.

Hmm ...,

Prasetyo menghela nafas.

"Aku tidak pernah meminta berulang kali, cukup bilang 'iya'.

"Kalau tidak besok, maka tidak akan ada hari lain pun. sanggupkah?" Pras mencoba memantapkan Nadia agar memiliki keteguhan yang sama.

Nadia mengangguk malu.

Betapa bahagianya bersama mengarungi indahnya kehidupan dengan seseorang yang yakin dengan keputusannya, tanpa merasa ragu sedikit pun.

Mas Pras mengizinkan saat itu juga Nadia memberitahukan orangtua, keluarga besar dan teman-temannya atas kabar bahagia itu.

Besok di hari minggu Mas Pras akan melamar bersama keluarga, jeritnya dalam hati.

Selamat tinggal kabut hitam berarak yang selama ini mengiringi dan menutup hatinya. Yakin masih ada kehidupan indah yang Tuhan berikan untuknya.

Tidak ada komentar: