Nama Pena : N.R. Risti
Siang hari ini aku mencoba beristirahat, setelah beberapa pil resep dokter diminum.
"Bu, boleh saya pulang sekarang?" Tanya bibik pengasuh tiba-tiba masuk kekamar sambil membawa Nanda di gendongannya.
"Oh, kenapa bik? Kan belum sore, Tunggu mamah datang aja." Kataku dengan lemah. Nanda pun meronta ingin turun dari pangkuan pengasuh saat melihatku.
Aku menatap wajah Janda Tua itu lama air matanya berubah berkaca kaca, segera Nanda kuraih. Kutepukkan tangan dikasur sebagai tanda agar ia ikut duduk disampingku.
"Bu Guru masih ingat salah satu anak saya yang rumah tangganya berantakan? Satinah ditinggalkan suami yang selingkuh bersama temannya. Memiliki dua orang anak yang tidak pernah dinafkahi." Janda Tua itu memulai bercerita dengan linangan air mata. Sesekali menyeka dengan punggung tangan.
Nanda memelukku, ikut diam dan tidak rewel saat melihat pengasuhnya menangis. Aku berusaha menenangkan dengan sesekali mengelus bahu Janda Tua itu. Di umur 50 tahun masih tetap bekerja mengurus rumah dan menjaga Nanda sampai aku pulang mengajar. Jika pekerjaan rumah sudah selesai dan aku sudah bisa memegang Putra, sore pamit pulang.
"Melihat perasaan anak hancur didepan mata sakit hati saya sebagai ibu, dan mengizinkannya pergi menjadi Tenaga Kerja Wanita ke Arab. Berat hati melepaskan, tapi kedua anaknya sudah harus memiliki biaya untuk sekolah." Bergoyang bahu ringkihnya, Semakin deras air mata wanita tua ini mengingat kemalangan anaknya.
" Di awal-awal bulan masih mengirim uang untuk anaknya kemudian tiada kabar berita sampai hilang akal seluruh keluarga mencari. Setelah beberapa bulan kemudian, datang kabar berita mengagetkan bahwa anak saya membunuh majikannya" dengan tangis yang makin deras dan pilu, sesekali tangannya meremas dan memukul-mukul dadanya.
Nafasnya terlihat tidak beraturan, buru-buru aku mengisi gelas kosong bekas tadi minum obat lalu memberikannya.
"Tidak mungkin! Dulu Anak saya selalu disiksa suaminya, mana mungkin sanggup membunuh majikan jika memang tidak dalam keadaan taruhan nyawa." Meraung meminta pembenaran dengan sorot mata tajam memandangku agar mempercayainya.
Pikiranku melayang pada berita Satinah yang sedang ramai saat ini. Baru tersadar kemiripan Satinah dengan Janda Tua pengasuh anakku.
Isak tangis lambat laun terdengar sayup sayup kalah oleh lamunanku. Teringat kembali sakit kepala yang tak kunjung sembuh, bolak balik rumah sakit, serangkaian test laboratorium dan obat-obatan yang sangat banyak.
Masalah di dalam keluarga besar, membuat mamah meminta pendapatku untuk berhenti mengawasi pengasuh dan menunggu Nanda di rumah saat aku mengajar.
Pertengkaran dengan suami yang selalu memintaku untuk berhenti dari hobby menulis yang sudah sejak kecil aku tekuni.
Kalau memang semua aktifitas yang aku kerjakan adalah penyebab sakit yang diderita tentu aku akan memahaminya jika ditunjang dengan hasil laboratorium dan analisa dokter.
Rasa sangsi akan bisa menjalani kehidupanku tanpa menulis yang sudah menyatu dalam diri. Mengajar adalah panggilan hati untuk menjadi pendidik penerus bangsa.
Aku melihat berita Satinah yang berjuang demi keluarga, tetap tegar dengan banyak cobaan bahkan tidak runtuh semangatnya. Surat Satinah yang ditujukan pada keluarganya agar anak-anaknya dinikahkan jika menemukan tambatan hati tanpa kehadirannya sebagai ibu. Satu tanda semangat terakhir yang ingin ditujukan pada anak-anaknya. Kekuatan seorang ibu di saat-saat terakhirnya.
Aku akan tetap berkarya, menjadi pendidik, istri dan ibu bagi anakku. Semua penyakit ada bersama obatnya dan Allah mencintai umat Nya dengan ujian. Aku akan menjadi seorang yang tangguh, sabar dan tawakal menghadapi semua ujian ini.
Aku niatkan untuk meminta maaf pada suami yang sudah sangat mengkhawatirkanku. Semoga ada cara yang lebih baik untuk membuatnya mengerti bahwa aku mencintai keluarga tapi juga tidak bisa melepaskan cita-citaku.
Aku mencoba menenangkan Janda Tua ini yang akan kehilangan anaknya dan kubiarkan ia pulang lebih awal untuk mencari kabar kelanjutan berita Satinah.
Kalender di kamar terlihat ditandai dengan spidol merah, dengan kaget saat kulihat besok tanggal 9 April 2014. Hari Jadi Pernikahanku yang ketiga hampir kulupakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar